Sakitnya Bapak

Sabtu dinihari, Bapak masuk rumah sakit. Kata dokter, ada titik di otak kanannya, hemoglobinnya tinggi. Bapak mengalami stroke ringan. Tangan dan kaki sebelah kiri berat digerakkan. Bicara Bapak sedikit cadel. Ibu mengabari anak-anaknya. Alhamdulillah Sabtu siang, saya dan adik sudah merawat dan menemani Bapak di Tegal.

Kondisinya alhamdulillah membaik sekarang. Beberapa jari kakinya sudah bisa digerakkan. Kaki dan tangannya sudah mulai berkeringat dan hangat, tanda bahwa darah sudah mulai mengalir.

Yang membuat saya terharu adalah keinginan Bapak ketika kerabat, kolega, tetangga datang menjenguk; Bapak selalu minta didoakan segera sembuh supaya bisa bermanfaat bagi orang lain. Lafal doa dan amin yang tidak henti dari para penjenguk meruntuhkan air mata saya.

Bapak, insya Allah, orang baik. Saya melihatnya dari tatapan mata dan isak tangis para penjenguknya. Dan semua yang hadir, selalu ikut mendoakan, semoga beliau bisa sehat kembali, sehingga bisa mengisi pengajian lagi, aktif di Muhammadiyah lagi, juga meramaikan kembali masjid dekat rumah Bapak.

Mewakili beliau, atas segala kekurangan dan kesalahan beliau selaku manusia biasa, saya mohon dibukakan pintu maafnya. Juga mohon didoakan untuk kesembuhan beliau yang diberkahi gusti Allah. Aamiin…

Advertisements

Jatah Rezeki

Di suatu acara kantor, ketika disajikan makanan yang dipesan bersama-sama, salah seorang rekan kerja berujar, bahwa makanan itu tidak bisa dimakannya. Lebih tepatnya, makanan itu termasuk dalam jenis makanan yang dilarang oleh dokter karena sakitnya.

Padahal, makanan itu sudah terhidang di depannya. Tinggal dimakan saja. Tapi karena belum rezekinya, makanan itu sebatas dilihat oleh mata.

Ulama-ulama terdahulu menyampaikan bahwa rezeki itu terbagi 3: yang dimakan hingga habis, yang dipakai hingga lusuh, yang disedekahkan untuk akhirat.

Jadi, kalau saya saat ini bekerja, berdagang, kemudian dapat gaji, untung, belum tentu itu rezeki saya. Bisa jadi harta waris karena belum sempat dipakai, saya sudah meninggal lebih dulu.

Pemahaman ini perlu saya ingat betul, supaya saya tidak salah memahami arti rezeki. Kecukupan saya sebagai manusia hanya selebar mulut dan usus. Yang menuntut lebih dan lebih adalah nafsunya.

Sertifikasi SKKNI

Saya membantu mempublikasikan program sertifikasi berbasis SKKNI dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, untuk wilayah Pekalongan dan sekitarnya, 11-13 Juli 2017. Detailnya dapat dilihat di gambar dan informasi berikut ini.

Sertifikasi berbasis SKKNI bagi angkatan kerja muda lulusan SMK/D1/D2/D3 yang belum bekerja dengan usia maksimal 25 tahun.

Bagi yang berminat agar mendaftar ke https://litprofinformatika.kominfo.go.id/ untuk diseleksi terlebih dulu.

Setelah dinyatakan lulus seleksi, akan mengikuti ujian sertifikasi secara gratis selama 3 hari 2 malam dengan fasilitas penginapan, konsumsi, uang saku, transport lokal dan sertifikat kehadiran, serta sertifikat kelulusan bagi yang lulus ujian tersebut.

Ke Sekolah

Rabu kemarin, 14 Juni 2017, Afifah terima raport. Jadi, Afifah setahun ini kami sekolahkan di playgroup di daerah Kademangan, Tangerang Selatan. Saya menyengaja izin datang terlambat ke kantor untuk mengambil raport tersebut. Istri juga begitu. Namun, karena kondisi Afifah sedang kurang fit, istri menemani anak di rumah.

Di ruang kelas, hanya saya yang laki-laki. Guru dan orang tua yang menunggu semuanya perempuan. Ada bapak-bapak, yang saya lihat hanya sebatas mengantar di luar pagar sekolah. Saya pribadi antusias dengan setiap kegiatan sekolah Afifah. Yang saya pahami, anak itu tanggung jawab ayahnya. Kedua orang tua memang bekerja sama dalam mendidik dan mengasuh anak. Namun, letak pertanggungjawabannya ada di pundak sang ayah.

Saya sering ngobrol dan diingatkan oleh istri tentang betapa ayah punya peran penting dalam perkembangan anak, khususnya yang masih balita. Anak belajar kemandirian, ketegasan, kemaskulinan dari sosok ayahnya. Karena itulah, mohon maaf, generasi sekarang yang tumbuh tanpa peran aktif ayahnya, jadi generasi yang mudah goyah dan lemah.

Memang sekedar ambil raport. Itupun maksimal dua kali setahun. Saya berprasangka baik, para ayah sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan sehingga tidak dapat hadir ke sekolah. Bukan sedang memandang remeh ansich hanya ambil raport, yang diserahkan kepada para ibu. Pada momen-momen inilah, anak akan mencatat bahwa ayahnya bertanggung jawab terhadap pendidikannya.

Sempurna Menyeluruh

Keluarga saya terdaftar sebagai pemilih di Pilkada Jakarta. Kami, saya dan istri, telah menggunakan hak pilihnya pada tengah Februari lalu. Besok, adalah hari penentuannya, siapa yang akan terpilih sebagai pemimpin Jakarta.

Kami memahami bahwa Islam yang kami jadikan jalan hidup, adalah aturan yang sempurna dan menyeluruh. Sempurna karena memang ajarannya tak ada cela. Menyeluruh karena di setiap bagian hidup, ada aturan agama yang mengatur. Mulai dari hal remeh di kamar mandi, sampai dengan urusan-urusan besar dalam bermasyarakat.

Berbekal keyakinan itulah, kami memilih tempat tinggal, memilih pendidikan yang tepat bagi anak, maksimal dalam bekerja, berumah tangga, bertenggang rasa dalam bertetangga, juga memilih siapa yang menjadi pemimpin. Islam menjadi payung besar. Adalah keliru besar jika muslim, mendefinisikan Islam terbatas di masjid dan pengajian. Pemahaman seperti ini akan menjadikan hidupnya bimbang dan keliru arah karena mengikuti pedoman yang tidak sesuai fitrahnya.

Apapun yang terjadi dalam kehidupan, termasuk gubernur DKI besok, sebatas usaha kita mengikhtiyarkan maksimal. Gusti Allah sudah menetapkannya. Yang justru harus dikhawatirkan adalah, apakah dalam setiap langkah, sikap, dan pilihan hidup yang kita ambil, mengikuti yang Gusti Allah sudah atur, atau justru bertentangan dengan itu.