Ke Sekolah

Rabu kemarin, 14 Juni 2017, Afifah terima raport. Jadi, Afifah setahun ini kami sekolahkan di playgroup di daerah Kademangan, Tangerang Selatan. Saya menyengaja izin datang terlambat ke kantor untuk mengambil raport tersebut. Istri juga begitu. Namun, karena kondisi Afifah sedang kurang fit, istri menemani anak di rumah.

Di ruang kelas, hanya saya yang laki-laki. Guru dan orang tua yang menunggu semuanya perempuan. Ada bapak-bapak, yang saya lihat hanya sebatas mengantar di luar pagar sekolah. Saya pribadi antusias dengan setiap kegiatan sekolah Afifah. Yang saya pahami, anak itu tanggung jawab ayahnya. Kedua orang tua memang bekerja sama dalam mendidik dan mengasuh anak. Namun, letak pertanggungjawabannya ada di pundak sang ayah.

Saya sering ngobrol dan diingatkan oleh istri tentang betapa ayah punya peran penting dalam perkembangan anak, khususnya yang masih balita. Anak belajar kemandirian, ketegasan, kemaskulinan dari sosok ayahnya. Karena itulah, mohon maaf, generasi sekarang yang tumbuh tanpa peran aktif ayahnya, jadi generasi yang mudah goyah dan lemah.

Memang sekedar ambil raport. Itupun maksimal dua kali setahun. Saya berprasangka baik, para ayah sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan sehingga tidak dapat hadir ke sekolah. Bukan sedang memandang remeh ansich hanya ambil raport, yang diserahkan kepada para ibu. Pada momen-momen inilah, anak akan mencatat bahwa ayahnya bertanggung jawab terhadap pendidikannya.

Sempurna Menyeluruh

Keluarga saya terdaftar sebagai pemilih di Pilkada Jakarta. Kami, saya dan istri, telah menggunakan hak pilihnya pada tengah Februari lalu. Besok, adalah hari penentuannya, siapa yang akan terpilih sebagai pemimpin Jakarta.

Kami memahami bahwa Islam yang kami jadikan jalan hidup, adalah aturan yang sempurna dan menyeluruh. Sempurna karena memang ajarannya tak ada cela. Menyeluruh karena di setiap bagian hidup, ada aturan agama yang mengatur. Mulai dari hal remeh di kamar mandi, sampai dengan urusan-urusan besar dalam bermasyarakat.

Berbekal keyakinan itulah, kami memilih tempat tinggal, memilih pendidikan yang tepat bagi anak, maksimal dalam bekerja, berumah tangga, bertenggang rasa dalam bertetangga, juga memilih siapa yang menjadi pemimpin. Islam menjadi payung besar. Adalah keliru besar jika muslim, mendefinisikan Islam terbatas di masjid dan pengajian. Pemahaman seperti ini akan menjadikan hidupnya bimbang dan keliru arah karena mengikuti pedoman yang tidak sesuai fitrahnya.

Apapun yang terjadi dalam kehidupan, termasuk gubernur DKI besok, sebatas usaha kita mengikhtiyarkan maksimal. Gusti Allah sudah menetapkannya. Yang justru harus dikhawatirkan adalah, apakah dalam setiap langkah, sikap, dan pilihan hidup yang kita ambil, mengikuti yang Gusti Allah sudah atur, atau justru bertentangan dengan itu.

Bersiap Pulang

Ini berita yang sangat mendadak di grup alumni SMA 1 Tegal 2004 malam kemarin. Salah satu sahabat kami, mbak Uswatun Hasanah, atau mbak Uus, meninggal dunia. Benar-benar tidak ada kabar sakit parah yang diopname dan sebagainya.

Saya pribadi mengenal beliau sejak SMA. Kami pernah sekelas di 3 IPA 3. Meskipun sekelas hanya setahun, saya tahu beliau banyak. Mbak Uus ini salah satu siswa berprestasi sejak kelas 1. Pada masa-masa saya masih semangat mengejar ranking, mbak Uus adalah salah satu kompetitor. Teman-teman sering meminjam PRnya sebagai contekan 😀 Beliau juga aktif di kegiatan OSIS dan Rohis. Di berbagai kepanitiaan OSIS, saya sering menemukan nama beliau sebagai panitia.

Saya tidak paham aktivitas kampusnya karena kami berbeda kampus. Beliau melanjutkan di Undip. Yang saya ingat, beliau pernah menjadi pengurus Beasiswa Etos Undip, dan mengundang saya sebagai pemateri di salah satu acaranya. Itu tahun 2009. Dan terakhir saya tahu beliau Cuti di Luar Tanggungan Negara di PNS Pemkot Tegal, mendampingi suaminya bekerja.

Saya menyaksikan sendiri, beliau orang yang bersahaja, punya komitmen tinggi dalam da’wah Islam. Insya Allah kumpulan amal beliau bisa menjadi pemberat timbangan kebaikannya di akhirat. Semoga Allah jaga pula suami dan 2 anaknya yang masih kecil.

Peristiwa ini mengusik saya lagi, apa iya kalo sekarang saya mati, pulang ke rumah saya sebenarnya, saya sudah punya banyak bekal baik?

Jakarta (un)Fair

Saya sudah 1 tahun ini memperhatikan video dari Watchdoc. Menurut saya, videonya artistik, juga ada pesan yang disampaikan. Melalui video Jakarta (un)Fair, saya jadi paham, oh ada fakta lain tentang arogansi gusur-gusuran di Jakarta 2 tahun terakhir ini. Ada warga menunggak biaya sewa rusun, yang biayanya tak seberapa tapi mereka tetap tak mampu. Ada warga yang kehilangan mata pencahariannya. Ada nilai-nilai kebersamaan yang terkikis karena pindah ke rusun. Ada banyak hal yang tertutupi riuhnya media sosial, keberpihakan media ekstrim, dan jumudnya fanatisme publik. Selamat menyaksikan.

Seteguk Air

As Sammak, seorang ‘Alim sahabat Harun Ar Rasyid mengunjungi Sang Khalifah. Saat Harun merasa haus, dimintanyalah minuman kepada pelayan. Segelas air dingin pun dihidangkan.

Ketika dia mengangkat gelasnya untuk minum, As Sammak menahan tangannya. “Tunggu sebentar ya Amiral Mukminin”, ujarnya. “Jika seseorang atau satu hal menghalangimu dari meminum air ini di saat puncak kehausanmu dengan meminta tebusan darimu, berapa kau akan membayarnya?” “Separuh kerajaanku.” Berapa besarkah itu? Kerajaan Harun Ar Rasyid membentang dari perbatasan Gurun Gobi hingga Gurun Sahara, dari Lembah Sungai Indus hingga hulu Sungai Nil, dari Laut Hitam hingga Laut Arab. “Minumlah”, ujar As Sammak, “Semoga Allah memberkahimu.” Harun pun meneguk isi gelasnya dengan nikmat.

“Lalu jika air yang sudah kauminum ternyata tertahan dalam tubuh dan sama sekali tak dapat keluar, berapa kau akan menebusnya?” “Dengan seluruh kerajaanku”, desah Harun. “Jika separuh kerajaanmu bernilai hanya seteguk air, dan seluruh kekuasaanmu hanya senilai setumpahan kencing… Aku takjub pada orang-orang yang ingin memperebutkannya”, pungkas As Sammak.

Mendengarnya, Harun Ar Rasyid menangis tersedu-sedu.

dikutip dari tulisan ustadz Salim A Fillah