Artikel Oktober 06

Berlebaran atau ber-’Idul Fitri?

Entah berapa kali kita telah melewati Ramadhan dalam masa hidup kita sampai sekarang. Dari awal masih kecil ketika kita masih belum paham benar tentang Ramadhan. Kemudian, menginjak baligh orang tua melatih kita untuk berpuasa penuh selama satu hari. Saat ini tentunya sebagai seorang muslim yang sudah baligh dan berakal, kewajiban puasa telah bisa penuh dilaksanakan.

Yang menarik terjadi di negeri kita adalah fenomena satu Syawal. Jutaan orang bersama-sama mempersiapkan diri dengan berbelanja di pasar ataupun supermarket. Barang yang dibeli pun bervariasi, dari pakaian untuk keluarga, ketupat sayur, hingga kue-kue seperti nastar. Inilah rutinitas hampir seluruh muslim Indonesia. Tidak hanya menimpa orang-orang yang mampu secara ekonomi, tetapi juga mereka yang ada di kalangan bawah. Mereka pun tidak ingin ketinggalan dalam merayakan hari istimewa itu. Diusahakanlah segala upaya agar bisa turut larut, menjadi bagian dari kecitaan massal. Inilah fenomena lebaran.

Pernyataan besarnya adalah apakah memang demikian yang dituntunkan oleh Islam ketika memasuki satu Syawal? Satu syawal adalah hari sukacita dan dukacita muslim yang telah melaksanakan Ramadhan secara maksimal. Mereka gembira karena inilah saatnya mereka menjadi orang yang kembali suci setelah menempuh proses madrasah terbesar. Dosa-dosa mereka diampuni dan kualitas serta kuantitas ibadahnya meningkat. Mereka bersedih karena meninggalkan bulan yang sangat mulia. Bulan istimewa yang dicintai Allah SWT. Satu syawal seharusnya menjadi momentum untuk perbaikan dan peningkatan kualitas amal pada masa-masa mendatang. Inilah waktu untuk mengukur keberhasilan Ramadhan kita dan apakah akan ada perubahan dalam hidup kita nantinya.

Inilah hakikat satu Syawal sesungguhnya, menjadi manusia yang fitrah, ‘Idul Fitri. Bukan berarti tidak boleh merayakan ‘Idul Fitri seperti yang terjadi saat ini. Permasalahannya adalah konsep fundamentalnya belum bisa kita hayati dan dilaksanakan sepenuhnya. Bukti kongkretnya bisa kita lihat di lingkungan. Pasca Ramadhan tingkah laku dan sikap sebagian besar masyarakat yang menjalani Ramadhan tidak berubah dibandingkan sebelum Ramadhan. Meskipun Ramadhan rutin terjadi, korupsi masih membudaya, kesenjangan belum bisa hilang, anak yatim dan orang miskin bertambah jumlahnya, dan kesejahteraan bagi rakyat masih jauh panggang dari api. Belum lagi masih rentannya konflik horizontal karena masih sensitifnya kita dengan perbedaan-perbedaan yang ada.

Maka, revisi awal yang harus dilakukan supaya pasca Ramadhan bisa muncul perubahan adalah perubahan mental berpikir. Sikap seseorang ketika meninggalkan Ramadhan dipengaruhi perspektifnya dalam menyikapi Ramadhan. Paling tidak ada dua makna pokok yang harusnya kita tanamkan dalam Ramadhan. Pertama, adalah pemahaman bahwa Ramadhan adalah waktu peningkatan ibadah. Inilah saatnya untuk memperbanyak amal kebaikan karena Allah telah menjanjikan balasan yang berlipat. Jadi, sangatlah keliru kalau kita memahami Ramadhan hanya sebagai bulan berpuasa. Padahal, berpuasa yang dipenuhi berdusta, menggunjing, terlalu banyak bercanda dan tidur bisa mengurangi pahala puasa. Jadi, amalan ibadah yang kita lakukan juga bisa kita ambil esensinya. Puasa sebagai pengendali hawa nafsu dan pelatih kejujuran, shalat untuk bisa menjaga diri dari perbuatan maksiat, serta shadaqah atau zakat sebagai pelatih sense of charity. Selepas Ramadhan, amalan-amalan yang telah diperbuat insya Allah bisa mengakar, bukan lenyap tak berbekas.

Kedua, memahami benar bahwa Ramadhan sebagai bulan taubat. Allah telah mendesain Ramadhan untuk melebur dosa bagi setiap muslim. Rasul bersabda barangsiapa berpuasa ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya ia diampuni dosanya yang telah lalu (Muttafaq ‘Alaih). Salah satu syarat taubat itu diterima oleh Allah adalah tidak akan mengulanginya lagi. Apabila hal tersebut tidak terpenuhi maka taubatnya tidak sah. Mereka yang memahami benar makna kedua ini akan mengurangi begitu banyak kebobrokan di negeri ini karena rasa takut taubatnya ditolak oleh Allah SWT.

Kedua konsep inilah yang belum dipahami oleh sebagian besar muslim negeri ini. Orientasi yang terbentuk hanya memahami Ramadhan sebagai rutinitas berpuasa sebagaimana telah disebutkan di awal. Akhirnya pengisian Ramadhan hanya dimaknai sebagai tidak makan dari Subuh hingga azan Maghrib berkumandang. Entah apa yang harusnya dilakukan dalam interval waktu tersebut tidak diperhatikan.

Dengan demikian, ketika Ramadhan usai, yang menjadi fokus bukanlah penjagaan dan peningkatan amal yang telah dilakukan ketika Ramadhan. Malah bersenang-senang seakan terbebas dari belenggu keterkungkungan selama berpuasa. Ini bukan khayalan, bukan pula gurauan, melainkan benar-benar terjadi di lingkungan kita, atau bahkan kita sendiri pelakunya. Wallahu ‘alam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s