Pacaran nih ye…..

Pacaran dalam Pandangan Seorang Calon Ekonom
* dikutip dari tulisan Zulhanief Matsani, ekonom syariah Islam dunia 2020

Pengantar

Seorang ulama, cendikiawan, dan juga ekonom muslim-Ibnu Khaldun pernah menulis dalam bukunya “Muqaddimah” bahwa bangsa-bangsa yang kalah cenderung untuk mengekor bangsa-bangsa yang menang. Sudah sunnatullah memang. Mulai dari zaman kekhalifahan Islam berjaya, maka bangsa barat –baca:Eropa- dengan gigihnya mengambil dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari umat Islam. Tidak hanya ilmu saja, kebudayaan, teknologi, sampai konsep-konsep ekonomi politik mereka gali banyak-banyak dari kebudayaan Islam yang “menang” waktu itu.


Pun yang terjadi sekarang. Ketika umat Islam sudah sedemikian terbelakangnya dan bangsa barat sedang di puncak kejayaannya, maka secara alamiah umat Islam juga berusaha mengekor bangsa barat sebagai hasil dari teori Ibnu Khaldun tadi. Yang menjadi perbedaan, bangsa barat ketika masa kejayaan Islam mencontoh berbagai hal yang memang secara substansi baik dan kebalikannya yang terjadi sekarang, umat Islam mencontoh berbagai hal dari bangsa barat yang secara substansi tidak cocok dengan umat Islam dan teori-teori yang bangsa barat ciptakan sendiri.

Pacaran vs Teori dan Konsep Ekonomi Barat

Contoh yang ingin saya angkat di sini adalah tentang pacaran. Sebelum memulai pembahasan, maka pendefinisian tentang pacaran itu sendiri saya serahkan pada yang membaca artikel ini sendiri. Yang jelas, dalam substansinya berarti adanya pengenalan karakter berlebihan satu sama lain.

Selanjutnya hal ini akan membawa banyak gerbong pengaruh di belakangnya. Mulai dari perjanjian yang tidak jelas bernama “jadian”, komitmen untuk menyediakan waktu bersama, sampai ingin tahu dan mungkin serba ingin tahu apa yang dilakukan olehnya.

Dari penjabaran paragraf di atas, maka akan ada akibat yang harus ditanggung ketika menjalani hal tersebut. Dari sudut ekonomi dapat dijelaskan bahwa ternyata kerugian yang ada lebih besar daripada manfaat atau keuntungan yang diperoleh. Untuk memperkuat alasan tersebut, saya akan

mencoba menjelaskan dari beberapa konsep ekonomi populer yang merujuk pada teori-teori ekonomi barat yang mudah-mudahan dapat dimengerti pembacanya. Mengapa harus dari konsep ekonomi barat? Kaitannya dengan pendahuluan di atas, setidaknya penulis ingin membuktikan bahwa bukan hanya hal-hal yang secara substansial jelek yang kita tiru dari ‘bangsa yang menang’, tetapi juga hal-hal yang baiknya yang sering terlupakan oleh kita sendiri.

1. High cost-economy (ekonomi biaya tinggi)

Pernah mendengar istilah ini? Yang jelas negara kita sangat terkenal dengan konsep ekonomi biaya tinggi ini. Ekonomi biaya tinggi dapat lebih mudah dijelaskan lewat contoh. Ketika seseorang ingin memulai usaha atau bisnis baru, maka banyak hal yang perlu dipersiapkan. Mulai dari izin pendirian, legalisasi nama perusahaan, pengurusan administrasi, dan lain-lain.

Sayangnya, dalam konsep ekonomi biaya tinggi tersebut, ternyata investasi yang dikeluarkan untuk keperluan investasi itu sendiri dengan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan investasi itu sendiri, hampir sama. Bahkan bias jadi item biaya-biaya tersebut lebih besar daripada nilai investasi bersihnya. Begitu juga dengan pacaran. Ketika seseorang memutuskan untuk melakukan hal tersebut, maka secara otomatis akan banyak yang dikorbankan dibandingkan dengan tujuan utama yang dia peroleh. Misalnya tujuan utamanya adalah untuk memperoleh ketenangan jiwa semu, coba-coba, atau yang lebih parah lagi, sebagai sebuah kebanggaan, maka tujuan-tujuan tersebut rasanya akan lebih kecil nilainya dibandingkan dengan pengorbanan-pengorbanan yang harus dia lakukan.

Mulai dari pengorbanan yang terkecil, sms-an atau sering berhubungan lewat telepon. Coba hitung, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk hal tersebut yang mestinya bisa kita manfaatkan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Belum lagi ketika ‘jalan bareng’, ‘makan bareng’, dan lainlainnya yang merupakan sebuah prosesi lazim dalam pacaran. Apalagi jika ternyata jarak yang harus ditempuh untuk melakukan hal tersebut sangat jauh. Berapa beban transportasi yang harus ditanggung. Hal ini akan makin membebani, ketika ternyata mereka tidak mempunyai ‘income’ yang dapat diusahakan mandiri. Ah, sebuah praktek bukan saja high cost-economy tapi bisa saja menjadi very very high cost-economy. Kesimpulan pembahasan point ini-maka, benarlah ketika konsep ekonomi biaya tinggi cocok untuk menjelaskan hal tersebut. Ditambah pula dengan tujuan positif yang harus dicapai pun ternyata sangat tidak pasti bias diperoleh.

2. Law of Diminishing return (Hukum kepuasan yang selalu menurun)

Ketika kita sangat haus, maka segelas air putih akan terasa begitu nikmat dan memberi kepuasan yang tinggi. Begitu juga ketika ditambah satu gelas lagi –yang berarti kita meminum dua gelas- maka rasa nikmat tersebut makin tinggi saja. Bagaimana kalau ditambah satu gelas lagi – kita meminum tiga gelas air putih-. Yang terjadi selanjutnya mungkin saja gelas ketiga yang kita minum hanya memberi kepuasan yang lebih sedikit dari gelas pertama dan kedua yang kita minum. Apalagi jika kita memaksakan untuk menambah minum lagi dengan gelas yang keempat. Maka rasanya kita sudah tidak ingin meminum segelas air putih itu lagi. Hal yang sama juga akan terjadi ketika pembinaan hubungan lawan jenis tidak disikapi dengan baik. Frekuensi komunikasi dan pertemuan yang sangat intens menjadikan hilangnya makna ketika hubungan tersebut sudah ‘sah secara perjanjian agama dan negara’. Terinspirasi buku “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” karya Salim A. Fillah, jangan-jangan ketika proses tersebut telah sah, tidak ada lagi jantung yang berdetak lebih keras ketika memandang, atau keringat nervous yang muncul ketika berpegangan tangan, dan seterusnya yang bisa pembaca lanjutkan sendiri.

Intinya, jangan-jangan atau pastinya – proses pacaran tersebut alih-alih menurunkan nilai ketika kita memasuki kehidupan semacam itu dalam bingkaiyang serius kelak. Nilainya (nilai kepuasannya) malahan bisa secara ekstrem turun ke zero point jika dilanjutkan sampai ke batasan yang di luar batas.

3. Konsep Anuitas Bunga {rumus : (m+b)t } 1

Terlepas dari tidak dihalalkannya konsep anuitas bunga dalam ekonomi syariah, setidaknya konsep anuitas ini dapat bermanfaat menerangkan pembahasan yang kita perlukan ini. Anuitas mengandung pengertian pelipatan secara berpangkat terhadap modal pokok yang ditambahkan dengan bunganya. Pelipatan ini terjadi karena adanya koefisien waktu. Semakin lama waktu seseorang meminjamkan modal pokoknya, maka total pembayaran yang akan dia dapatkan kembali pun akan semakin besar. Besarannya tidak bertambah secara linear, tetapi secara kuadratis. Jadi bayangkan saja jika kita terjadi penundaan pembayaran selama satu satuan waktu (t). Maka total pembayaran yang akan didapatkan pun akan berlipat.

Faktor waktu, itulah titik kunci dari untuk menuju kepada pembayaran modal pokok + bunga yang menguntungkan. Jika dikaitkan dengan pacaran, maka modal pokok dapat kita samakan dengan pengorbanan yang harus kita keluarkan; bunga bisa saja diidentikkan dengan tambahan kepuasan batin yang diperoleh; dan waktu pembayaran / jatuh tempo didefinisikan sebagai titik waktu dimulainya “hubungan yang sah secara agama dan negara”.

Selanjutnya, jika seseorang memaksakan untuk mempercepat pembayaran bunga sebelum tanggal jatuh tempo yang telah ditentukan, yang terjadi jelas sebuah kerugian finansial. Misalnya, pembayaran hutang piutang tersebut normalnya dilaksanakan 2 tahun, tapi karena seseorang yang mempunyai piutang tidak sabar untuk segera menikmati hasilnya, maka ia memaksa pihak berhutang untuk mengembalikannya dalam 1 tahun. Akibat selanjutnya bisa ditebak. Pembayaran yang ia dapatkan tidak maksimal sesuai dengan target yang ia tetapkan sebelumnya.

Hubungannya dengan pacaran, jika seseorang memaksakan diri untuk menjalani proses tersebut berarti ia juga telah memaksa pihak lain untuk memberikan ‘total pembayarannya’ sebelum jatuh tempo yang sesungguhnya. Akibat logisnya, semua yang ia terima secara otomatis akan berkurang. Atau dengan kata lain berarti tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Mungkin ada hal-hal yang kurang maksimal yang seharusnya bisa mereka dapatkan tanpa melalui proses pacaran tersebut. Sebut sajalah perhatiannya, ketulusannya, pengorbanannya, sampai pada -maaf- cinta serta kasih sayangnya mungkin tidak seperti yang kita harapkan karena memang pembayarannya telah dilakukan terlebih dahulu ketika proses pacaran itu.

Penutup

Setelah begitu panjang lebar menulis hal-hal yang kelihatannya aneh, maka sampailah kita pada kesimpulannya. Setidaknya dari pembahasan yang agak aneh di atas, akan muncul sebuah keyakinan, tekad, dan azzam (keinginan) yang kuat-paling tidak dari pribadi masing-masing untuk mulai menjauhkan diri dari hal-hal sedemikian di atas.

Lebih jauh, dalam kaitannya dengan konteks pribadi muslim, kita sangat diharapkan menjadi orang-orang mempunyai prinsip dan keyakinan hidup yang kuat dari segala bentuk proses imitasi budaya yang tidak jelas tersebut. Bukankah Islam bangga pada para pemudanya. Dan tentulah kebanggaan itu bukan muncul untuk mereka-mereka yang hanya ikut-ikutan mengikuti sesuatu hal yang mereka-mereka sendiri tidak memiliki pengetahuan tentangnya bukan?

sebagai sebuah janji kepada teman

Advertisements

4 thoughts on “Pacaran nih ye…..

  1. Tidak semua hal-hal didunia bisa dihitung dengan angka-angka matematika karena ada hal yang bersifat kualitas dan ada hal yang bersifat kuantitas. Pacaran bukanlah matematika. Sudut pandang pacaran mungkin hanyalah saling mengenal kalau memang yang bersangkutan mempunyai niat untuk pernikahan artinya punya niat ke arah yang lebih serius yang tentunya tetap dibatasi oleh koridor Agama, sopan santun dan tentunya Alloh SWT sang maha pencipta.

  2. Memang tidak semua hal di dunia bisa dikalkulasi atau dianalogikan dengan teori ilmu pasti. Ini hanya sebuah pemikiran atas suatu fenomena yang dikorelasikan dengan landasan teori yang sudah ada, tanpa bermaksud mengintervensi opini pribadi. Karena kita sama-sama bisa melihat bahwa yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil. Bukan dengan mata biasa tentunya, tetapi dengan mata hati.

  3. Hiks hiks, ini bundel artikel yang diberikan pada ane sebelum berangkat. saat ini yang terbukti adalah diminishing return terhadap wanita. Di sini begitu mudahnya aurat terlihat, jadi jika melihat ada orang indonesia yang kebarat-baratan jadi jengah melihatnya. tapi seorang akhwat berjilbab yang melintas, utilitas yang didapat lebih dari case pertama, meski hanya wajah yang terlihat

  4. Sebuah argumentasi yang cukup bagus akh untuk para ekonom.

    Untuk law of deminishin returnnya, mungkin bisa dijelaskan juga kenapa pacaran oleh islam termasuk kategori mendekati zina dan haram: “Janganlah engkau mendekati zina”.

    Di awalnya cukup sms-an sudah puas, lalu karena seringnya kepuasan sms-an lama-lama hilang. Setelah itu harus telponan baru puas, lalu karena seringnya kepuasan menelpon hilang. Setelah itu harus ketemuan baru puas, lalu karena seringnya kepuasan ketemuan hilang. Lalu ketemuan+pegangan, lalu pegangan+pelukan, lalu pelukan+ah.. begitulah. Lama-lama akan jatuh pada lembah kenistaan juga.

    Ingat prinsip kodok rebus? Begitulah syaitan me’rebus’ kita dengan langkah-langkahnya.

    So.. jelas pacaran itu dosa! Jadi, tinggalkanlah. Berikan informasi kepada teman-teman yang lain juga untuk meninggalkannya. Agar tercipta generasi yang mulia dan bermartabat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s