Artikel Maret 2008

Pendidikan Ke-Dipimpin-an


Suatu ketika dalam sebuah obrolan dengan teman, saya pernah mengusulkan untuk mengadakan training menjadi pengikut/masyarakat. Rekan ngobrol saya sontak kaget. Lantas saya jelaskan bahwa yang selama ini ada hanyalah training kepemimpinan. Padahal, dalam suatu sistem kepemimpinan, ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Maka, sangatlah tidak adil ketika kita hanya menekankan kepada salah satu sisinya saja. Ibarat orang bilang, timbangannya berat sebelah!

Hasil dari berbagai macam pelatihan, training, atau apapun namanya yang berujung kepada pembentukan karakter pemimpin, dapat dilihat dari negeri kita ini. Mau tidak mau kita harus mengakui, bahwa negeri ini tidak miskin pemimpin. Ada sekian puluh tokoh yang memiliki karakter pemimpin yang luar biasa. Namun, ketika mereka menjadi pemimpin, ternyata tidak terjadi perubahan signifikan di negeri ini.

Lalu, bersama-sama kita menjustifikasi, bahwa memang belum ada sosok pemimpin yang tepat untuk memimpin negeri ini. Atau di lain waktu, kita membela diri bahwa mereka-mereka yang berada di level elite itu berada pada waktu dan tempat yang tidak tepat. Jadi, siapapun orangnya yang memimpin, pasti akan kesulitan mengatasi berbagai masalah kompleks seperti korupsi, mafia peradilan, dan sebagainya.

Seakan-akan beban mengatasi problem bangsa ini hanya ada di pundak mereka, orang-orang elite secara struktural dan fungsional. Bukankah seharusnya kita selaku masyarakat menginstropeksi dirinya sendiri. Sebenarnya, apa yang sudah kita kontribusikan untuk bangsa ini? Sebatas peran kita sebagai masyarakat, sudahkah kita melaksanakan fungsi kita sebagai masyarakat yang baik? Atau jangan-jangan kita memang tidak memahami definisi masyarakat yang baik?

Tidak perlu mencari definisi yang rumit bagaimana rumusnya menjadi masyarakat yang baik. Menurut saya, paling tidak ada tiga hal yang harus dipenuhi. Pertama adalah setia dengan pemimpinnya. Kemudian, mengawasi pemimpinnya. Terakhir, menjalankan perintah pemimpinnya.

Kesetiaan dengan pemimpin menjadi syarat fundamental dalam pembentukan karakter masyarakat. Ini mungkin tidak terlalu sulit bagi mereka yang sejak awal menjadi pendukung pemimpin ini. Akan tetapi, ini tentu bukan hal mudah bagi mereka yang jagoannya tidak menjadi pemimpin. Atau bagi mereka yang tidak menyukai, dengan alasan tertentu, sosok pemimpinnya. Maka, di level inilah perlu namanya pengorbanan, kata yang sering kali diucapkan tapi begitu sulit dilakukan. Kesetiaan sama artinya dengan tidak melakukan hal-hal yang merongrong keadaan, menciptakan instabilitas, atau melahirkan propaganda penelikungan. Akan tetapi, jangan sampai kemudian masyarakat terjebak kepada ke-taqlid-an, suatu kesetiaan yang tidak dilandasi dengan rasionalitas pemikiran.

Oleh karena itulah, masih ada tahap berikutnya yang harus dilalui untuk menjadi masyarakat yang baik. Ia harus mengawasi segala tindak-tanduk pemimpinnya, dari mulai sikap kesehariannya hingga menyangkut kebijakan publik yang dikeluarkannya. Dalam konteks ini, masyarakat tidak berada dalam perspektif mencari kesalahan orang kemudian menelanjanginya di depan publik. Paradigma mengawasi harus ditempatkan dalam konteks sebenarnya yaitu mengingatkan atas kekeliruan atau kekhilafan yang dilakukan oleh para pemimpin. Mengawasi boleh saja diterjemahkan dengan memberikan saran, menyampaikan kritik, bahkan dengan memberikan dukungan. Akan tetapi, harus diingat bahwa semuanya itu harus disampaikan melalui prosedur yang tidak melanggar etika.

Kedua hal di atas akan menjadi sia-sia tatkala masyarakat mengabaikan perintah pemimpinnya. Jika demikian, untuk apa ada pemimpin ketika keberadaan mereka tidak diakui, ketika kebijakannya dianggap sekilas angin lalu, ketika keputusannya tidak lagi diikuti? Masyarakat yang baik akan paripurna kewajibannya ketika mereka menjalankan perintah pemimpinnya. Inilah bukti nyata komitmen seseorang prajurit kepada panglimanya.

Suatu saat bisa saja terjadi keputusan itu terasa tidak sesuai atau mungkin akan merugikan masyarakat. Oleh karena itulah, kedua mekanisme sebelumnya adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum opsi ini. Atau sangat mungkin, meskipun telah dilalui mekanisme penyaringan aspirasi secara baik, tetap saja ada beberapa golongan yang terlihat seolah dirugikan dengan keputusan itu, dan kita termasuk ke dalam kelompok tersebut. Maka, berlakulah kembali hukum pengorbanan sebagai bentuk kepatuhan terhadap keputusan pemimpin. Sekali lagi, pengorbanan memang sulit dipaparkan dalam alinea kalimat karena memang bukan di situ tempatnya. Ia membumi dalam realita, menyingkirkan ego dan hasrat pribadi. Dan seringkali pengorbanan adalah senjata terakhir yang dimiliki oleh masyarakat, dalam segala bentuk pengejawantahannya.

Menciptakan masyarakat dengan karakteristik tersebut tidak mudah. Ia harus tersistemisasi, layaknya membentuk para pemimpin. Entah dalam konteks kenegaraan, korporasi, bahkan di internal kampus sendiri. Mungkin wacana ini terdengar absurd di tengah hegemoni kapitalisasi, di mana parameter kesuksesan diukur dari seberapa besar materi yang dimiliki dan seberapa lebar diameter kekuasaan seseorang.

Tapi, seperti biasa, saya masih istiqomah dengan ide saya ini, meskipun teman saya tadi merespon dengan menertawakannya. Saya yakin bahwa salah satu akar masalah bangsa ini karena belum adanya sistem untuk mendidik masyarakat menjadi masyarakat yang baik. Sebenarnya problem ini tidak hanya dalam konteks bangsa. Bahkan, dalam lingkup kampus kita pun masih banyak mahasiswa yang belum bisa menjadi mahasiswa yang baik, sesuai dengan kriteria yang saya sebutkan sebelummya.

*dimuat di buletin BEM Fasilkom edisi Mei 2008

Advertisements

3 thoughts on “Artikel Maret 2008

  1. keq dl pernah denger da psikolog pengembangan pribadi, pak Tanadi Santoso klo g salah, sense followership mang g kalah pentingnya dg leadership.
    Klo smua pengennya jadi pemimpin, kapan bs jalan??
    Me=still trying 2 be nice citizen,hehe….

  2. ada comment lucu2

    hmmmm
    follower n leader ya…

    wah wah wah….
    kayaknya saya masuk ke halaman yang ‘tepat’ neh??

    ar rijaalu qowamu ‘ala an nisa…

    kik kik kik…..

    PS:boleh dianggep guyon ato serius. semonggoh mawon…. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s