Artikel April 2008

Televisi dan Seni


Hari Jumat tanggal 9 Mei 2008, tiba-tiba Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengumumkan 10 tayangan siaran televisi bermasalah dan meminta publik untuk mewaspadainya. Kesepuluh program tayangan tersebut mencakup sinetron serial, variety show, dan tayangan anak-anak (detik.com, 9 Mei 2008). Sebenarnya rekomendasi KPI ini tidak mengherankan. Sudah bukan rahasia umum kalau berbagai tayang televisi di negeri ini memiliki banyak masalah. Dari unsur pornografi, kekerasan, hingga jam tayang pemutaran yang tidak mengindahkan pemirsanya.

Dengan dalih acaranya menghibur dan memiliki rating yang tinggi, para produser tidak menghiraukan berbagai protes yang sudah disampaikan oleh lembaga maupun perorangan. Padahal, jika dilakukan kajian lebih mendalam, argumentasi tersebut sangat lemah. Bagaimana dikatakan menghibur jika di setiap seri sinetron selalu disertai dengan kekerasan? Ironisnya pula, definisi menghibur ini diejawantahkan dengan tampilan acara yang pengisinya berpakaian seronok dan diselingi dengan guyonan menjurus porno serta merendahkan orang lain. Jika memang demikian, berarti rendah benar kualitas hiburan bangsa ini. Sungguh memalukan. Kita mengumbar terang-terangan aib sendiri dan lantas bangga dengan aib itu.

Demikian pula dengan klaim rating yang digembor-gemborkan oleh stasiun televisi. Apakah memang sudah terbukti validitas rating tersebut? Ataukah rating tersebut hanya permainan dari pihak televisi, pemasang iklan dan lembaga rating belaka? Harus diakui memang selama ini tidak pernah ada verifikasi, baik dari pemerintah maupun masyarakat tentang lembaga rating itu sendiri. Hasilnya, institusi ini merajalela, melakukan berbagai macam klaim seenaknya terhadap kualitas suatu acara. Sangat menyedihkan karena ternyata acara-acara yang diklaim memiliki rating tinggi adalah acara-acara sinetron dan reality show.

Pengembangan budaya yang sedang berkembang saat ini berbasiskan televisi. Hampir seluruh kultur masyarakat saat ini dipengaruhi oleh televisi. Kita dapat melihat pengaruh tayangan sinetron di pelosok desa yang sudah seperti kota. Pemuda-pemudinya berpakaian layaknya anak-anak kota sambil membawa handphone di sakunya. Anak-anak kecil sekarang lebih hafal syair lagu Dewa, Gigi dan berbagai band dewasa dibandingkan lagu anak-anak seperti Bintang Kejora.

Menurut penulis, telah terjadi kesalahan interpretasi seni dalam dunia hiburan Indonesia. Seni hanya menjadi entertainment (hiburan). Di negara-negara maju, seni adalah ekspresi hati. Seni merupakan karya agung yang memiliki cipta, rasa dan karsa tinggi. Bahkan, dalam konteks tertentu, seni adalah ekspresi nilai-nilai keagamaan. Di Indonesia, ekspresi seni dibalut dengan kebebasan berekspresi. Yang terjadi adalah ekspresi yang kebablasan. Alih-alih menjadi karya monumental, seni bahkan dikurung dalam tirani eksploitasi tubuh. Maka kita dapat melihat televisi dipenuhi oleh obralan seksualitas, baik yang tersirat maupun tersurat.

Penulis termasuk salah satu orang yang sepakat ketika pemerintah membentuk komisi penyiaran dan merancang undang-undang antipornografi. Tayangan televisi sudah sangat memuakkan. Demikian pula dengan penempatan nilai-nilai seni yang tidak sesuai dengan idealismenya. Penulis meyakini pemerintah tidak bermaksud mengekang kebebasan berekspresi warga negaranya. Kebebasan juga harus bertanggung jawab. Jangan sampai klaim kebebasan mengganggu hak asasi warga negara lainnya. Jangan sampai pula kebebasan tersebut malah memporak-porandakan tata nilai yang sebelumnya telah tertata rapi.

Pengawasan dan evaluasi muatan televisi mutlak menjadi tanggung jawab kita bersama. Dalam kapasitas sebagai orang tua, marilah bersama-sama mengawasi putra-putrinya dalam menyaksikan televisi. Pilihkanlah tayangan yang lebih memiliki nilai edukasi dibandingkan yang menawarkan mimpi. Sebagai insan pertelevisian, marilah kita kurangi ego kapitalisme. Dalam membuat suatu tayangan, jadikan aspek manfaat bagi masyarakat sebagai pertimbangan utama, bukan keuntungan finansial semata. Jika kita memang menginginkan bangsa ini tumbuh menjadi bangsa besar dan maju, mudah-mudahan hal tersebut bukanlah beban yang memberatkan.

Advertisements

8 thoughts on “Artikel April 2008

  1. Soal audit lembaga rating… padahal dulu sudah digembargemborkan terus oleh republik mimpi. tapi tetap begitu saja.

    Masalahnya kita lebih sering berisik dengan sensor sana sini tanpa pembekalan yang perlu soal edukasi masyarakat. Tentunya kita gak ingin sibuk sensor karena masyarakat tidak cukup dewasa untuk menentukan mana yang baik, mana yang tidak.

    Kalau memang masyarakat sudah cukup pintar soal ini, untuk tayangan tidak berkualitas seharusnya masyarakat mengajukan berkas citizen lawsuit tanpa harus menunggu reaksi sensor.

  2. betul mike, saya sepakat bahwa edukasi kepada masyarakat memang hal penting. namun, masyarakat kita belum menempatkan isu ini menjadi komoditas utama. lha wong, buat ngantri minyak ama gas aja masih sulit kok… apalagi sekarang, bensin udah pasti akan naik…

    makanya menurut saya sih, sangat wajar kalo kita masih menggantungkan harapan adanya perhatian pemerintah, melalui lembaga sensornya, untuk bertindak tegas terhadap acara-acara yang nyata-nyata merusak moral bangsa ini…

  3. iya brta ni da d kompas jg, sapa tau ntar serial winnie the pooh diputer lagi (^-^)
    kan, menurut buku mozart effect, cerita winnie the pooh baik tuk diceritain ke anak-anak, soalnya banyak mengandung nilai-nilai kasih sayang dan kebaikan.
    I LUPH POOH (^-^)

  4. gimana dengan ke-10 acara tersebut? masih tetap ditayangkan?
    kayanya KPI mesti lebih tegas langsung kasih peringatan aja, karena banyaknya acara TV yang bisa merusak moral bangsa.

  5. @fipooh: pooh?? dasar beruang, hwehehehe……

    @rita: kayaknya masih tuh mbak, cuma imbauan soalnya dari KPI, jadi tidak bersifat mengikat seperti putusan peradilan. saya sepakat sama mbak rita kalo acara tv sekarang banyak merusak. tapi sampai sekarang saya bingung solusi yang paling pas itu gimana ya?? ada yang mau ngasih saran??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s