Memori Wisuda Fakultas

Hmm, sebenernya pengen posting ini dari lama. Tapi, baru bisa terealisasi sekarang karena kendala teknis dan nonteknis, hehehe… Jadi ceritanya gini, waktu saya dan temen2 fasilkom wisuda tingkat fakultas kemaren 29 Agustus 2008, saya diberikan tugas nih sama panitia (tepatnya sih Arya hehe…) buat ngasih sambutan sebagai perwakilan wisudawan/wisudawati.

Pertama kali baca sms itu, shock juga. Sapa sih saya?? Kenapa bukan Mahendra misalnya. Dia kan Mapres Utama Fasilkom 2008. Atau mungkin temen2 lain yang sudah punya prestasi di tingkat nasional dan internasional. Dan jumlah mereka tidak sedikit. Tapi, kemudian saya menyadari bahwa ini adalah amanah. Lantas saya buang semua pikiran prasangka itu. Apapun alasannya, masa bodo lah. Yang paling penting adalah saya sanggup menyelesaikan tugas ini dengan sebaik-baiknya.

Maka, mulailah saya membuat poin-poin penting apa saja yang akan saya sampaikan. Di tengah-tengah proses adaptasi magang, saya susun kerangka tulisan dan tulisan itu sendiri. Alhamdulillah, lebih kurang selama dua atau tiga hari, sambutan itu bisa selesai. Tepat sebelum gladi bersih wisuda fakultas dimulai :).

Dan ketika dibacakan, sungguh saya sangat terkejut dengan sambutan dari audiens acara wisuda lewat tepuk tangan, yang menurut saya sangat luar biasa. Dan saya lebih terkejut lagi, ketika bapak Dekan ternyata menyejajarkan sambutan saya dengan sambutan Barrack Obama ketika konvensi partainya (berlebihan tuh Pak, hehehe). Alhamdulillah, komentar-komentar dari beberapa orang juga terlihat sangat baik. Padahal, saya mengira sambutan itu terlalu gimana gitu…

Dan di akhir perjalanan saya sebagai seorang mahasiswa di Fakultas Ilmu Komputer UI, ada kegembiraan dan kebanggaan yang terhujam dalam di sanubari. Bahwa paling tidak, saya telah berkontribusi di kampus ini. Sangat sedikit memang. Tapi, tak apalah. Toh, saat masuk pun saya bukan siapa-siapa. Terima kasih untuk semuanya, untuk segalanya… Oh ya, saya tampilin juga sambutan wisudanya. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

NB: Maaf Bu, Pak, Zoel. Mas sengaja tidak memberitahukan bahwa akan maju memberikan sambutan. Mudah-mudahan itu bisa jadi kado kecil buat kalian di hari wisuda ananda. 🙂

———————————————————————————————————————————————————–

Yth. Bapak T Basaruddin, Dekan Fakultas Ilmu Komputer UI
Yth. Bapak/Ibu Pimpinan di Fakultas Ilmu Komputer UI
Yth. Bapak/Ibu Staf Pengajar Fakultas Ilmu Komputer UI
Yth. Bapak/Ibu Staf Karyawan Fakultas Ilmu Komputer UI
Yth. Bapak/Ibu Orang Tua/Wali dari Wisudawan/Wisudawati
Dan yang saya cintai dan banggakan, rekan-rekan Wisudawan/Wisudawati

Sambutlah salam hormat saya,
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Segala puja dan puji hanya milik Allah, Rabb Yang Maha Menciptakan dan Memelihara alam semesta ini. Sepatutnyalah pula, ungkapan syukur juga kita panjatkan ke hadirat-Nya karena berkat karunia dan keridhoan-Nya, pada kesempatan yang berbahagia ini, kita dipertemukan dan dikumpulkan di ruangan ini dalam acara pelepasan wisuda Fasilkom UI semester genap 2008.

Sholawat dan salam bagi teladan terbaik umat manusia, Rasulullah Muhammad SAW. Seorang panglima perang yang berani, tetapi juga adalah ayah dan suami yang penyayang dan lembut bagi keluarganya. Seorang lelaki yang tegas dan keras terhadap kedzoliman, namun terkenal akan kesantunan dan kedermawanannya. Dan dunia pun mengakuinya sebagai tokoh nomor satu yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban dunia.

Hadirin yang berbahagia,
Sungguh merupakan suatu kebanggaan dan kebahagiaan luar biasa bagi kami, yang sekarang berada di ruangan ini, karena acara ini adalah suatu seremoni yang menandai telah berakhirnya tugas kami dalam menempuh pendidikan di kampus Fasilkom UI. Kami bangga menjadi anggota dari keluarga besar kampus ini. Kampus yang punya visi besar. Kampus yang dikenal karena keramahan warganya. Kampus yang memiliki kualitas, integritas, dan moralitas yang tidak hanya diakui dalam skala nasional, tetapi juga oleh dunia internasional.

Perkenankanlah saya dalam kesempatan ini, mewakili rekan-rekan wisudawan/wisudawati yang lain, untuk mengucapkan rasa terima kasih kami pertama kali kepada ibu dan bapak kami. Terima kasih atas lantunan doa yang tiada henti di akhir shalat fardhu dan di tengah keheningan tahajud. Terima kasih pula atas segala kerja keras yang tak kenal lelah, sejak kami berada dalam kandungan, dilahirkan, mulai sekolah di SD, kemudian masuk ke SMP, beranjak ke SMA, hingga di bangku kuliah. Kami sadar bahwa kami tidak mampu membalas balas budi itu. Namun percayalah, bahwa kami selalu ingin memberikan yang terbaik dari segala hal yang kami lakukan, sebagai ungkapan terima kasih atas pengorbanan kalian berdua. Termasuk gelar sarjana yang saat ini telah kami raih.

Kami juga ingin memberikan penghargaan setinggi-setingginya kepada kepada Bapak/Ibu Pimpinan; Bapak/Ibu Staf Pengajar dan Karyawan; Bapak/Ibu Janitor; Bapak-bapak Satpam; rekan-rekan kuliah, dan keluarga besar Fasilkom UI yang lain. Betapa kehidupan kami di sini telah menggoreskan memori yang amat mengesankan, penuh tawa dan canda, dan penuh dengan suasana kegembiraan. Inilah salah satu episode hidup yang tidak akan kami lupakan, kapanpun, dan di manapun kami berada.

Dari lubuk hati kami yang paling dalam, izinkanlah kami dengan tulus memohon maaf kepada seluruh keluarga besar Fasilkom UI. Kami menyadari bahwa dalam keseharian kami di kampus ini, ada perkataan yang menyinggung hati, ada sikap dan perbuatan kami yang tidak berkenan di hati. Insya Allah, ketidaknyamanan itu terjadi karena ketidaksengajaan kami sebagai manusia yang merupakan tempatnya salah dan lupa.

Mengutip kalimat yang sering diucapkan, lepas dari kampus bukan berarti perjuangan sudah selesai. Bahkan, perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai. Berjuang dalam rimba sebenarnya, bernama komunitas masyarakat. Inilah pranata sosial yang akan menguji kita, sejauh mana idealisme yang di dalam kampus kita lantang teriakkan. Mungkin sekarang kita menyumpah-serapahi para koruptor yang tertangkap baik di layar televisi maupun lewat media yang lain, karena memang sekarang kita tidak punya kesempatan untuk berbuat seperti itu. Tapi yakinkah kita tidak akan menjadi seperti mereka ketika tandatangan kita bisa menentukan apakah suatu proyek bisa berjalan atau tidak, apakah suatu anggaran bisa dikeluarkan atau bahkan tertahan? Benarkah kita akan tetap akan berada di jalan yang benar kala istri dan anak kita meminta ini itu yang sulit terpenuhi oleh penghasilan normal bulanan kita?

Dunia pascakampus juga sering menjebak kita dalam rutinitas semu. Banting tulang dari pagi hingga malam, tiap hari dari Senin sampai Jumat. Bahkan, mungkin kita perlu tambahan waktu untuk lembur karena pekerjaan tidak sempat diselesaikan dalam waktu kerja normal. Salahkah itu? Sepintas tidak. Namun, orientasi kehidupan pribadi ataupun keluarga yang berlebihan akan melalaikan kita terhadap tanggung jawab yang lebih besar, mengabdi kepada masyarakat, kepada bangsa, dan kepada negara ini. Kampus telah mengajarkan kepada kita tentang pengabdian. Mungkin kita tidak menyadarinya karena memang kata pengabdian tidak terselip dalam jejalan padatnya kurikulum matakuliah. Ia tergambar jelas dalam realitas. Lihatlah di sekitar kita. Masih banyak kebodohan. Masih merajalela kedzaliman. Masih mengakar apa yang disebut dengan kesewenang-wenangan.

Mengapa kemudian muncul tugas pengabdian bagi kita? Karena tiap keping rupiah yang membiayai kita di kampus ini adalah kepingan harapan yang digadaikan dari mereka para penyapu jalan, bakul-bakul yang pagi-pagi hari sudah ada di pasar, petani-petani yang kini tidak lagi memiliki sawah karena digadaikan untuk makan dan sekolah anak-anaknya, serta jutaan rakyat kecil lainnya. Dan kepurnaan status kita sebagai mahasiswa tidak lantas menghapus amanah pengabdian itu. Amanah ini hanya akan tercabut seiring dengan tercabutnya ruh dari jasad ini.

Oleh karena itulah, kami para wisudawan/wisudawati memohon doa dari para hadirin, supaya ilmu yang kami pelajari di kampus dapat bermanfaat bagi kemajuan bangsa ini, supaya kerja keras dan perjuangan kami, saat ini dan nanti, tidak hanya bermanfaat bagi diri pribadi dan keluarga, namun juga membawa kemaslahatan bagi masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.

Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui, bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri
Kami tidak mengharapkan sesuatupun dari manusia, tidak mengharapkan harta benda atau imbalan lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih.
Yang kami harap adalah terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta keridhaan dari Allah, Pencipta alam semesta.

Demikian sambutan dari saya yang berdiri di atas mimbar ini, mewakili rekan-rekan wisudawan/wisudawati yang lainnya. Mohon maaf atas kekhilafan dalam sambutan yang telah disampaikan. Semoga Allah SWT meridhoi jejak langkah kita. Aamiin…

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Advertisements

21 thoughts on “Memori Wisuda Fakultas

  1. Saya senang. tadinya saya mau kirim komen, minta mas afif muat sambutannya. ternyata,,emang ga sabaran ya,,pas terus dibaca sampe ke bwah ada juga. saya juga senang bisa membaca sambutan itu. dekan mas afif saya yakin tidak pura2. selamat. selamat bjuang. mas afif memang terlahir di dunia perjuangan.

  2. ah, mas budi ini… hehehe…

    insya Allah, saya juga banyak belajar dari mas Budi dulu waktu SMA. sayang, kita gak bisa satu kampus. jadi, momen pembelajaran itu terpotong…

    sukses ya Bud… buat semuanyalah… ditunggu berbagai macam kabar baiknya… 🙂

  3. wah bagus sekali, point point tidak basi basi ..singkat tapi padat…tapi tepat pada persoalann…

    ente cocok jadi penceramah ….atau orator birokrat…

  4. wah, dapet komentar dari masternya LemTaqwa nih… matur nuwun bang…

    jadi penceramah?? orator?? birokrat?? insya Allah, doa nt jadi motivator ane buat mewujudkan cita2 besar… buat agama, bangsa, dan umat ini…

  5. subhanallah… alhamdulillah… ini anugerah Allah yang harus disyukuri… sekali lagi, mohon doanya biar bisa istiqomah dengan apa yang disampaikan…

  6. wah bagus mas, sampean memang pinter,
    nanti ak dukung buat jadi gubernur jawa tengah he..he..he….

  7. @samsul: hehehe, ni malah ndukung jadi gubernur… sabar mas… jalannya masih sangat panjang… njenengan aja dulu… piye?? 🙂

    @email90: subhanallah, alhamdulillah… sama2 menulis yuk… mana blognya nih??

  8. gendeng,….

    mantap..
    salute..

    paragraf dua terakhir..
    yang kami harap adalah…..anda tahu kelanjutannya…

    merinding..=)
    arinal haqo haqo warjuknattiba’ah..arinal batila batilah warjuqnattinabah..

  9. Subhanallah… bagus banget sambutannya…

    Tulisan yang lain juga bagus, gimana tipsnya biar bs menulis seperti nt?

  10. alhamdulillah, terima kasih comment-nya mbak lina…

    wah, saya juga bingung kalo ditanya tips 🙂

    banyak baca aja mbak. akan lebih bagus kalo banyak baca sastra lama. itu bisa menambah kosakata kita. seperti yang adek saya lakukan

    mudah2n bermanfaat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s