Risalah Paris (part III)

Melanjutkan cerita di bagian sebelumnya, kami sudah sampai di stasiun metro. Cukup lengang saat itu, mungkin karena sudah malam, hampir jam 2. Setelah membeli tiket di mesin jual otomatis, kami langsung masuk ke peron. Baru duduk, tiba-tiba ada teriakan dari peron seberang. “Closed”, katanya. Hah?? Waduh, gimana nih?? Mana cuma tau pake kereta doang cara nyampenya. Setelah keluar, akhirnya terpikir untuk memakai taksi. Terpaksa kita jalan ke depan eiffel lagi, karena taksinya banyak ngumpul di situ. Udah coba nyetop di jalan, tapi taksinya gak mau pada minggir. Di depan eiffel, kami dapet nyetop satu taksi. Wah, ribet juga. Sopirnya gak bisa bahasa inggris ^_^ Hmm, akhirnya kami tunjukin aja lokasinya pake peta. Dan ternyata, tuh sopir gak mau. Gak tau deh alasannya. Tapi mungkin kejauhan kali ya. Di ujung selatan soalnya. Dan eiffel ada di hampir ujung barat.

Ya sudah. Kami coba ke taksi yang lain lagi. Dan hasilnya ternyata sama juga. Nggak mau. Wah, alamat nih bakal nungguin ampe pagi. Mau gimana lagi?? Udah coba semuanya, tetep aja nggak bisa. Akhirnya, kami tunggu di halte depan eiffel. Masih ada beberapa orang lalu lalang dari dalam kompleks eiffel. Ada beberapa orang yang mabuk. Keliatan dari gaya jalan dan teriakannya yang udah gak karuan. Untungnya lagi summer di Paris. Dingin sih. Tapi gak terlalu lah. Masih bisa ditahan pake jaket yang dipake. Gak lama setelah duduk di halte, ada dua orang, laki-laki dan perempuan, yang menghampiri kami di halte. Mereka bertanya, “Indonesia?”. Hahaha, ternyata ada orang Indonesia juga yang malem-malem masih berkeliaran di Eiffel. Akhirnya, kami ngobrol. Keduanya pengantin baru dari Surabaya, transit dulu di Paris, mau ke Amsterdam esok paginya. Sengaja ke Eiffel karena nanggung mau nginep di hotel, katanya. Takdir ternyata mempertemukan kami jadi “gelandangan” di Eiffel. Hahahaha…

Esok pagi sekitar jam 5.30an, kami sudah sampai di stasiun. Berpisah dengan mas dan mbak yang terlantar bareng di halte Eiffel karena mereka mau ke bandara. Alhamdulillah, sudah sampe di hotel lagi 45 menit kemudian. Karena semalam tidur cuma sebentar doang, akhirnya sepakat sesi pagi ini gak dateng ke tuh seminar. Kagak kuat nih mata cuy!! Maap ya KAUST ^_^ Kami ikut seminar lagi di sesi habis makan siang dengan muka yang masih setengah ngantuk, hehehe. Lumayan semangat lah hari itu. Kita ikut sesinya sampe full malem. Ada beberapa paper yang menarik, ada yang membosankan juga. Di sela-sela sesi, kami membuka kembali buku panduan seminar tentang jadwal acara. Dan baru menyadari bahwa besok pas hari terakhir, hanya sampe tengah hari doang. Asikkkk… 🙂 Lantas, disusunlah rencana travelling berikutnya untuk esok harinya, sejak tengah hari sampe secapek-capeknya…

Oh ya, pas makan siang di McD, kami ketemu dan ngobrol banyak dengan orang Afrika yang tinggal di Paris. Dia kerja sebagai dokter. Dia sudah menetap hampir lima tahun di Paris. Dia ini muslim. Tapi pas saya nanya, “do you drink?”, dia bilang iya. Lha??? Gimana to?? Dia bilang, sulit bertahan dengan kondisi cuaca di Paris. Mungkin juga ditambah dengan kultur orangnya kali ya. Katanya sih, jarang banget di Paris nemu matahari kayak summer sekarang. Dia bilang, beruntung banget kami datang ke Paris di musim kayak gini. Oh ya, dia berencana ambil libur summer pas ramadhan. Gak kuat puasa di Paris. Iya sih, 18 jam bo!! hehehe… Menyenangkan ngobrol sama beliau ini. Dapet banyak info lah sekalian latihan ngobrol inggris ^_^

Sekarang sudah hari terakhir seminar, hari ke-5 kami di Paris, sehari sebelum kami terbang besok siang. Rencana sudah disusun. Setelah seminar selesai, kami akan mengunjungi Arc de Triomphe, Musee du Louvre, Sorbonne, dan Notre Dame. Urutan tempat diatur berdasarkan arah rute metro yang harus kami tempuh. Peta paris mbantu banget. Mungkin karena mereka sudah menyiapkan dirinya menjadi kota wisata. Beda betul dengan Indonesia. Kalau saya warga asing dan baru singgah di Soekarno Hatta, pasti akan sangat kesulitan untuk berwisata karena gak disediain peta dan pusat informasi yang jelas di bandara. Apatah lagi sarana transportasinya, tak perlu lah itu dibahas. Nah, kembali ke Paris sekarang 🙂

Setelah seminar selesai, perjalanan pun dimulai. Tujuan pertama adalah Arc de Triomphe. Tempatnya dekat menara Eiffel. Kalau naik metro, turun di Charles de Gaulle Etoile. Keluar dari metro, langsung terpampang megahnya tuh Arc de Triomphe. Bangunannya lumayan gede dari jauh. Dan yang menarik, tuh menara ada di tengah 16 jalur persimpangan!! So, Simpang Lima-nya Semarang kagak ada apa-apanya, hehe. Sampai di tempatnya, saya sempet diisengin sama bule perancis yang berujung saya harus memberinya 1 euro, dengan terpaksa, hehe. Kami naik ke atas. Capek juga. Tangganya melingker-lingker saking banyaknya. Tapi, puas banget waktu dah sampe di atas. Bisa ngeliat Paris dari atas pas siang hari. Bisa ngeliat Eiffel juga. Keren lah pokoke, hehehe… Oh ya, di dinding bangunannya tertulis nama-nama orang. Mungkin, nama tentara atau panglima yang gugur waktu perang kali. Soalnya, konon menara ini memang dibangun buat mengenang kemenangan pasukan Perancis di medan peperangan.

Setelah cukup bersenang-senang, kami meluncur langsung ke Louvre. Cukup satu metro dan turun di stasiun Palais Royal Musee du Louvre. Louvre ini ternyata guedeee banget, hehehe. Kalau mau ke sana sih, saran saya harus nyiapin waktu dari pagi sampai sore. Biar puas. Ambil foto di depan piramida kaca, yang terkenal lewat buku dan film “Da Vinci Code”. Ada lukisan Monalisa yang fenomenal. Ada juga lukisan dari Eropa jaman dahulu. Kebanyakan bernuansa gereja. Meskipun saya bukan pecinta dan penikmat seni, tapi kayaknya artistik banget. Sempat beli oleh-oleh dari orang Afrika juga. Dan lagi-lagi muslim. Bahkan mereka tahu Indonesia. Kayaknya, muslim Perancis didominasi oleh imigran, khususnya dari Afrika.

Tujuan melancong berikutnya adalah Sorbonne. Dari Louvre, butuh dua kali naik metro. Turun di stasiun Jussie, kemudian pindah kereta, dan turun di stasiun Clunny La Sorbonne. Di Sorbonne, target kunjungan utama kami adalah kampus Sorbonne yang diceritain Andrea Hirata di buku tetralogi Laskar Pelangi-nya. Turun dari kereta, kami keluar dari subway. Hmm, daerah Sorbonne ini lebih ramai dibandingkan tempat-tempat yang pernah dikunjungi sebelumnya. Mungkin karena di tengah kota dan dekat kampus. Toko-toko di kanan kiri jalan banyak. Lalu lalang kendaraan juga lumayan. Bagaimana ceritanya di sini?? Tunggu aja di part terakhirnya. Merci… ^__^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s