Dari Perenungan Panjang

Sepekan terakhir, saya banyak menghabiskan waktu sendiri. Pemicunya adalah nurani saya seperti kosong. Tidak merasakan punya motivasi apapun. Gimana ya? Ya, kosong aja gitu lah. Saya merasa seperti telah salah memilih jalur. Dunia akademis yang sekarang saya tempuh, digugat keberadaannya oleh segenap jiwa dan pikiran saya. Penggugatan itu sebenarnya telah ada sejak pertengahan Oktober 2009 lalu. Mulai saat itulah perang ide mulai berkecamuk. Di satu sisi, mengharapkan saya meneruskan apa yang sedang saya lakukan. Di sisi lain, meminta saya menyudahinya, lalu melakukan apa yang sebenarnya saya cintai dan telah tersusun dalam grand design hidup itu. Yap, saya telah menyusun semacam peta pengabdian sejak S1 dulu. Dan jalur pengabdian yang saya buat adalah menjadi pengabdi masyarakat di kota kelahiran saya, Tegal, melalui “public sector”.

Dulu, saat dipaksa untuk membuat peta hidup di asrama, jalur yang saya pilih berbeda dengan rekan-rekan yang lain. Mereka begitu bersemangat dengan level-level nasional ataupun internasional. Saya malah bersemangat membuat rancangan untuk memajukan Tegal. Paling banter, di level Jawa tengah lah. Itu tidak berarti saya takut untuk berkompetisi di level, yang menurut mayoritas orang, tinggi. Saya melihatnya dari perspektif lain. Bahwa saya adalah putra daerah dan fakta bahwa sangat sedikit orang yang mau terjun ke daerahnya lagi setelah kuliah. Kalaupun ada, itu bukan murni karena pilihan hidup untuk menghidupi daerahnya, melainkan keinginan untuk mencari penghidupan di sana. Apalagi masih banyak tantangan yang harus dikerjakan di Tegal. Kemiskinan, keterbelakangan, rendahnya kualitas SDM adalah beberapa permasalahannya. Dan saya ingin berusaha memperjuangkannya.

Namun, takdir berkehendak lain. Saya didamparkan di jalur akademis, dengan menjadi mahasiswa S2 bidang sains dan teknologi. Karena itulah, lantas saya revisi rencana hidup yang telah saya buat itu. Saya pikir, mudah saja untuk menggantinya. Pada kenyataannya, memang mudah untuk sekedar menggantinya. Tapi, tidak dalam bentuk riilnya. Dan tengah Oktober lalu, seperti ada “penyesalan besar” dalam diri saya tentang jalur hidup yang saya ambil. Saya mulai merasa tidak nyaman. Tidak ada semangat. Disorientasi. Dan bermacam-macam gejolak timbul dalam pikiran saya, mempertanyakan pilihan yang sedang saya jalani ini.

Lantas, saya mencoba untuk tetap menyemangati diri. Dengan belajar jauh lebih baik. Lebih keras lagi. Dengan bergabung bersama beberapa kawan untuk membuat sebuah proyek terobosan berskala besar. Bahkan, telah saya pintakan khusus dalam doa-doa yang saya panjatkan di arafah, saat thawaf maupun di jamarat.  Meminta jalan keluar dari Allah SWT atas kesulitan menentukan pilihan ini. Tapi, keinginan itu ternyata semakin menggelora seiring dengan usaha keras yang saya lakukan. Saya merasa kebermanfaatan dan cita-cita saya tidak akan teroptimalkan dengan berada di jalur ini. Okelah, katakanlah saya bisa berprestasi di sini. Tapi, ya sebatas prestasi yang sifatnya untuk diri sendiri. Kalaupun diakui mewakili bangsa atau negara, ya sudah. Sebatas itu saja. Masih belum saya lihat ada kaitannya antara sains dan lahan publik yang ingin saya kelola nanti. Apalagi dengan beberapa alasan spesifik lain, yang saya masih kesulitan untuk menerimanya.

Dan aktivitas liburan semester kemarin, semakin menguatkan. Bahwa idealisme itu tetap harus diperjuangkan. Dan akan sulit ketika saya berada dalam komunitas seperti ini. Bukan. Ini bukan tentang benar atau salah. Ini juga bukan tentang suka ataupun benci. Saya menyebutnya, pengabdian. Ketika kita dapat mengeluarkan semua potensi terbaik di bidang yang kita yakini.

Entahlah. Sampai saya menyelesaikan tulisan ini pun, saya belum menemukan jawaban dari perenungan itu….

12 thoughts on “Dari Perenungan Panjang

  1. lulus cepet, 1.5 tahun, terus balik sini lah boy 😀
    lagian s1 g sempet ngerasain lulus cepat kan hehehe

    btw, kalo balik, ntar gw mampir tegal lagi hahahaha…

  2. hahah, dalam sejarah gw, “lulus cepet” kayaknya tabu cuy 😀

    wuidih, boleh lah. ntar gw ajak jalan2 ama makan2 lagi. buat nt, dikasih gratis dah. sekalian promosi, VISIT TEGAL 2010 ^_^

  3. hahaha, parah lu! mbuka aib gw! ^_^

    mudah2an bro. lu siapin aja cuti panjang. sekarang, kerja yang bener. nabung yang banyak. ntar lu blanjain duitnya di tegal dah. hahaha…

  4. s2 kan bukan berarti harus jadi akademisi fif? setelah lulus, langsung mengabdi di sektor publik jg bisa kan? bukannya makin mantap ya? ekspertisenya lebih oke dong utk tegal..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s