Kehilangan

cukuplah kematian sebagai sebaik-baik peringatan. bahwa harta, kendaraan, jabatan, status sosial yang jadi kebanggaan dunia tak akan menemani kita di alam kubur (status facebook saya)

Pagi tadi, suasana di rumah diliputi duka cita. Burung kenari piaraan mati. Kelihatannya dimakan tikus. Tapi, belum yakin juga sih. Dan memang tidak ada tim investigasi seperti halnya kasus bank Century atau penggelapan uang pajak. Nilainya tak sebesar dua kasus itu. Dan butuh cost besar jika sampai dibentuk tim investigasi. Tak sebanding dengan hasil yang nanti diperoleh.

Burung kenari ini sudah ada di rumah sejak setahun lalu. Kicauannya menyenangkan. Setiap pagi suasana rumah ceria. Kami pun sudah merasa ada ikatan dengannya. Saat ada anggota rumah yang datang, burung itu langsung menyambut dengan kicauan ramainya. Berisik. Namun, kami senang.

Di balik matinya burung kami itu, saya belajar tentang sikap saat kehilangan. Bahwa tak pernah ada yang abadi di dunia ini. Apapun bentuknya. Motor yang saya naiki, pasti akan rusak suatu waktu nanti. Demikian juga dengan laptop, tas, buku, juga burung kenari yang baru mati tadi pagi. Dan kita memang harus siap mengikhlaskannya. Kapan saja. Seperti doanya Abu Bakar ra yang meminta supaya “dunia itu berada di tangan, bukan di hati”.

Dan suatu saat pun saya akan hilang. Ibu, bapak, adek, teman, paman, bibi, dan orang-orang yang kita cintai. Bahasa kita menyebutnya, mati. Entah kapan. Entah bagaimana caranya. Saya pun tak tahu. Itu bukan domain prerogatif saya. Dan jauh lebih penting adalah mempersiapkan apa yang akan kita bawa ketika kita “hilang” dari dunia ini. Sudah cukupkah amal? Sudah cukupkah ilmu?

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” [Al Baqarah: 155-156]

Advertisements

4 thoughts on “Kehilangan

  1. Kayaknya kl tikus gk mungkin manjat2 sangkar yg gelantungan di atas sana deh 🙂
    Kok nggak dibahas cara-caranya biar bisa ikhlas total?? Hehe..

    Ya Allah ajari saya arti ikhlas..

  2. hmmm, ini tikus manteb nih. udah terlatih kayaknya. mantan pasukan elit tikus kayaknye 😀

    cara ikhlas monggoh ditanyakan ke ustadz-ustadz yang lebih berkompeten. saya mbantu ndorong aja biar nanya 🙂

    aamiin, sama-sama ya Allah, ajari kami semua, umat Islam di bumimu ini untuk bisa ikhlas…

  3. memang gak gampang. kudu tegas. kalo sudah menggenggam dunia dengan hati, ya ada dua cara ngingetinnya. dengan perlahan. atau dengan keras. supaya dia tahu. dan tugas kita hanya mengingatkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s