Mengeluh

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir [Al Ma’aarij 19-21]

Saya pernah mengeluh. Sehari mungkin sekali, mungkin dua kali, bisa jadi juga berkali-berkali. Saya tak pernah menghitungnya pasti. Anda mungkin juga mengalami hal serupa. Kita mengeluh karena teman yang tak mengerti kita. Gagal dalam ujian di sekolah, kampus, maupun tes masuk perusahaan. Mengeluh karena orang tua tak dibelikan handphone, motor, atau mobil baru yang lebih bagus dari milik teman kita. Mengeluh karena keluarga yang tak harmonis. Karena pekerjaan menggunung dan bos tak adil. Kita pun mengeluh karena korupsi merajalela dan mafia hukum begitu menggurita. Dan sungguh, masih banyak variasi keluhan lainnya yang kita miliki.

Itulah kita, manusia. Yang fitrahnya memang selalu mengeluh. Padahal, tanpa kita tahu, ada banyak orang yang kondisinya tak jauh lebih baik dari kita. Mengeluh adalah pengurasan tenaga, jiwa, dan emosi kita. Menghabiskan energi-energi positif. Puncak keluhan adalah marah. Adapun marah adalah karakter setan.

Keluhan yang kita keluarkan seringkali tersampaikan kepada manusia. Padahal, manusia sama sekali tak ada daya upaya. Seharusnya keluhan itu pertama kali tersampaikan kepada yang menguasai manusia, Rabb semesta alam. Kepadanyalah keluhan itu mestinya bermuara. Nyatanya, sering kali kita malah abai kepada-Nya.

kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. [Al Ma’aarij 22-27]

7 thoughts on “Mengeluh

  1. Wuiz, aku banget… Sering banget aku ngeluh… Kadang mikir, “What’s wrong with my heart??? Masa segitu aja ngeluh…”

  2. @illiyyina:
    iya mbak illiyyina… 😀

    @millati
    manusiawi lah itu, sama seperti orang kebanyakan. sejarah membuktikan, orang besar gak akan pernah sama dengan orang kebanyakan. ia jauh melampauinya. dari akhlaknya. konsistensinya. dan pejuga perjuangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s