Remaja, Cinta, dan Cita

Berulang-ulang saya dengar, masa remaja itu masa yang paling menyenangkan. Penuh kenangan. Candaan. Celetukan. Juga kegilaan. Begitulah adanya. Kalau kamu belum sampai masa itu, bersabarlah. Kalau kamu sudah melaluinya, bersyukurlah. Tak semua orang bisa melaluinya. Saya tak punya dalih empiris untuk menguatkan pendapat di kalimat awal tadi. Tapi, percayalah, saya pernah melaluinya.

Itulah interval, di mana kau merasa bahwa duniamu penuh warna. Bahwa hidupmu begitu bergembira. Bahkan dengan sedih dan kecewa, kau bisa berdamai dengannya. Saat-saat inilah pertama kalinya ada rasa cinta. Muncul pula kesadaran cita. Sensasi keduanya begitu mendominasi dunia remaja. Sekali lagi, dengan segala suka dan dukanya.

Donny Dhirgantoro merangkumnya dengan apik, dalam novel “5 cm”. Lima sahabat yang telah menjalin hubungan selama 7 tahun dengan segala kekonyolannya, ketololannya, kejenakaannya, kegilaannya, asmaranya, dan kreativitasnya. Dan lewat sebuah perjalanan ke Mahameru, setelah sengaja tiga bulan terpisah karena bosan, mereka menemukan keyakinan, mimpi, cita dan cinta. Perjalanan yang mengubah mereka menjadi manusia sesungguhnya. Bukan seonggok daging yang berjalan dan bernama.

Mereka menaruh mimpi mereka menggantung. Mengambang. 5 cm di depan kening. Jadi dia tak akan lepas dari mata. Setelah itu, mereka cuma perlu kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya. Tangan yang berbuat lebih banyak dari biasanya. Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya. Tekad yang seribu kali lebih keras dari baja. Hati yang bekerja lebih keras dari biasanya. Serta mulut yang akan selalu berdoa.

Dan di akhir cerita, setelah berkeluarga, mereka tetap kuat memegang 5 cm-nya. Dengan keyakinan penuh, bahwa idealisme bukanlah kemewahan terakhir yang dimiliki anak muda. Ia harta semua orang. Yang yakin bahwa hidup ini harus dipenuhi oleh cita dan cinta, untuk masa depan yang jauh lebih baik, yang bisa memberikan paling banyak manfaatnya bagi sesama, yang paling baik amalannya. Saya sepakat!

Hari ini!
Setiap manusia punya mimpi…
Dan sekarang, mereka beranjak menjadikan mimpinya menjadi kenyataan…
(Zulhanief Matsani)

Advertisements

2 thoughts on “Remaja, Cinta, dan Cita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s