Jalan Para Pencerah

Pekan lalu, saya berada di Jogja. Tak lama. Hanya dua hari. Dari waktu yang ada, saya memang telah meniatkan diri untuk menyaksikan “Sang Pencerah”. Sebuah film yang mengisahkan tentang fragmen kecil dari seorang tokoh nasional, pendiri salah satu ormas Islam terbesar, Muhammadiyah. Beliau adalah Muhammad Darwis atau Ahmad Dahlan.

Buat saya dan orang lain, yang hidup dalam keluarga Muhammadiyah, kisah Ahmad Dahlan, bisa jadi sudah sering dibaca dan didengar. Namun, melihat film tersebut, memberikan nuansa, semangat, dan rasa yang berbeda. Saya tersentak. Betapa perjuangan dan pengorbanannya betul-betul luar biasa.

Setting perjuangan itu pada awal 1900-an. Saat penjajahan masih bercokol kuat. Saat kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan adalah lumrah. Saat tahayul dan bid’ah menyatu bersama ritual ibadah. Maka, Ahmad Dahlan adalah anomali. Yang berbeda dari kebanyakan, harus dianggap musuh. Hukum akibat berikutnya bagi musuh adalah dihina, dicaci, dimaki.

Ahmad Dahlan tak mundur dengan perlakuan seperti itu. Meskipun masjidnya dibakar, diintervensi saudara iparnya, dipanggil kiai kafir, didatangi kyai-kyai, ia bertahan dengan sikapnya. Bukan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Itu bertahun-tahun. Harta pribadinya dipakai untuk menyantuni, mendidik, membuat sekolah. Tak tampak kesusahan, ataupun penolakan dari istri dan anaknya atas apa yang dilakukan.

Itulah jalan para pencerah, yang menyibakkan tirai kegelapan bagi lingkungannya. Bukan hanya Ahmad Dahlan. Ada Sudirman, Natsir, Hatta, Hamka, dan masih banyak lagi yang lainnya. Bukalah lembar-lembar para pejuang. Likunya perjuangan itu adalah keniscayaan. Karena balasannya tak main-main. Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.

Karena itulah, saat mendengar, membaca, atau mengetahui ada yang menginginkan dirinya, keluarganya, keturunannya, menjadi seperti tokoh-tokoh besar itu, ada yang terlupakan bahwa takdir para pejuang sangat terjal, jarang mulus. Begitu banyak pengorbanan. Dari waktu, pikiran, tenaga, harta, kesenangan, hingga popularitas.

Menyaksikan film itu, menggugah kembali diri saya. Bahwa komitmen perjuangan perlu waktu untuk menjawabnya. Ahmad Dahlan dan para pejuang lainnya telah membuktikannya. Raganya mati, tapi namanya abadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s