Butuh, Bukan Ingin

Saat masih di bangku SMP, guru ekonomi saya mengajarkan, bahwa keinginan manusia itu tidak ada batasnya. Kalau keinginan satu terpenuhi, muncul keinginan lainnya. Kalau belum, ya berusaha mati-matian sampai terpenuhi keinginannya.


Sepintas tidak ada yang keliru. Awalnya pun saya sepakat dengan teori tersebut. Kesepakatan itu lalu terkikis ketika saya melihat realitasnya dalam kehidupan. Bahwa ternyata keinginan bisa berubah menjadi monster. Begitu menyeramkannya.

Keinginan ini acapkali tak diiringi dengan kemampuan. Maka menjamurlah hobi kredit di seantero jagad. Kredit motor, utang handphone, nyicil mobil, dan beraneka angsuran lainnya.

Jadi, ada disorientasi yang nyata, bahwa kita selama ini tak mampu membedakan apa itu ingin, dan apa itu butuh. Segala sesuatu kita ingini. Bahkan, kita sering memakai paramater yang tak substantif: mewah, gengsi, mahal. Keamburadulan ini menancapkan budaya konsumtif yang luar biasa.

Orang kaya berhutang. Orang miskin tak mau kalah, ikut berhutang juga. Pokoknya, tak rela disebut miskin. Dia punya motor baru, saya pun harus. Kawan kantor borong tas baru, kenapa saya tidak? Masa bodo kalau tas yang saya pakai ini masih layak.

Saya khawatir, ketidakmampuan kita membedakan butuh dan ingin ini, berlanjut dalam ketidakmampuan kita mengurus keluarga, RT, RW, hingga ke level negara.

2 thoughts on “Butuh, Bukan Ingin

  1. “Keinginan ini acapkali tak diiringi dengan kemampuan”
    setuju mas. Kalo dibuat jadi begini:
    “Kadang kebutuhan ini acapkali tak diiringi dengan kemampuan”

    kayaknya juga bisa. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s