Persepsi Hati dan Pikiran

Ada kesengsaraan yang justru mendatangkan kebahagiaan. Ada serba kelebihan yang malah mendatangkan kegelisahan. Mungkin terlihat konyol. Namun, dunia ini memang tampil dengan begitu banyak wajah ketidakmungkinan, juga tentang ketidak masuk akalan.

Sengsara tetapi tetap ceria tentu ini luar biasa. Miskin tapi masih semangat berbuat ini itu membuat saya tak henti geleng-geleng kepala. Ada bung Pepeng, yang dengan sakit kronisnya, tetap mampu membuat kita tertawa dan terinspirasi. Ada suster apung, yang dengan gaji dan fasilitas seadanya, tetap mau merawat begitu banyak orang. Hanya berbekal perahu motor seadanya, ia merenda amalnya.

Continue reading

Buang Segera Uangmu !!

Tentu teman-teman berpikir bahwa saya gila dengan menuliskan judul di atas. Tenang dulu. Jangan segera menjustifikasi gila. Ntar saya gila beneran, lho 🙂

Oke, sebelumnya kita satukan pemahaman dulu bahwa uang yang saya maksud di sini, adalah uang yang sudah kita kenal sehari-hari sebagai alat tukar, satuan hitung, dan juga barang dagangan. Mungkin kita jarang tertarik dengan data dan fakta tentang uang yang banyak manusia banggakan itu. Faktanya adalah, uang tersebut terkena inflasi dari tahun ke tahun. Gampangnya, inflasi dapat dianalogikan seperti ember bocor. Ember itu diisi air penuh, airnya akan selalu berkurang. Merembes ke mana-mana. Seperti itulah nilai uang yang kita pakai, gunakan, dan simpan selama ini. Mengapa uang terkena inflasi? Salah satu penyebabnya adalah bahwa nilai intrinsik uang tidak sama dengan nilai ekstrinsiknya. Karena itulah, uang “dengan mudah” dapat dicetak sesuka hati pembuatnya.
Continue reading

Hikmah dari Pedagang

Beliau sama sekali belum pernah mengenal saya sebelumnya. Saya pun demikian. Namun, interaksi singkat dengan beliau, telah memberikan kesan yang mendalam bagi saya. Beliau pedagang kelontong. Sudah lebih dari dua puluh tahun beliau berjualan. Tokonya adalah rumahnya. Rumahnya adalah tokonya. Dari hasil usahanya itu, dua anaknya kuliah di UI, seorang lagi di ITS. Sangat mengesankan bagi keluarga yang tinggal di pedesaan.
Continue reading

Lebih Jauh, Lebih Baru, Lebih Banyak

Suatu ketika Rasulullah hadir dalam pemakaman salah seorang sahabatnya. Di tengah kunjungannya, beliau bertanya kepada istri dari sahabat yang meninggal tersebut. “Adakah wasiat yang ditinggalkan suamimu?”. Sang istri ini menjawab, “Ya Rasul, sebelum meninggal, suamiku mengucapkan kata-kata aneh, yang aku sendiri tidak tahu apa maknanya. Suamiku berkata ‘andai lebih jauh’, ‘andai lebih baru’, ‘andai lebih banyak’ “.

Continue reading