Persepsi Hati dan Pikiran

Ada kesengsaraan yang justru mendatangkan kebahagiaan. Ada serba kelebihan yang malah mendatangkan kegelisahan. Mungkin terlihat konyol. Namun, dunia ini memang tampil dengan begitu banyak wajah ketidakmungkinan, juga tentang ketidak masuk akalan.

Sengsara tetapi tetap ceria tentu ini luar biasa. Miskin tapi masih semangat berbuat ini itu membuat saya tak henti geleng-geleng kepala. Ada bung Pepeng, yang dengan sakit kronisnya, tetap mampu membuat kita tertawa dan terinspirasi. Ada suster apung, yang dengan gaji dan fasilitas seadanya, tetap mau merawat begitu banyak orang. Hanya berbekal perahu motor seadanya, ia merenda amalnya.


Saya yakin, masih ada jutaan bung pepeng dan suster apung lainnya. Keterbatasan tak membuatnya lemah. Ketidakmampuan tak menyurutkan senyum dan pengabdiannya. Orang-orang ini memahami betul, bahwa gembira dan sedih, dipersepsikan oleh hati dan pikiran. Bukan diukur dengan materi.

Saya malah mengkhawatirkan diri saya sendiri. Berbagai kelebihan ini malah minim sekali syukur saya. Yang terjadi justru lebih banyak mengeluh karena selalu melihat ke atas, ke mereka yang lebih dari saya.

Yang terjadi, ketika hantaman kecil datang, saya malah tak siap. Tiba-tiba gelagapan. Menyalahkan kiri kanan. Menyerang ke depan dan belakang. Dan hantaman kecil itu nyata-nyata gagal meng-upgrade kedewasaan saya.

Semoga cukup saya. Anda tidak.

Advertisements

One thought on “Persepsi Hati dan Pikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s