Apa Perlu?

Kali ini saya tuliskan ulang tentang tweet saya di @akhdaafif. Semoga bermanfaat.

Assalamu’alaikum… yuk mulai lagi #ngaji malem ini. Dibuka dengan bismillahirrahmanirrahiim… Kalo #ngaji kemaren tentang bahasa yang agak gimana-gimana gitu, sekarang tentang hal lain. Sama simpel. Tapi buat saya, cukup mengganggu :). Sebetulnya hal tersebut baik. Tapi, saya menangkapnya kayak agak gimana gituuuu :). Tentang puasa sunnah yang alhamdulillah ternyata banyak dilakukan oleh orang-orang yang saya kenal.


Nah, yang mengganggu, bagi saya khususnya, adalah kenapa harus diupdate di jejaring sosial? “lagi sahur nih, nunggu subuh”, “udah siapin teh manis sama makan malam”, “buka di warung X”. Saya takut, keikhlasan temen2 yang puasa ini malah “terkotori” oleh tindakan yang bisa tidak dilakukan ini. Kan sayang tuh amalnya. Atau kalau memang bener baik, ada yang bisa jelaskan apa korelasinya puasa sunnah itu dengan mengupdatenya di jejaring sosial?

Itu baru dari satu sisi. ada sisi lain yang juga mengganggu bagi saya. Tentang pergeseran makna puasa itu sendiri. Sepemahaman saya, puasa itu untuk menahan diri, menjaga diri kita dari hal-hal yang bahkan baik, misalnya makan di tengah hari. Lha kok saya melihat kontradiksi dari mereka yang “rajin” berpuasa sunnah ini.

Pertama, puasa adalah program diet dan penghematan uang. Kalau hanya sebatas itu niat puasanya, sayang betul. Mungkin seperti kata Rasul, dapetnya cuma laper dahaga aja, gak lebih. Diet sama penghematannya emang dapet. Tapi ruh puasanya itu, yang paling penting, malah bablas, gak dapet sama sekali.

Kedua, puasa tak ubahnya hanya penundaan saja atas keinginan untuk berlebih di malam hari. Menu buka puasanya luar biasa. Makan malamnya di cafe atau restoran dengan lauk yang lebih dari biasa dimakan. Ya itu akumulasi dari jatah sarapan dan makan siang yang memang tidak diambil karena “berpuasa”. Lalu mana sisi puasa sebenarnya? Ketika penahanan diri itu cuma semu. “Puasa” hanya menambah jatah malam kalau gitu mah. Mana keprihatinan sosialnya? Mana rasa untuk lebih pedulinya? Mana geliat amalnya? Ahhh….

Saya tak perlu minta maaf kalau memang ada yang tersinggung. Karena memang kalau yang merasa, ya harus tersinggung. Biar diperbaiki niat dan amal puasanya. jangan sampai dirusak hal-hal yang remeh temeh begitu. Studi kasus tentang puasa sunnah ini bisa diterapkan juga buat ngukur amal ibadah kita yang lain kok.

Parameternya sama. Kalau substansi amal itu tak kita dapat nilai lebihnya, berarti ada yang keliru dengan niat dan prakteknya. That’s all. Boleh kok amal ibadah ditunjukkan. Tak salah. Tapi ngerti lah ntar. Yang kayak gimana yang boleh ditunjukkan. Amal yang ditunjukkan biar bisa jadi contoh. Beda dengan yang kita bahas tadi. Saya pikir sih bukan contoh. Tapi buat eksis doang

Demikian #ngaji malam ini. Semoga bermanfaat. Semoga Allah meridhoi amal ibadah kita. Aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s