Kerupuk Gado-Gado

Bahkan saya tidak tahu namanya. Seorang pedagang gado-gado di dekat kosan saya. Umurnya setengah baya. Keberadaannya belum menjadi perhatian yang menarik bagi saya. Hingga pada suatu waktu, ketika saya sedang menikmati gado-gadonya saya tersipu malu.

Kerupuk yang ada di piring saya sudah habis saat itu. Saya pikir, oh ya sudah. Sudah habis kerupuknya. Selesai. Tapi, tiba-tiba beliau menawarkan kepada saya kerupuk tambahan. “Silakan Mas, ditambah kerupuknya”. Saya terkejut. Dalam hati bergumam, kalau menawarkan sekali seperti ini sih biasa. Namun, saya kembali terkejut ketika jatah kerupuk inipun habis, dia datang kembali. Menawarkan kerupuk tambahan lagi.


Sederhana. Hanya tukang gado-gado dan kerupuk. Namun, dari situlah saya belajar. Bahwa saya masih harus belajar untuk rela menawarkan kebaikan kepada orang di sekitar saya. Jangan menunggu mereka meminta. Karena ternyata saya memahami, kebaikan yang diberikan kepada kita tanpa diminta, punya kesan berbeda di hati, lebih mengena, dan mencerahkan nurani.

2 thoughts on “Kerupuk Gado-Gado

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s