Terima Kasih

Sebuah kebiasaan unik yang rutin saya lakukan ketika di UI adalah mengucapkan terima kasih ketika turun dari bis kuning. Sebetulnya simpel saja. Karena saya tak punya sepeda motor, bus kuning adalah transportasi yang paling masuk akal bagi mahasiswa dengan kantong cekak seperti saya. Rutinitas ini bagi Anda atau mungkin orang lain, terasa biasa saja. Namun, bagi saya, dan pengguna bus kuning UI, ucapan terima kasih itu punya makna spesial.

Ucapan terima kasih itu adalah “balas jasa” dari kebaikan pak supir yang telah mengantarkan kami. Naik bus kuning tak perlu membayar. Itu sudah termasuk dalam biaya semester yang kami bayarkan ke kampus. Dan ketika ucapan “terima kasih” itu terlontarkan kepada pak supir beriringan dengan turunnya kami dari bus, pak supir membalasnya dengan ucapan “sama-sama” atau senyuman manisnya.

Melihat senyuman itu mengajarkan kepada kami bahwa membahagiakan atau menghargai orang selalu bisa dilakukan dengan cara sederhana. Namun, acapkali saya sering lupa untuk mempraktekannya. Saya sering lupa untuk berterima kasih kepada orang lain. Juga kepada diri saya sendiri.

*terinspirasi dari tulisan ini