Hati-Hati dari Dosa

Bismillah, #ngaji kita mulai… 🙂 #pakesarung #pasangpeci. Materi #ngaji ini saya peroleh dari kiriman MP3 seorang teman dari Tegal.

MP3 itu berisi tentang seseorang yang mengajukan pertanyaan kepada seorang kyai. Pertanyaannya sederhana sekali, “kenapa sih hidup ini penuh krisis, banyak orang miskin, ngantri BBM?”. Dengan santainya sang kyai ini menjawab, “Sebenarnya tujuan kita diciptakan oleh Allah SWT, Dia gak pengen buat kita miskin”. “Allah juga nggak pengen buat kita susah. Bahkan sebaliknya, Allah menciptakan kita hanya dengan dua tujuan: yang pertama, dimuliakan. yang kedua, dimanja”.

Continue reading

Lima Syair

Lima Syair tentang Warisan Harta

(I)
Inilah syair pertama tentang secercah sejarah
Mengenai nabi Muhammad menjelang wafat
Ketika sakit beliau sudah terasa berat
Pada tabungannya yang sedikit jadi teringat
Menyedekahkannya belumlah lagi sempat
Maka Rasulullah berkata pada Aisyah
‘Aisyah, mana itu ashrafi?
Sedekahkanlah segera di jalan Allah
Berikanlah secepatnya pada orang tidak berpunya
Bila masih ada harta kutinggalkan
Di rumahku ini, pasti itu bakal jadi rintangan
Dan aku tak aman menghadap Tuhan.”
Sesudah tabungan itu dibagikan
Maka wafatlah beliau dengan aman

(II)
Inilah syair kedua tentang Khalid bin Walid
Perwira tinggi yang amat gagah berani
Seorang jenderal pertempuran yang sejati
Caranya mati dia sesali sendiri
Karena bukan gugur di medan pertempuran
Tapi karena sakit, mati di atas dipan
Mengenai harta benda yang dia tinggalkan
Hanya tiga jenis macamnya:
Sebilah pedang
Seekor kuda
Dan seorang pembantu rumah tangga

(III)
Inilah syair ketiga tentang Umar yang perkasa
Yang pernah menaklukkan Persia dan Roma
Yang kilatan pedangnya menggoncang kerajaan demi kerajaan
Yang perkasa, kaya serta berkuasa
Tetapi sesudah dia tiada lagi bernyawa
Warisannya cuma sehelai baju
Terbuat dari kain yang kasar
Dan uang lima keping
Seharga lima dinar

(IV)
Inilah syair keempat tentang Aurangzeb
Penguasa imperium Mughal di India
Luas dan jaya kerajaannya
Adil serta merata kemakmurannya
Dan ketka dia pergi menghadap Tuhan
Dia meninggalkan dua warisan
Pertama, uang sebanyak empat rupi dua anna
Hasil penjualan kopiah jahitannya
Kedua, uang sebanyak 305 rupi
Upah menyalin Quran dengan tangan
Dan semua itu ke mana pergi
Pada rakyat yang miskin habis dibagi-bagi

(V)
Inilah syair kelima tentang Sultan Shalahuddin
Pahlawan perang yang sangat harum namanya
Raja dari kawasan yang amat luasnya
Sultan dari kerajaan yang sangat makmurnya
Dan dia, pada hari wafatnya
Tidak mewariskan harta benda suatu apa
Karena seluruhnya sudah habis disedekahkannya
Pada kawula fakir miskin yang lebih
memerlukannya
Sehingga biaya pemakamannya
Adalah urunan dari sahabat-sahabatnya
Dan ada rakyat yang datang menyumbang batang-batang jerami
Untuk membuat batu bata
Sebagai pagar dari makamnya

*dikutip dari puisi karya Taufik Ismail

Bakso Khalifatullah

Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobaknya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”

Continue reading

Jenderal Terbaik

Beberapa, mungkin juga banyak, dari kita sering mengabaikan bahwa sebuah proses itu memang harus dijalani. Bukan satu dua hari. Tidak lah instan. Nggak mungkin sekali usaha langsung berhasil dan sukses gemilang.

Saya, juga Anda yang mau berhasil, ya harus melewati tahapannya. Pengusaha sukses ya tahapannya mau bekerja keras. Berani jualan sendiri. Bukan cuma ngomong “pengen bisnis ini, bisnis itu”, atau sekedar berwacana dan mengurusi analisis bisnis di atas kertas.

Continue reading