Mengapa Menulis?

Saya menulis karena mengasyikkan. Itu yang membuat saya bisa bertahan nge-blog, meskipun jamannya sudah berganti ke facebook, twitter, linkedln, myspace. Saya tidak ingat kapan tepatnya saya mulai merasa dunia menulis ini menyenangkan. Sama seperti ketika Anda hobi berbelanja dan merasa baik-baik saja menghabiskan ratusan ribu untuk sekali waktu. Juga tak beda dengan gamer yang betah berlama-lama di depan laptop bermain online game.

Tidak jelas juga genre menulis saya. Kalau membuka postingan lama di blog ini, senyum-senyum sendiri. Ada yang serius banget, karena postingannya adalah tulisan artikel yang harus saya submit di program beasiswa yang saya ikuti. Ada yang malah aneh banget, bahasanya acakadul nggak karuan πŸ˜€ Tapi, setelah dilihat-lihat lagi, tulisan saya pun berproses. Menuju ke arah yang lebih dewasa. Dengan diksi yang lebih kolaboratif dan tema-tema yang lebih beragam. Jadi, saya tak perlu meyesali postingan saya yang lama-lama kan? πŸ˜€


Bagi Anda, menulis mungkin membosankan. Nggak bermanfaat. Nggak menghasilkan uang. Mungkin iya. Toh, saya menulis juga bukan (hanya) karena materi. Toh, tidak ada banner iklan di blog ataupun google adsense. Paling tidak, saya bisa mendokumentasikan ide dan cerita yang saya alami. Mudah-mudahan juga bermanfaat bagi orang lain πŸ˜€

Dari intensitas menulis ini, materi (uang) memang tidak datang secara langsung. Karena teman-teman kampus tahu saya sering menulis, lalu dimintalah saya mengisi artikel rutin di buletin fakultas. Lingkupnya kecil sih. Tapi, dari situ saya dikenal banyak mahasiswa dan juga dosen πŸ˜€ Kemudian sampai saat ini berlanjut diminta rutin menulis di level jurnal kabupaten, di Tegal, kampung kelahiran.

Lewat menulis, saya pernah dapat hadiah materi dan uang juga. Lewat menulislah, saya pertama kali naik pesawat terbang menuju Jambi dari Jakarta. Juga dapat dana hibah dari proposal Program Kreativitas Mahasiswa. Alhamdulillah dapat hadiah tunai lewat lomba ini dan ini.

Oh ya, menulis juga memaksa kita untuk membaca lebih banyak lagi. Kenapa begitu? Penjelasannya sederhana. Kita tentu nggak mau tulisan kita monoton tentang tema itu lagi-itu lagi. Atau kosakatanya sedikit sehingga jadi membosankan dan monoton. Cara untuk mengatasinya ya cuma satu. Memperbanyak bacaan. Dan bacaannya bukan ansich buku saja. Bisa lewat peristiwa keseharian atau jalan-jalan. Kita dituntut untuk lebih sensitif dalam memperhatikan sesuatu sehingga bisa jadi bahan tulisan.

Kalau masih merasa kesulitan menulis, mulai menulis saja. Di manapun. Bisa di diarimu. Di blogmu. Di catatan facebook-mu. Di twitter-mu. Menulis saja. Biarkan ia ada dulu. Proseslah yang akan mengubahnya menjadi lebih baik. Karena perjalanan ribuan mil, selalu diawali dari langkah pertama πŸ˜€

Advertisements

2 thoughts on “Mengapa Menulis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s