Cinta Dua Tahun

Halo Unda,

Dua tahun lalu di tanggal ini, ayah selalu ingat, ketika itulah ayah mengucapkan janji setia, mengambil perwalian unda dari keluarga unda. Hari itu status ayah resmi berubah menjadi seorang suami. Dan sejak saat itu pula, kita berdua berjuang bersama-sama. Tahun pertama pernikahan kita tinggal berdua di kontrakan. Itu komitmen kita berdua sebelum menikah, bahwa kita harus mandiri. Apa unda masih ingat bermacam keseruan di kontrakan? Dari mulai tetangga tukang es, ibu haji depan rumah yang kalau ngomong berasa kayak teriak, sampai ibu ketua RT yang kuat ngobrol berjam-jam kalau bertamu ke rumah sampai ayah terkantuk-kantuk. Hahaha….

Berumah tangga mendorong kita belajar banyak hal secara langsung. Tentang bagaimana memahami perasaan pasangan, berkomunikasi, mengendalikan marah, dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Dua tahun kebersamaan ini, buat ayah, sudah mengubah ayah menjadi lebih matang dalam banyak hal. Hidup ayah lebih terarah, punya orientasi dan target. Mungkin unda juga begitu. Ada masa-masa di mana kita saling bercerita tentang mimpi masing-masing, tentang Carissa, tentang keluarga, tentang pekerjaan, dan apapun yang ingin kita ceritakan. Juga ada masa ketika salah satu dari kita harus mengalah dan berkompromi atas pilihan yang tak kita sepakati, atau tentang kekurangan salah satu di antara kita.

Dua tahun, masih sangat muda bagi umur sebuah pernikahan. Masih panjang jalan yang harus kita berdua tempuh. Masih banyak rencana hidup yang telah kita berdua diskusikan sebelum pernikahan harus bersama diperjuangkan. Ayah tidak pernah meminta kepada Allah supaya keluarga kita selalu diberikan kebahagiaan. Karena ayah tahu, kematangan iman, akhlak dan akal kita tidak akan terbentuk jika hidup selalu bahagia. Hidup akan memberi bermacam warna: sedih, bahagia, kecewa, marah, takut, cemas. Maka, ayah berdoa supaya Allah menguatkan ikatan hati, kokohnya lengan, dan tegaknya kaki keluarga kita. Sehingga apapun yang dihadapi, kita ikhlas dan ridho menjalaninya bersama. Bahwa selalu ada campur tangan Allah dalam apa yang kita lakukan.

Terima kasih untuk segala warna dua tahun ini. Unda dan Carissa adalah salah satu anugerah paling luar biasa dalam hidup ayah.

 

Catatan dari Kaiserslautern: Pemilu

Sabtu kemarin tanggal 5 April 2014, saya dan teman-teman dari Kaiserslautern dan Saarbucken berbondong-bondong menuju Frankfurt. Ada dua tujuan kunjungan kami. Pertama, untuk mengikuti pemilu yang diadakan KJRI Frankfurt. Kedua, untuk makan-makan dan jalan-jalan 🙂 Rombongan kumpul di stasiun Kaiserslautern. Kami berangkat pukul 08.58 menuju Mannheim. Kami tidak perlu membayar kereta ke Mannheim karena sudah tercover oleh biaya semester tiket kami sebagai mahasiswa. Perjalanan ke Mannheim sekitar 1 jam. Saat transit, baru kami membeli tiket perjalanan ke Frankfurt. Kami membeli tiket grup, yaitu satu tiket untuk 5 orang. Biayanya 32 Euro, lebih murah jika dibandingkan membeli tiket perorangan. Di Mannheim, kami bertemu teman-teman dari Offenburg yang mau ikut pemilu juga.

Kami tiba di stasiun Frankfurt sekitar pukul 12. Karena kebanyakan di antara kami belum terdaftar di DPT, maka baru bisa mencoblos setelah pukul 15.00. Sambil menunggu waktunya tiba, kami pun makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran Cina Melayu. Setelah makan, meskipun baru pukul 13.30-an, kami memutuskan ke KJRI terlebih dahulu. Ternyata KJRI Frankfurt sudah ramai oleh massa. Kegiatan pemilu ini juga diramaikan oleh bazaar yang menjual makanan khas Indonesia dan teh botol 🙂 Karena perut baru saja kenyang, saya tidak membeli apapun, meskipun sangat ingin.

Beberapa teman yang datang tidak diperbolehkan untuk memilih di lokasi karena sudah dikirimi kertas suaranya lewat pos. Kebijakan ini bagus supaya kertas suaranya lebih optimal digunakan oleh para pemilih. Pukul 14.45 petugas pemilu meminta massa untuk mulai membuat antrian. Saya memutuskan untuk sholat terlebih dulu. Ternyata setelah 30 menit ditinggal sholat, antriannya sudah panjang luar biasa. Persis antri BLT di depan kantor pos 🙂 Baru sekitar 1 jam kemudian tiba giliran saya masuk ke bilik suara.

Adapun proses pemberian suaranya adalah sebagai berikut. Kami diminta mengisi form dan menyerahkan passpor kepada petugas. Setelah diinputkan datanya, baru kami dipanggil masuk ke TPS. Kami diminta duduk sambil menunggu petugas memanggil. Setelah dipanggil, petugas menunjukkan kertas suaranya. Memastikan kepada kami bahwa kertas suaranya masih utuh, tidak ada bekas coblosan atau tanda tertentu. Setelah itu, kami dipersilakan masuk ke bilik suara. Petugas meminta handphone kami ditaruh di wadah yang sudah disiapkan. Baru kami boleh mencoblos di salah satu bilik.

Antusiasme pemilih di KJRI Frankfurt pada pemilu kali ini sangat luar biasa. Bahkan meningkat jauh dibandingkan pada pemilu sebelumynya. Kebanyakan dari para pemilih kali ini adalah pelajar. Bagi saya, antusiasme ini adalah gambaran dari sebuah harapan. Bahwa teman-teman peduli dengan nasib bangsa yang lebih baik pada masa yang akan datang. Tentang partai apa yang Anda pilih, itu tergantung dari keputusan Anda. Tentu sudah mempertimbangkan banyak hal. Saya tidak berada dalam posisi diperbolehkan untuk mengarahkan ke calon tertentu. Posisi saya sekarang adalah pegawai negara. Saya ingat dulu saat Orde Baru berkuasa, banyak dari kita, juga saya, tidak sepakat karena pegawai negara diarahkan untuk berkampanye dan mendukung salah satu partai. Karena itu, ketika saya berada di posisi tersebut, saya harus konsisten dengan apa yang telah saya nyatakan.

Lewat tulisan ini, saya mengajak rekan-rekan sekalian di manapun berada untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2014 ini. Satu suara kita adalah salah satu kontribusi terhadap Indonesia yang akan datang. Pastinya kontribusi ini tidak hanya lewat pemilu. Kita bayar pajak, kita bersihkan lingkungan, kita santuni anak yatim, kita bekerja secara profesional, dan masih banyak lainnya. Semoga gusti Allah memberkahi Indonesia, memilihkan pemimpin-pemimpin yang sholeh, bersih, dan bisa membawa kebaikan bagi negeri ini. Aamiin…

Pemilu Frankfurt