Generasi Radio

Saya mengenal radio sejak SD. Setiap pagi, Bapak selalu menyetel radio untuk menemani aktivitas pagi di rumah. Bapak mencuci pakaian, ibu memasak, saya dan adik dapat jatah menyapu, menyiapkan baju, sepatu, juga mengeluarkan sepeda ke halaman depan. Bapak biasa menyetel radio untuk mendengarkan ceramahnya KH Zainuddin MZ. Pada jam 6, radio menyiarkan berita relay dari KBR68H. Begitu terus rutinitas pagi kami, sampai-sampai saya hafal isi ceramahnya KH Zainuddin MZ kata per katanya, hehehe….

Radio juga menjadi tempat saya dan adik berburu hadiah. Biasanya sore hari, ada radio yang rutin mengadakan kuis. Dengan bekal telepon rumah, kami berdua bekerjasama menjawab dan menghubungi radio tersebut. Kesulitan terbesar adalah bagaimana caranya supaya telepon kami masuk. Entah tepat atau keliru, sampai-sampai kami punya strategi yang aneh. Misalnya, dengan menekan nomor telepon radio tersebut, tapi menyisakan nomor terakhir yang baru ditekan ketika penyiar selesai memberikan pertanyaannya. Ya, lumayan lah dapat hadiah kuis radio. Nilainya memang tak besar, tapi serunya luar biasa 😀

Saat beranjak remaja, belum ada MP3 saat itu. Jadi kalau ingin mendengarkan aneka lagu yang lagi ngehits, ya harus dari radio. Kalau punya duit banyak, bisa ke toko kaset dan beli macam-macam kaset yang disukai. Nah, saat remaja inilah saya punya hobi yang aneh karena cekaknya duit yang saya punya, hehehe… Hobinya adalah merekam lagu-lagu hits yang saya sukai dari radio. Jadi, saya membeli kaset kosong. Kemudian, setiap sore atau malam, saya mantengin radio tape SONY, menunggu lagu yang saya incar. Lalu, ya tinggal tekan tombol REC sampai lagunya selesai diputar. Yang nyebelin adalah kalau suara penyiarnya ikut kerekam di awal atau akhir lagu, atau ketika saya telat menekan tombol STOP sehingga iklan juga ikut terekam. Ya terpaksa ditimpa rekaman itu, ganti dengan rekaman lagu yang lain. Saya lupa ada berapa kaset rekaman yang saya punya. Dan entah di mana posisinya sekarang. Mungkin sudah terbuang, hehehe…

Ketika pertama kali datang ke UI untuk registrasi, barang yang dibelikan pertama kali oleh Bapak kepada saya adalah radio tape. Radionya model klasik, tapi kualitas suaranya oke. Dengan radio itulah yang menemani awal-awal saya tinggal di asrama UI dan membuka pertemanan dengan teman-teman satu lorong. Ketika radio berpindah tangan karena dipinjam teman depan kamar saya yang bernama Faisal, beberapa kali kamarnya sering jadi tempat ngumpul geng lorong karena dia sering mengajak ndengerin sebuah program radio (saya lupa namanya :D) dan berakhir dengan ngobrol dan minum teh bareng. Adapun nasib radio itu sendiri sudah saya berikan ke adik kelas setelah saya lulus 😀

Saya tidak tahu di radio lain seperti apa, di sesi kirim salam lewat telepon di radio-radio Tegal terasa betul kehangatan antara penyiar dan pendengarnya. Obrolannya sangat-sangat akrab seperti teman dekat, khas dengan logat Tegalnya. Sering saya ikut tersenyum, bahkan tertawa mendengarnya. Karena itulah, bagi saya, radio lebih dari sekedar media. Ada banyak kenangan yang saya lalui bersama radio. Ada keakraban yang khas yang saya temukan hanya ada di radio. Mungkin Anda juga merasa begitu?

2 thoughts on “Generasi Radio

  1. Halo Mas Afif! Kuliah lancar? 😀
    Setujuuu, aku juga generasi radio. Waktu SD dengerin radio Kids FM, taglinenya: radionya anak-anak. Isinya lagu-lagu anak, dongeng-dongeng, pembahasan soal-soal yang disponsori suatu bimbel. SMP sampe kuliah dengerin Oz Radio Bandung. Di sini mulai suka telepon untuk kirim-kirim salam dan ikutan kuis. Iya emang seru banget ikutan kuis radio itu. Kalo menang, hadiahnya diambil ke stasiun radionya. Sekalian main dan kenalan dengan beberapa penyiar dan kru. Aku malah sempat ikut klubnya segala. Memasuki dunia kerja, setiap hari streaming radio tapi mulai ganti-ganti antara Prambors atau Oz Radio Bandung. Setuju, radio bukan hanya sekedar media, ada banyak kenangan yang dilalui bersama radio. 🙂

  2. halo mbak tiari. alhamdulillah, kuliah ya begitulah. khas jerman dengan segala tantangannya 😀

    wuidih, pengalaman dengan radionya lebih banyak dan variatif dari saya euy, hahaha…. mungkin radio di kota besar jauh lebih variatif daripada di kota kecil sih ya. ditunggu nih, tulisannya tentang kenangan bersama radio. bisa jauh lebih komplit daripada cerita saya kayaknya, heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s