Keberkahan Rezeki

kalau rezeki kita seringnya datang dari rutinitas dan gampang kita duga, mungkin kita belum jadi hamba yang bertaqwa (QS Ath-Thalaaq: 2-3)

Nabi Ibrahim as menggambarkan hubungannya dengan Allah SWT dalam beberapa kalimat yang luar biasa. Detailnya dapat dilihat pada QS Asy Syu’ara ayat 78-82. Salah satunya adalah “dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku”. Kalimatnya sederhana, tetapi memiliki kekuatan iman luar biasa. Kita mengira bahwa satu-satunya jalan rezeki kita adalah angka gaji atau pekerjaan kita. Rezeki itu sangat luas dengan kebaikan-kebaikan yang dijaminkan oleh Allah SWT. Yang keluar masuk menjadi manfaat, namanya rezeki. Disebut rezeki berkah kalau keluar masuknya memberi manfaat sekaligus menguatkan ketaatan dan ibadah kita kepada Allah.

Gambaran hakikat rezeki sudah diajarkan orangtua saat kita masih kecil melalui senandungnya, Cicak-Cicak di Dinding. Kalau kita memosisikan diri sebagai cicak yang bisa berpikir, mungkin kita akan komplain kepada Allah SWT, bahwa Allah SWT sudah salah desain. Kita adalah cicak yang hanya bisa merayap, tetapi Allah SWT ciptakan makanannya berupa nyamuk yang bisa terbang ke mana-mana. Lantas, bagaimana caranya cicak ini bisa makan dengan kondisi demikian. Coba ingat lagi lirik lagunya. Ternyata bukan cicak yang mengejar nyamuk, melainkan nyamuk itu sendiri yang datang kepada cicak. Hap, lalu dimakan 😀 Subhanallah!

Rezeki itu bukan yang tertulis di angka-angka gaji. Bagi perempuan yang belum menikah, ketika nanti menyeleksi calon suami, jangan cuma dilihat angka gajinya, lihat juga potensi rezekinya. Ada orang yang gajinya besar, tetapi rezekinya kecil. Kok bisa? Ada laki-laki bergaji 100 juta per bulan, tetapi mau makan gurih, dilarang dokter karena kolesterolnya tinggi. Mau minum manis, ada diabetesnya. Mau makan yang asin, ada hipertensinya. Sebagian dari rezeki itu sudah diambil kenikmatannya oleh Allah SWT.

Jangan juga mengira rezeki itu apa yang dipunya atau bisa dibeli. Di Jogja, ada pengusaha rumah makan yang memilik omzet miliaran per bulan, tidak bisa tidur di kasur karena punggungnya sakit. Tidurnya harus di atas tikar pandan dari Magelang, tidak bisa menggunakan tikar dari daerah lain. Hanya dari tikar itu, dia bisa tidur. Selain itu, nggak bakalan bisa tidur.

Rezeki itu betul-betul karunia Gusti Allah. Makanan lezat dan mahal bisa dibeli, tapi kadang-kadang lezatnya makan dikaruniakan Allah SWT hanya kepada nasi putih dan sambel bawang. Ranjang yang empuk bisa dibeli, tapi nikmatnya tidur kadang dikaruniakan Allah lewat nikmatnya tidur di trotoar beralas koran.

Ada seseorang yang punya penghasilan 5 dirham (sekitar Rp 500.000,00) sehari datang kepada Imam Syafi’i. Dia mengadu kepada Imam Syafi’i, bahwa penghasilannya itu tidak cukup memenuhi kebutuhan rumah tangganya, istrinya selalu mengeluh dan cemberut, anaknya bandel susah diatur, rasanya dunia begitu sempit baginya. Kemudian Imam Syafi’i memberi nasihat, nanti datang ke majikanmu lalu mintalah upah darinya 4 dirham saja sehari.

Beberapa pekan berlalu, datanglah kembali orang ini. Dia menceritakan kepada Imam Syafi’i, dengan upahnya yang 4 dirham sehari, kebutuhan keluarganya ternyata lebih dapat dicukupi, tetapi istrinya masih cemberut dan anak-anaknya masih sering ngeyel. Kemudian Imam Syafi’i memberikan nasihat lagi, kalau begitu nanti datang ke majikanmu dan mintalah upah untukmu hanya 3 dirham saja sehari.

Setelah upahnya hanya 3 dirham sehari, kehidupan rumah tangganya membaik, istrinya semakin banyak senyum, anak-anaknya semakin taat, sholeh, berbakti kepada orang tuanya. Imam Syafi’i menjelaskan penyebabnya: “Sebab jika engkau bekerja dan pekerjaanmu hanya layak dibayar 3 dirham lalu engkau mengambil yang 5 dirham, maka yang 2 dirham itu tidak halal bagimu. Setiap kali yang haram mencampuri yang halal, pasti akan merusaknya. Adapun ketika sesuatu itu bersih dan halal, maka Allah memberkahinya: menjadikannya kecukupan, kebaikan dan kebahagiaan”.

Maka kalau pekerjaan Anda, masuk kantor, absen, baca koran, main pingpong, ngobrol-ngobrol, masuk kantin, ngopi-ngopi, nonton TV lalu digaji oleh rakyat senilai 10 juta sebulan, kedzoliman apa yang sedang Anda masukkan ke dalam diri Anda sendiri? Hanya menyampaikan bahwa hakikatnya demikian: pekerjaan yang layak dibayar tinggi tetapi Anda peroleh rendah, maka Anda sedang menabung kebaikan-kebaikan yang sangat banyak. Tapi pekerjaan yang sangat sepele dan remeh dan tidak ditunaikan dengan baik, sementara gajinya tetap dibayar penuh, Anda sedang menanggung keburukan-keburukan.

Tugas kita selaku manusia adalah bekerja karena bekerja itu hakikatnya adalah ibadah. Di mana Allah letakkan rezeki, semakin banyak kejutannya, mudah-mudahan semakin tanda bahwa kita orang bertaqwa. Ketika Siti Hajar bolak-balik ke Shofa dan Marwa’ sebanyak 7 kali mencari sumber air untuk bayinya yang bernama Ismail as, ternyata sumber airnya memancar di dekat kaki Ismail as. Itulah hakikat rezeki dari Allah SWT. Allah SWT letakkan di manapun dia suka, mudah-mudahan semakin penuh kejutan, itu tanda kita bertaqwa, agar kita lebih mudah bersabar dan bersyukur.

disarikan dari sebagian tausiyah Salim A Fillah di sini

One thought on “Keberkahan Rezeki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s