Infaq Masjid

Kalau ke masjid pas sholat Jumat, saya selalu mendengarkan petugas masjid menyampaikan kondisi kas masjid sebelum khatib naik mimbar. Kayak-kayaknya saya belum pernah mendengar saldo kas masjid bernilai 0 rupiah. Biasanya sih berjuta-juta. Apalagi kalau masjid besar, jauh lebih banyak lagi. Sampai suatu ketika, saya terkejut mendengarkan paparan ustadz Salim A Fillah di salah satu acara di Jerman, tentang pemberdayaan masjid yang dikelola beliau.

Namanya Masjid Jogokariyan. Namanya bukan nama islami seperti masjid-masjid di Indonesia pada umumnya. Namun, menurut beliau, begitulah contoh Rasul memberi nama masjidnya, menggambarkan lokasi medan dakwahnya. Masjid Jogokariyan ya medan dakwahnya di Jogokariyan, Jogja. Bukan daerah lain.

Di masjid ini, pengurusnya justru senang kalau saldonya nol. Beda dengan masjid lain di Indonesia yang berlomba-lomba memperbesar saldonya di corong-corong pengeras suara. Kenapa saldonya bisa sampai nol? Dananya digunakan untuk memastikan di sekitar Jogokariyan nggak ada yang kelaparan, nggak ada yang putus sekolah. Saya sependapat dengan beliau. Karena di situlah seharusnya masjid hadir memberikan solusi nyata persoalan umat di sekitarnya.

Hal unik lainnya adalah dana dakwah masjidnya digunakan untuk membuat peta dakwah umat di sekitar masjid. Jadi masjid tahu dan paham keluarga mana yang sering ke masjid, mana yang jarang, mana yang tidak pernah, mana yang anti terhadap islam, dan sebagainya. Petanya divisualisasikan dengan warna yang berbeda seperti hijau, kuning, dan merah. Dengan peta itu, pola dakwah bisa dibuat lebih tepat dengan pendekatan yang berbeda untuk setiap segmennya.

Pernah suatu waktu, untuk mengundang jamaah Subuhnya, masjid membuat undangan yang keren seperti undangan resepsi pernikahan. Kesannya, event sholat Subuh bener-bener dianggap spesial. Dan memang harusnya demikian. Hasilnya, jamaah sholat Subuhnya sama penuhnya seperti sholat Jumatnya.

Dari cerita beliau, saya mendapat ilmu baru tentang cara memakmurkan masjid. Yang terjadi di tengah masyarakat adalah bagaimana orang berlomba-lomba berinvestasi akhirat dengan memperbanyak membangun masjid dengan kesibukan rehab sana sini, tapi membiarkannya hampa dan abai terhadap permasalahan masyarakat di sekitarnya.

Belum Tentu

Dalam suatu obrolan random lewat telepon dengan Ibu, tiba-tiba saja saya nyeletuk, “Dulu saat anggota keluarga lengkap, kita tinggal di rumah yang kecil. Sekarang saat ibu dan bapak punya rumah yang lebih besar, malah hanya ibu bapak saja yang menempati rumahnya. Anak-anaknya sudah pada entah ke mana”.

Saat saya masih SD sampai SMA, rumah kami lebih kecil dari rumah sekarang, luasnya kira-kira setengahnya. Dengan membaiknya kondisi keuangan keluarga, alhamdulillah ketika saya kuliah masuk tahun ke dua, orang tua menjual rumah lamanya, kemudian dibelilah rumah yang ditinggali saat ini.

Satu waktu saya ingat, waktu masih kuliah pengin kerja dapat duit yang lebih banyak dari ngajar les privat, biar bisa makan lebih enak, jalan-jalan naik kereta atau pesawat. Sekarang saat kondisi kantong lebih baik dari dulu, justru waktu dan kesibukan membuat saya tidak bebas pergi ke mana-mana. Alhamdulillah untuk makanan, masih tidak ada halangan untuk makan makanan pinggir jalan, berkolesterol, dan makanan “jahat” lainnya.

Bukan. Saya tidak sedang mengajari untuk tidak mensyukuri nikmat yang gusti Allah kasih buat saya hari ini. Saya mengingatkan diri saya sendiri, bahwa belum tentu sesuatu yang saya ingini, bisa tercapai mulus. Ada harga yang, terkadang, diambil sebagai gantinya.

Menulis Lagi

Sudah lebih dari setahun saya belum menulis lagi, baik di blog maupun facebook. Sampai-sampai domain blog akhdaafif.com juga ikutan kadaluarsa. Mau diperpanjang lagi, eh ternyata sudah dibeli dan dijual lagi seharga lebih dari seribu dolar. Sayang bener buat beli balik. Ya kembali lagi pakai domain asal gratisan di akhdaafif.wordpress.com.

Blog kayaknya bukan media yang menarik lagi buat banyak orang. Generasi sekarang lebih banyak orang untuk berekspresi instan di twitter, atau posting foto dengan caption ala-ala pakar motivasi di instagram, atau juga edit-edit video di youtube. Tuntutan media sosial memang sudah berubah. Dan wajar sih di tengah tuntutan era instan. Apa-apa maunya cepat.

Saya mau mengawali tulisan saya lagi dengan kisah kegagalan saya di Kaiserslautern. Jadi, saya dikeluarkan dari TU Kaiserslautern. Sesuai aturan pendidikan di Jurusan Ilmu Komputer TU Kaiserslautern, setelah gagal 3 kali ujian di satu mata kuliah, diberikan satu kali ujian lisan. Jika semuanya gagal, maka mahasiswa tersebut dikeluarkan dari kampus dan dilarang kuliah di jurusan yang sama. Jadi walaupun mahasiswa tersebut sudah banyak lulus mata kuliah bahkan skripsi, dan gagal lulus satu mata kuliah, ya tetap dikeluarkan. Saya malu dan depresi setelah kejadian itu. Alhamdulillah, gusti Allah membantu menenangkan saya lewat keluarga, khsusunya istri dan orang tua. Saya sampai berpikir keluar dari kantor karena malu, semalu-malunya. Saya telah mengecewakan keluarga; guru-guru pemberi rekomendasi, Bu Kasiyah, Pak Adila, Pak Yugo; atasan dan teman-teman kantor; juga Kominfo sebagai pemberi beasiswa.

Saya kemudian mengabari pengelola beasiswa, cerita semuanya. Singkat cerita saya pun kembali ke Indonesia, kembali ke kantor lagi. Saya dipanggil pejabat pengelola beasiswa, ditanya ini itu, saya jawab apa adanya. Sempat takut bakal dimarahi habis-habisan. Justru, beliau memberi semangat saya lagi untuk cari beasiswa dan kuliah. Kaget juga. Saya jawab, saat ini mental saya masih down, terima kasih atas saran ibu, saya perlu waktu untuk kembali membangkitkan mental saya.

Yang juga luar biasa lagi adalah respon teman-teman di satuan kerja saya. Semuanya menguatkan dan memenangkan. Saya dilibatkan lagi dalam pekerjaan-pekerjaan. Tidak beda jauh dengan sebelum keberangkatan saya ke Jerman. Ketika bertemu dengan orang yang saya kenal di kantor yang bertanya saya sudah pulang, saya cerita saja apa adanya. Kalau nggak bertanya, ya saya nggak cerita. Responnya ada yang menyayangkan, ada yang melihat dari perspektif lain. Macem-macem. Saya belajar melihat bahwa satu peristiwa bisa disikapi dari berbagai perspektif. Bisa direspon positif, bisa direspon negatif. Ya begitulah hidup. Ada yang menyenangkan, ada kisah sedihnya, ada nangisnya, ada ketawanya. Variasi rasanya. Toh, belum tentu yang menyenangkan itu baik, yang sedih gagal kecewa itu pasti buruk. Gusti Allah Maha Suka-suka. Jangan saya ngatur-ngatur Dia. Makhluk kok ngatur-ngatur gusti Allah. Minta doa supaya diberikan yang terbaik, tapi dikasih gagal yang menurut Gusti Allah terbaik, saya mangkel sama Allah. Yang saya pahami, kalau dikasih yang terbaik itu pasti senang, beruntung, harta banyak, dikabulkan doa-doanya saya. Ya, belum tentu. Nasihat itu bener-bener bikin saya mak jeblug.

Sekarang saya tinggal di rumah mertua di Serpon. Lagi ikhitar beli rumah. Sehari-hari naik KRL Serpong-Tanah Abang. Lama perjalanan kereta antar 40-50 menit sekali jalan. Nggak terlalu lama. Dari situ saya mengamati banyak hal. Misalnya, stasiun Sudimara saya kasih label stasiun neraka. Soalnya, saat pagi penumpang yang naik dari stasiun itu luar biasa jumlahnya. Gerbong yang awalnya kosong atau setengah kosong, langsung penuh sesak di stasiun tersebut. Kemudian, ketika naik kereta pulang dari stasiun Tanah Abang, tipikal penumpang yang naik terlihat dari jurusan akhir keretanya. Saya menamainya penumpang Serpong dan penumpang Parungpanjang Maja. Penumpang Serpong ini adalah penumpang yang tujuan akhirnya stasiun Serpong atau sebelumnya. Penumpang tipe ini tipe penumpang rapi, penumpang kantoran. Adapun penumpang Parungpanjang Maja, mayoritas tipe penumpang orang menengah dan miskin. Berasa banget perbedaan naik dua kereta itu kalau sore. Penumpang Serpong masih wangi-wangi, bawaannya HP HP terbaru, sepanjang jalan asik sendiri dengan gadgetnya. Kalau penumpang Parungpanjang Maja, penuh bau keringat, raut wajah lelah dan terbakar matahari, rame ngobrol dengan bahasa Sunda kasar, badan dan bajunya lebih lusuh daripada penumpang Serpong.

Jagoan kecil kami sudah gede sekarang, sudah bisa cerita macam-macam. Siang atau sore saya berada di kantor, dia kadang telepon kemudian bertanya, “Ayah kok lama?”. Sampai di rumah, juga disambut pertanyaan yang sama, dengan berondongan ceritanya yang macam-macam. Dari mulai main sama teman sebayanya, jalan-jalan ke masjid, cerita ikan di kolam masjid, cerita tentang mainannya. Capek sih habis berdesakan di KRL, tapi melihat jagoan ini antusias mengajak ayahnya bermain, ya jadi ilang capeknya. Ini yang namanya nikmat bernama anak ya. Kalau mengutip bahasa Quran, istri/suami dan anak itu adalah fitnah/ujian/cobaan.

Setiap pagi, seringkali Afifah ini nggak mau melepas ayah bundanya ke kantor. Alasannya macam-macam. Yang paling sering, minta diajak keliling komplek sambil naik motor. Kalau lagi ok, sekali putar mau ditinggal. Kalau lagi rewel, ya putar-putarnya lama. Sepulang kerja, ayahnya diajak main masak-masakan, kuda-kudaan, lompat, lari, sampai dia capai dan minta bobo. Kalau ada dinas luar kota, selalu kangen sama Afifah. Kangen mendengarkan cerita-ceritanya yang beraneka rupa dan pola tingkahnya.

Beberapa waktu lalu, saya mendaftarkan diri ikut program sekolahfiqih.com yang diasuh oleh Rumah Fiqih. Kalau selesai programnya, ada 8 level. Materinya disampaikan secara tertulis juga lewat video. Dari bab 1 yang baru saya ikuti, materinya memuaskan. Apalagi buat saya yang masih awam dan tertarik belajar fiqih, konten yang diberikan lebih dari cukup, menurut saya. Pemaparannya detail, membahas dari banyak sudut pandang, dan mengedepankan toleransi dalam memahami perbedaan pemahaman yang disampaikan oleh para ulama salaf dan kontemporer. Silakan kalau ada yang berminat, buka saja di sekolahfiqih.com. Mungkin suatu waktu akan saya tuliskan di blog ini.

Ternyata, ngalor ngidul juga tulisannya. Hahaha. Cukup sampai di sini nulisnya. Mudah-mudahan bisa nulis lagi di lain kesempatan. Mungkin pekan depan, bulan depan. Belum tahu juga pastinya. Lagi mengondisikan jarang pegang hp atau laptop di rumah. Soalnya anak suka ikut-ikutan. Itu yang kami berdua coba kurangi. Biar si kecil olah fisiknya dulu pada masa tumbuh kembangnya sekarang. Nah, kalau saya bisa nulis sepanjang ini, tandanya saya lagi jauh dari rumah. Hahaha