Menulis Lagi

Sudah lebih dari setahun saya belum menulis lagi, baik di blog maupun facebook. Sampai-sampai domain blog akhdaafif.com juga ikutan kadaluarsa. Mau diperpanjang lagi, eh ternyata sudah dibeli dan dijual lagi seharga lebih dari seribu dolar. Sayang bener buat beli balik. Ya kembali lagi pakai domain asal gratisan di akhdaafif.wordpress.com.

Blog kayaknya bukan media yang menarik lagi buat banyak orang. Generasi sekarang lebih banyak orang untuk berekspresi instan di twitter, atau posting foto dengan caption ala-ala pakar motivasi di instagram, atau juga edit-edit video di youtube. Tuntutan media sosial memang sudah berubah. Dan wajar sih di tengah tuntutan era instan. Apa-apa maunya cepat.

Saya mau mengawali tulisan saya lagi dengan kisah kegagalan saya di Kaiserslautern. Jadi, saya dikeluarkan dari TU Kaiserslautern. Sesuai aturan pendidikan di Jurusan Ilmu Komputer TU Kaiserslautern, setelah gagal 3 kali ujian di satu mata kuliah, diberikan satu kali ujian lisan. Jika semuanya gagal, maka mahasiswa tersebut dikeluarkan dari kampus dan dilarang kuliah di jurusan yang sama. Jadi walaupun mahasiswa tersebut sudah banyak lulus mata kuliah bahkan skripsi, dan gagal lulus satu mata kuliah, ya tetap dikeluarkan. Saya malu dan depresi setelah kejadian itu. Alhamdulillah, gusti Allah membantu menenangkan saya lewat keluarga, khsusunya istri dan orang tua. Saya sampai berpikir keluar dari kantor karena malu, semalu-malunya. Saya telah mengecewakan keluarga; guru-guru pemberi rekomendasi, Bu Kasiyah, Pak Adila, Pak Yugo; atasan dan teman-teman kantor; juga Kominfo sebagai pemberi beasiswa.

Saya kemudian mengabari pengelola beasiswa, cerita semuanya. Singkat cerita saya pun kembali ke Indonesia, kembali ke kantor lagi. Saya dipanggil pejabat pengelola beasiswa, ditanya ini itu, saya jawab apa adanya. Sempat takut bakal dimarahi habis-habisan. Justru, beliau memberi semangat saya lagi untuk cari beasiswa dan kuliah. Kaget juga. Saya jawab, saat ini mental saya masih down, terima kasih atas saran ibu, saya perlu waktu untuk kembali membangkitkan mental saya.

Yang juga luar biasa lagi adalah respon teman-teman di satuan kerja saya. Semuanya menguatkan dan memenangkan. Saya dilibatkan lagi dalam pekerjaan-pekerjaan. Tidak beda jauh dengan sebelum keberangkatan saya ke Jerman. Ketika bertemu dengan orang yang saya kenal di kantor yang bertanya saya sudah pulang, saya cerita saja apa adanya. Kalau nggak bertanya, ya saya nggak cerita. Responnya ada yang menyayangkan, ada yang melihat dari perspektif lain. Macem-macem. Saya belajar melihat bahwa satu peristiwa bisa disikapi dari berbagai perspektif. Bisa direspon positif, bisa direspon negatif. Ya begitulah hidup. Ada yang menyenangkan, ada kisah sedihnya, ada nangisnya, ada ketawanya. Variasi rasanya. Toh, belum tentu yang menyenangkan itu baik, yang sedih gagal kecewa itu pasti buruk. Gusti Allah Maha Suka-suka. Jangan saya ngatur-ngatur Dia. Makhluk kok ngatur-ngatur gusti Allah. Minta doa supaya diberikan yang terbaik, tapi dikasih gagal yang menurut Gusti Allah terbaik, saya mangkel sama Allah. Yang saya pahami, kalau dikasih yang terbaik itu pasti senang, beruntung, harta banyak, dikabulkan doa-doanya saya. Ya, belum tentu. Nasihat itu bener-bener bikin saya mak jeblug.

Sekarang saya tinggal di rumah mertua di Serpon. Lagi ikhitar beli rumah. Sehari-hari naik KRL Serpong-Tanah Abang. Lama perjalanan kereta antar 40-50 menit sekali jalan. Nggak terlalu lama. Dari situ saya mengamati banyak hal. Misalnya, stasiun Sudimara saya kasih label stasiun neraka. Soalnya, saat pagi penumpang yang naik dari stasiun itu luar biasa jumlahnya. Gerbong yang awalnya kosong atau setengah kosong, langsung penuh sesak di stasiun tersebut. Kemudian, ketika naik kereta pulang dari stasiun Tanah Abang, tipikal penumpang yang naik terlihat dari jurusan akhir keretanya. Saya menamainya penumpang Serpong dan penumpang Parungpanjang Maja. Penumpang Serpong ini adalah penumpang yang tujuan akhirnya stasiun Serpong atau sebelumnya. Penumpang tipe ini tipe penumpang rapi, penumpang kantoran. Adapun penumpang Parungpanjang Maja, mayoritas tipe penumpang orang menengah dan miskin. Berasa banget perbedaan naik dua kereta itu kalau sore. Penumpang Serpong masih wangi-wangi, bawaannya HP HP terbaru, sepanjang jalan asik sendiri dengan gadgetnya. Kalau penumpang Parungpanjang Maja, penuh bau keringat, raut wajah lelah dan terbakar matahari, rame ngobrol dengan bahasa Sunda kasar, badan dan bajunya lebih lusuh daripada penumpang Serpong.

Jagoan kecil kami sudah gede sekarang, sudah bisa cerita macam-macam. Siang atau sore saya berada di kantor, dia kadang telepon kemudian bertanya, “Ayah kok lama?”. Sampai di rumah, juga disambut pertanyaan yang sama, dengan berondongan ceritanya yang macam-macam. Dari mulai main sama teman sebayanya, jalan-jalan ke masjid, cerita ikan di kolam masjid, cerita tentang mainannya. Capek sih habis berdesakan di KRL, tapi melihat jagoan ini antusias mengajak ayahnya bermain, ya jadi ilang capeknya. Ini yang namanya nikmat bernama anak ya. Kalau mengutip bahasa Quran, istri/suami dan anak itu adalah fitnah/ujian/cobaan.

Setiap pagi, seringkali Afifah ini nggak mau melepas ayah bundanya ke kantor. Alasannya macam-macam. Yang paling sering, minta diajak keliling komplek sambil naik motor. Kalau lagi ok, sekali putar mau ditinggal. Kalau lagi rewel, ya putar-putarnya lama. Sepulang kerja, ayahnya diajak main masak-masakan, kuda-kudaan, lompat, lari, sampai dia capai dan minta bobo. Kalau ada dinas luar kota, selalu kangen sama Afifah. Kangen mendengarkan cerita-ceritanya yang beraneka rupa dan pola tingkahnya.

Beberapa waktu lalu, saya mendaftarkan diri ikut program sekolahfiqih.com yang diasuh oleh Rumah Fiqih. Kalau selesai programnya, ada 8 level. Materinya disampaikan secara tertulis juga lewat video. Dari bab 1 yang baru saya ikuti, materinya memuaskan. Apalagi buat saya yang masih awam dan tertarik belajar fiqih, konten yang diberikan lebih dari cukup, menurut saya. Pemaparannya detail, membahas dari banyak sudut pandang, dan mengedepankan toleransi dalam memahami perbedaan pemahaman yang disampaikan oleh para ulama salaf dan kontemporer. Silakan kalau ada yang berminat, buka saja di sekolahfiqih.com. Mungkin suatu waktu akan saya tuliskan di blog ini.

Ternyata, ngalor ngidul juga tulisannya. Hahaha. Cukup sampai di sini nulisnya. Mudah-mudahan bisa nulis lagi di lain kesempatan. Mungkin pekan depan, bulan depan. Belum tahu juga pastinya. Lagi mengondisikan jarang pegang hp atau laptop di rumah. Soalnya anak suka ikut-ikutan. Itu yang kami berdua coba kurangi. Biar si kecil olah fisiknya dulu pada masa tumbuh kembangnya sekarang. Nah, kalau saya bisa nulis sepanjang ini, tandanya saya lagi jauh dari rumah. Hahaha

Advertisements

Bapak Nomor Satu

Menceritakan sosok laki-laki yang paling saya hormati ini, tidak akan pernah selesai diungkapkan lewat berapapun halaman tulisan, atau berjam-jam bercerita.Menceritakan sosok laki-laki yang paling saya hormati ini, tidak akan pernah selesai diungkapkan lewat berapapun halaman tulisan, atau berjam-jam bercerita. Beliau, bapak saya, adalah bapak yang telah memberikan pondasi berharga buat anak-anaknya dalam menjalani kehidupan.

Bapak adalah pensiunan PNS Pemkot Tegal. Jika berkunjung ke kantor Pemkot, kelurahan, dinas, atau kecamatan yang ada di kota Tegal, tanyakanlah kepada pegawai yang berumur 30-an tahun atau para pejabatnya, saya bisa pastikan bahwa mereka mengenal bapak dengan baik. Bukan karena posisi terakhir Bapak sebagai Camat sebelum pensiun, melainkan karena kesupelan beliau dan konsistensinya menjaga hubungan dengan banyak orang. Maka, setiap saya pergi bersama Bapak, ke manapun tempatnya, selalu saja ada yang menyapa, yang kadang mungkin karena terlalu banyak dan usia yang semakin menua, Bapak kadang lupa dengan orang yang menyapanya.

Jika diminta mendeskripsikan Bapak dalam satu kata, saya akan menuliskan: Muhammadiyah. Beliau menunjukkan kecintaannya kepada Islam lewat belajar dan beramal di Muhammadiyah. Jangan tanyakan kepada kami anak-anaknya, berapa bagian dalam hidupnya telah dihabiskan di Muhammadiyah, karena seluruh jiwa dan raga Bapak adalah Muhammadiyah. Anak-anaknya memang hanya di level TK dan TPQ dididik di sekolah Muhammadiyah, tapi sepanjang usia, kami dididik dengan semangat pengkaderan Muhammadiyah. Sejak SD, kami mengikuti beladiri Tapak Suci tiap hari Minggu pagi, di mana godaan TV sungguh luar biasa dengan beraneka tayangan kartunnya. Ketika Ramadhan tiba, kami diikutkan di pesantren kilat yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tegal. Bapak berlangganan majalah Muhammadiyah, menyediakan buku Himpunan Putusan Tarjih sebagai pedoman Fiqh, juga biografi tokoh pergerakan.

Yang sangat membekas dan menjadi salah satu prinsip hidup saya dari adalah fanatisme Bapak terhadap Muhammadiyah dan ketegasan prinsipnya, tidak membuat beliau dimusuhi dan ditolak di lingkungan. Kenapa demikian? Beliau pandai memposisikan diri dan menghormati pendapat yang berbeda darinya. Sudah mafhum di RT, jika ada tahlilan orang meninggal, tidak usah mengundang Pak Dradjat. Percuma, Bapak tidak akan pernah datang. Kalau lebaran berbeda, kami sekeluarga tetap santai berlebaran terlebih dahulu. Berangkat sholat idul fitri di lapangan. Seusainya ya pulang di rumah. Tradisi bersalaman dan berkeliling baru kami lakukan esok paginya berbarengan dengan tetangga.

Tapi, apakah itu membuat tetangga memusuhi Bapak? Sampai saat ini, saya tidak melihat itu. Bapak tetap bisa berbaur dengan masyarakat pada kesempatan lainnya. Beliau datang saat rapat RT, ta’ziah ketika ada warga yang meninggal, ikut kerja bakti, peringatan 17 Agustusan, atau malam-malam saat kumpul minum teh poci bareng bapak-bapak atau pemuda RT. Bahkan, Bapak sempat ditugasi menjadi sekretaris RW sampai 2 periode berturut-turut dan pengurus masjid. Mungkin remeh. Tapi bagi kami yang hidup di pemukiman kampung yang majemuk, bukan di komplek perumahan yang homogen, tugas sebagai RT dan RW tidak bisa diserahkan kepada sembarang orang. Resistensi terhadap orang yang dibenci, tidak dikenal, atau tidak aktif dalam interaksi warga sangat berperan. Urusan intelektualitas, kekayaan, pangkat atau status sosial itu urusan kesekian.

Pada hari ini ketika genap umur Bapak berkurang di tahun Masehi, sebagai anaknya saya mendoakan semoga gusti Allah memberkahi umur Bapak dan mengistiqomahkan Bapak dalam berbuat baik. Alhamdulillah, salah satu cita-cita Bapak untuk diberikan menantu sholehah dan cucu perempuan yang pintar, cantik, lucu sudah gusti Allah kasih. Rasanya tidak layak kami meminta lebih, ketika Engkau ya Allah sudah sangat banyak memberikan begitu banyak kebaikan kepada keluarga besar kami. Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah…

Cinta Dua Tahun

Halo Unda,

Dua tahun lalu di tanggal ini, ayah selalu ingat, ketika itulah ayah mengucapkan janji setia, mengambil perwalian unda dari keluarga unda. Hari itu status ayah resmi berubah menjadi seorang suami. Dan sejak saat itu pula, kita berdua berjuang bersama-sama. Tahun pertama pernikahan kita tinggal berdua di kontrakan. Itu komitmen kita berdua sebelum menikah, bahwa kita harus mandiri. Apa unda masih ingat bermacam keseruan di kontrakan? Dari mulai tetangga tukang es, ibu haji depan rumah yang kalau ngomong berasa kayak teriak, sampai ibu ketua RT yang kuat ngobrol berjam-jam kalau bertamu ke rumah sampai ayah terkantuk-kantuk. Hahaha….

Berumah tangga mendorong kita belajar banyak hal secara langsung. Tentang bagaimana memahami perasaan pasangan, berkomunikasi, mengendalikan marah, dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Dua tahun kebersamaan ini, buat ayah, sudah mengubah ayah menjadi lebih matang dalam banyak hal. Hidup ayah lebih terarah, punya orientasi dan target. Mungkin unda juga begitu. Ada masa-masa di mana kita saling bercerita tentang mimpi masing-masing, tentang Carissa, tentang keluarga, tentang pekerjaan, dan apapun yang ingin kita ceritakan. Juga ada masa ketika salah satu dari kita harus mengalah dan berkompromi atas pilihan yang tak kita sepakati, atau tentang kekurangan salah satu di antara kita.

Dua tahun, masih sangat muda bagi umur sebuah pernikahan. Masih panjang jalan yang harus kita berdua tempuh. Masih banyak rencana hidup yang telah kita berdua diskusikan sebelum pernikahan harus bersama diperjuangkan. Ayah tidak pernah meminta kepada Allah supaya keluarga kita selalu diberikan kebahagiaan. Karena ayah tahu, kematangan iman, akhlak dan akal kita tidak akan terbentuk jika hidup selalu bahagia. Hidup akan memberi bermacam warna: sedih, bahagia, kecewa, marah, takut, cemas. Maka, ayah berdoa supaya Allah menguatkan ikatan hati, kokohnya lengan, dan tegaknya kaki keluarga kita. Sehingga apapun yang dihadapi, kita ikhlas dan ridho menjalaninya bersama. Bahwa selalu ada campur tangan Allah dalam apa yang kita lakukan.

Terima kasih untuk segala warna dua tahun ini. Unda dan Carissa adalah salah satu anugerah paling luar biasa dalam hidup ayah.

 

Enam Bulan

Alhamdulillah, dalam kalender Masehi, hari ini usia Carissa Husna Afifah tepat 6 bulan. Terasa cepat sekali nak. Kayaknya baru kemarin ayah melihatmu sedang berjuang keluar dari rahim unda. Menikmati 6 bulan bersamamu, rasanya benar-benar luar biasa. Penat, lelah, muram ayah segera sirna saat berada di rumah dan melihatmu berguling-guling asyik di kasur sambil tersenyum dan tertawa bahagia.

Ayah tahu nak, ayah belum bisa jadi ayah yang baik untukmu dan unda. Masih sering meninggalkan kalian berdua untuk tugas kantor, kumpul bersama teman, atau asyik dengan dunia ayah sendiri. Ayah juga belum sekuat unda nak, yang pulang dari kantor masih kuat untuk bermain hingga tengah malam denganmu, sambil terjaga menyusuimu.

Hadirmu seperti namamu nak, menjadi anugerah kebaikan. Bukan hanya buat ayah dan unda, juga buat keluarga besar kita. Semua menyayangimu. Selalu tersenyum melihat bahasa tubuhmu yang ramah. Geli dengan aneka gaya spontanmu di foto. Atau juga ikut resah dan sedih ketika badanmu tiba-tiba demam dan terkena flu.

Tepat hari ini nak, usiamu 6 bulan. Tepat waktunya bagi unda untuk menambahkan makanan lain selain ASI. Nanti ketika kau dewasa, berterimakasihlah banyak-banyak ke unda. Beliau yang berjuang keras menyediakan ASI untukmu. Mencuci botol-botol hasil ASI perah. Mensterilkan botol susumu juga. Baik-baiklah ke unda. Taati apa yang beliau sampaikan.

Doa ayah dan unda sama seperti namamu, anugerah kebaikan yang terjaga kesuciannya. Suci imannya, akhlaknya, dan akalnya. Aamiin…

Nyamuk di Kamar Kami

Di kamar yang ditinggali oleh saya, istri, dan anak memang sering ditemani oleh nyamuk. Sepertinya hal ini dipengaruhi posisinya yang ada di pojok belakang. Apalagi pada saat tidak ada hujan, nyamuk-nyamuk ini sungguh merepotkan kami, meskipun sudah dipagari dengan kawat anti nyamuk di jendela dan pintunya.

Sebetulnya bagi saya dan istri, adanya nyamuk ini biasa saja. Namun, bagi putri kami yang masih 5 bulan, ini jadi masalah. Ketika dia sedang asyik tidur, tiba-tiba menangis kencang. Kami kebingungan. Baru setelah digendong, kami menyadari ada jejak bentol nyamuk di badannya.

Yang membuat kami lebih jengkel, nyamuk ini lincah luar biasa. Tubuhnya kecil. Mampu berakrobat dengan sempurna di antara ayunan raket listrik. Maka, kami pun lebih sering pasrah jika masih ada nyamuk jenis ini.

Baru keesokan paginya, kami melihat nyamuk yang kurus tadi sudah menjelma menjadi nyamuk gemuk. Dan terbangnya sudah tak lihai lagi. Dia terlalu kenyang menghisap darah kami bertiga. Saat itulah, saya santai saja membunuhnya dengan raket listrik.

Nyamuk ini tidak tahu, bahwa kerakusan makannya mengantar ke kematiannya sendiri.

Halte Prestasi

Siang awal Oktober, seorang rekan di tim Kaos Galgil menyampaikan sebuah berita. Keikutsertaan kami dalam Lomba Kreasi dan Inovasi di Pemkab Tegal membawa kami sebagai juara I. Sontak, sisi manusiawi saya gembira bukan kepalang. Ini adalah salah satu prestasi yang punya arti penting. Pengakuan juara I berarti kerja keras dan doa kami mengelola Kaos Galgil diapresiasi. Diberikan pengakuan yang positif.

Tidak lama setelah pengukuhan juara tersebut, datang pesan melalui facebook saya. Mengundang tim Galgil untuk menjadi tamu talkshow di sebuah radio di kota Tegal. Temanya tentang semangat inspiratif pemuda.

Dua prestasi berturutan ini bagi saya pribadi, sungguhlah istimewa. Namun, kami selalu memahami bahwa setiap pencapaian hanyalah halte. Hanya sementara dan bukan tujuan akhir. Sejatinya, kemenangan, keunggulan, atau apapun namanya tidaklah membuat kita lalai dan merasa lebih unggul dari yang lainnya. Kemenangan hakiki yaitu ketika kita mampu menundukkan ego kita sendiri, hingga sampailah kepada derajat ahsanu taqwim, sebaik-baik penciptaan.

Semoga Allah meridhoi amal kami, menguatkan kesabaran kami, meneguhkan keistiqomahan kami. Masih banyak cita yang belum ditunaikan. Paling tidak, untuk tanah lahir kami tercinta.

Kisah Dua Tahun

Apa yang membuatmu berbisnis kaos? Itu pertanyaan mula-mula yang saya tanyakan kepada diri saya sendiri dua tahun yang lalu. Tidak ada pengalaman dengan bisnis kaos. Tidak jago mendesain. Bahkan, tidak mengerti apa saja yang harus dipersiapkan. Namun, sorot mata yang menandakan keyakinan dari teman-temanlah yang akhirnya memantapkan pilihan kami untuk memulainya.

Maka perjalanan dua tahun, per 1 Agustus 2012 lalu, adalah keajaiban, paling tidak bagi diri saya sendiri. Tidak pernah terpikir bahwa bisnis ini masih sanggup berdiri. Bahkan bisa membuka dua kios dan menghidupi seorang karyawan penuh. Banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang kami peroleh. Konflik dengan pencetak kaos, disemprot konsumen, dipandang sebelah mata, diacuhkan, menjadi menu harian.
Continue reading