Untuk Adik Kecilku di Depok

Saya pernah ada pada masa-masa seperti kalian. Saat pertama kali saya jauh dari orang tua. Saat saya mulai berlajar mandiri sepenuhnya. Saat saya hadir di lingkungan baru, yang saya tak tahu apakah tempat ini yang akan menjadi persinggahan berikutnya.

Saya pernah ada pada masa-masa seperti kalian. Saat beban tergantung sangat di pundak. Ketika pilihan setelah SMA ini akan menentukan seperti apa saya pada 5, 10, 15 tahun yang akan datang.

Continue reading

Jebakan Popularitas

Bagi saya, popularitas itu bonus. Yang paling utama itu ya pemikiran, sikap, dan perbuatan yang dilakukan. Kalau semuanya itu benar, juga dilakukan sesuai proporsinya, popularitas itu akan datang dengan sendirinya.

Jadi, tak perlu tim sukses untuk membangun citra kebaikan atau membentuk empati publik. Atau membuat topeng semu, seolah-olah kita baik dan perhatian. Sia-sia. Kasihan. Energinya habis hanya untuk berkamuflase.

Dan saat popularitas itu datang sebagai bonus, jangan sampai kita terperdaya. Akhirnya kita abai terhadap esensi. Bahwa hidup harus terus menerus diisi dengan kebaikan. Bukan sekali dua kali. Lantas berhenti.

Kalaupun popularitas itu tidak hadir, tak perlu risau. Kebaikanmu tetap tercatat dengan rapi di diari-Nya.

Penantian

Tinggal beberapa hari lagi, masa itu akan datang. Saya tidak bisa memastikan, bahkan kepada diri saya sendiri, apakah sudah 100% saya siap memasukinya.

Yang saya tahu, saya sudah memilih. Dalam kamus hidup saya, memilih itu artinya sudah siap menanggung semuanya. Pahit manisnya. Baik buruknya. Semuanya.

Semoga Allah memberkahi pilihan ini, memantapkan niat baik ini, dan membukakan pintu-pintu kebaikan atasnya. Aamiin…

Kebahagiaan

Apa definisimu tentang kebahagiaan? Dapat nilai tinggi di kelas? Masuk jurusan dan kampus bergengsi? Berhasil memperoleh beasiswa? Bekerja di kantor besar dengan gaji menggiurkan?

Bagi bapak pemulung dengan gerobaknya yang saya jumpai tadi siang, bahagia itu tersurat jelas saat terik siang, ia minum dari botol bekas air mineral yang entah sudah diisi ulang untuk kesekian kalinya.

Juga ketika malam hari, ia bisa tertidur lelap di dalam gerobaknya, di pinggir jalan, dengan ratusan nyamuk selokan yang mengelilinginya.

Hati-Hati dari Dosa

Bismillah, #ngaji kita mulai… 🙂 #pakesarung #pasangpeci. Materi #ngaji ini saya peroleh dari kiriman MP3 seorang teman dari Tegal.

MP3 itu berisi tentang seseorang yang mengajukan pertanyaan kepada seorang kyai. Pertanyaannya sederhana sekali, “kenapa sih hidup ini penuh krisis, banyak orang miskin, ngantri BBM?”. Dengan santainya sang kyai ini menjawab, “Sebenarnya tujuan kita diciptakan oleh Allah SWT, Dia gak pengen buat kita miskin”. “Allah juga nggak pengen buat kita susah. Bahkan sebaliknya, Allah menciptakan kita hanya dengan dua tujuan: yang pertama, dimuliakan. yang kedua, dimanja”.

Continue reading

Terima Kasih

Sebuah kebiasaan unik yang rutin saya lakukan ketika di UI adalah mengucapkan terima kasih ketika turun dari bis kuning. Sebetulnya simpel saja. Karena saya tak punya sepeda motor, bus kuning adalah transportasi yang paling masuk akal bagi mahasiswa dengan kantong cekak seperti saya. Rutinitas ini bagi Anda atau mungkin orang lain, terasa biasa saja. Namun, bagi saya, dan pengguna bus kuning UI, ucapan terima kasih itu punya makna spesial.

Ucapan terima kasih itu adalah “balas jasa” dari kebaikan pak supir yang telah mengantarkan kami. Naik bus kuning tak perlu membayar. Itu sudah termasuk dalam biaya semester yang kami bayarkan ke kampus. Dan ketika ucapan “terima kasih” itu terlontarkan kepada pak supir beriringan dengan turunnya kami dari bus, pak supir membalasnya dengan ucapan “sama-sama” atau senyuman manisnya.

Melihat senyuman itu mengajarkan kepada kami bahwa membahagiakan atau menghargai orang selalu bisa dilakukan dengan cara sederhana. Namun, acapkali saya sering lupa untuk mempraktekannya. Saya sering lupa untuk berterima kasih kepada orang lain. Juga kepada diri saya sendiri.

*terinspirasi dari tulisan ini


Menipu Diri

Kalau Anda tak punya duit banyak, kemudian hidup sederhana, biasa saja, itu memang sudah sewajarnya. Begitu pula ketika Anda punya uang yang, tak perlulah melimpah, lebih dari yang biasanya saja, kemudian Anda menampilkan kelebihan itu, bisa lewat pakaian, dandanan, jenis makanan, kendaraan, atau lainnya, memang itu ya manusiawi.

Golongan orang yang jarang betul saya temui adalah orang yang secara harta, ia melimpah, lebih dari cukup, tapi penampilannya sangat sederhana. Bahkan kita akan menyangka, dia tidak lebih kaya dari kita. Tipe orang seperti ini luar biasa dalam perspektif saya.

Naluri manusia, cenderung untuk menampilkan segala kelebihan yang dimiliki. Dan menahan untuk menunjukkan bahwa, eh saya ini orang kaya lho, artinya orang seperti ini berhasil mengendalikan nafsu tampil-nya. Sulit betul. Godaannya luar biasa beratnya.

Di negeri ini, saya justru lebih sering melihat yang sebaliknya. Ketika orang-orang yang sebetulnya tak mampu, harus berjuang ekstra keras untuk menunjukkan kepada orang di lingkungannya, bahwa dia ini mampu lho. Metodenya ya bermacam-macam. Dari berhutang, menindas, korupsi, memeras. Tujuannya cuma satu. Demi gengsi. Padahal, dia sedang menipu dirinya sendiri.

Posted from WordPress for Android

Ketika Kehilangan

Ada sebuah kabel rol di kosan saya. Tak tahu apa sebabnya, tiba-tiba kabel rol itu mati. Padahal, relatif masih baru saya beli. Mati yang mendadak ini membuat saya kalang kabut. Di kabel rol inilah saya biasa menge-charge handphone dan laptop secara bersamaan. Akibatnya, selama beberapa hari, karena tidak sempat membeli kabel rol lagi, saya kerepotan.

Pentingnya sesuatu itu ternyata ketika kita kehilangannya. Ketika ada, ya sudah kita anggap biasa saja keberadaannya. Memang harusnya di situ, pikir kita. Misalnya, pernahkah kita merasa sungguh-sungguh bahwa Ibu dan Bapak adalah sesuatu yang penting? Mungkin tidak.

Continue reading

Bukan Hanya Hasil

Sejak masih SD, saya sudah jatuh cinta dengan PSIS Semarang. Waktu itu PSIS masih satu-satunya tim dari Jawa Tengah yang berlaga di kompetisi tertinggi sepakbola Indonesia. Kecintaan saya kepada PSIS ini sudah muncul sebelum PSIS jadi juara liga Indonesia. Dan perasaan cinta itu terus berlanjut saat ini, termasuk ketika PSIS degradasi tepat setahun setelah menjadi kampiun liga Indonesia.

PSIS tentu kalah tenar dibandingkan dengan Persija, Arema, Persib, Persipura atau klub-klub besar Indonesia lainnya. Juga jelas kalah kelas permainannya dibandingkan Barcelona, MU, Munchen, AC Milan, dan sebagainya. Tapi, PSIS punya tempat tersendiri di hati saya.

Continue reading