Catatan dari Kaiserslautern: Jalan-Jalan di Jerman

Salah satu hal yang saya nikmati dari tinggal di Kaiserslautern atau Jerman adalah nyaman dan terjangkaunya transportasi umum. Di TU Kaiserslautern, tempat saya kuliah, ada fasilitas tiket semester yang terintegrasi dengan kartu mahasiswa. Hanya dengan menunjukkan kartu mahasiswa, saya bisa gratis naik semua bus lokal di Kaiserslautern. Bahkan tidak hanya di Kaiserslautern saja, kartu mahasiswa bisa membawa saya bertualang gratis hingga ke Heidelberg, Mannheim, Ludwigshafen, Zweibrucken, hingga Wurzburg di Bayern. Ya namanya juga paket mahasiswa, yang bisa gratis ya transportasi bus dan kereta lokal, tidak termasuk ICE (kereta super cepatnya Jerman).

Rahasianya ada di penyelenggara transportasi publik di Rheinland-Pfalz, salah satu negara bagian di Jerman tempat saya tinggal. Namanya VRN (Verkehrsverbund Rhein-Neckar). Daerah yang dikelolanya adalah Baden-Württemberg, Rhineland-Pfalz dan Hesse di barat daya Jerman. Saya sertakan petanya supaya ada gambaran area yang bisa dijangkau gratis oleh kartu mahasiswa yang saya miliki:

vrn area

Lumayan luas kan? Nah, yang saya tahu, area gratis ini tergantung dari kebijakan kerjasama masing-masing kampus. Detailnya saya kurang memahami. Intinya sih, mahasiswa yang kampusnya beda, bisa jadi beda area yang bisa gratis dikunjungi dengan bus dan kereta.

Selain fasilitas kartu mahasiswa untuk transportasi gratis, Jerman juga sangat ramah bagi mereka yang senang jalan-jalan. Ada fasilitas Schönes-Wochenende-Ticket (Happy Weekend Ticket), yaitu tiket akhir pekan di Sabtu atau Minggu untuk jalan-jalan di seluruh area Jerman. Tiket ini harganya 44 euro. Maksimal berlaku untuk 5 orang. Semua kereta dan bus lokal bisa kita gunakan. Kalau dihitung-hitung, setiap orang hanya bayar 8,8 euro. Terjangkau kan?

Tiket ini juga yang kami gunakan untuk jalan-jalan pengajian pekan lalu ke Aachen. Kami berangkat dari Kaiserslautern pukul 05.21 dan sampai kembali sekitar pukul 23.30. Untuk perjalanan di kereta saja bolak-balik perlu waktu 11-12 jam. Nikmat betul lah perjalanan sejauh itu ditempuh dalam satu hari. Belum lagi, medan jalannya ke Dreiländer Punkt (perbatasan tiga negara: Jerman, Belanda, Belgia) luar biasa, menanjak ketika berangkat, menurun ketika pulang, disertai hujan deras saat perjalanan.

Jalan-jalan di Jerman tidak selalu mahal. Dengan sering mencari informasi, kita bisa mendapatkan jalan-jalan murah, bahkan gratis. Kalau infrastruktur di Indonesia sudah baik, banyak kereta lokal, dan dibangun jalur-jalur yang menjangkau banyak daerah, akibatnya tiap akhir pekan banyak orang bisa jalan-jalan di sekitar daerah tinggalnya. Ekonomi daerah mungkin juga bisa lebih hidup dari sektor pariwisata. Mudah-mudahan harapan ini ke depan bisa diwujudkan.

Advertisements

Catatan dari Kaiserslautern: Lebaran

Menjalani puasa Ramadhan dan berhari raya ‘Idul Fitri tanpa keluarga, ditemani anak istri, memang terasa betul bedanya. Rasa kangen sedikit terobati ketika mengobrol dengan istri di Whatsapp, melihat foto Carissa yang semakin pintar tingkahnya. Kalau Carissa dan bundanya lagi senggang, tidak repot, happy, dan koneksi bagus, baru kami bertiga bisa ngobrol langsung lewat video call Line. Ya risiko LDR setelah menikah dan punya anak ya begini. Kami berdua tahu risikonya dan memahaminya bahkan sebelum kami menikah. Tapi kenyataan sering lebih pahit dari apa yang kita bayangkan, bukan? Hahahah…. Ya, mudah-mudahan Allah kuatkan keluarga kami yang berjauhan, memberikan keberkahan atas apa-apa yang sedang keluarga kami jalani. Aamiin…

Berlebaran pertama kali di Jerman pastinya berbeda dengan di tanah air. Malam takbiran terasa sepi. Saya sendiri takbiran di kamar, ditemani udara dingin malam dari jendela. Kalau capek, istirahat sebentar, minum atau nyemil. Kemudian, takbiran dilanjutkan sendiri. Malam itu, saya tidak bisa tidur. Soalnya tidur sorenya terlalu lama 😀 Juga cemas jika besok terlambat bangun untuk sholat ‘id. Maklum, 18 jam puasa telah mengacaukan sebagian jam tidur dan aktivitas saya.  Alhamdulillah, esok paginya saya tidak terlambat sholat ‘id. Saya memilih sholat ‘id di masjid Arab yang ada di Kaiserslautern. Jadwal sholat ‘id dimulai pukul 08.30. Tetapi saya sudah datang pukul 08.00. Suasana masjid masih cukup sepi. Sambutan ‘Ied Mubarak dari pengurus masjid menyapa hangat kami di pintu masuk.

Di dalam masjid, tidak ada takbiran seperti halnya di Indonesia. Masing-masing jamaah melantunkan takbir lirih. Saya pun mengikuti tradisi yang ada. Daripada risiko takbiran dengan lantang, malah berabe diliatin orang-orang semasjid 😀 Yang menarik perhatian saya adalah, sebelum dimulainya sholat ‘ied, panitia memberikan piagam penghargaan dan hadiah kepada pengurus yang telah berpartisipasi pada kegiatan Ramadhan di masjid. Hal seperti ini belum ada di Indonesia. Mungkin bisa diterapkan untuk memberikan motivasi kepada pemuda supaya lebih giat beraktivitas di masjid, khususnya pada bulan Ramadhan.

Pelaksanaan sholat ‘ied juga berbeda dengan di Indonesia. Makmum tidak mengikuti imam melakukan takbir tambahan pada rakaat pertama dan kedua. Jadi, ketika imam bertakbir, makmum ya diam saja. Karena di Indonesia terbiasa ikut takbir tambahan, ya saya lakukan saja. Baru setelah saya mencari informasinya, memang terdapat beberapa mazhab yang tidak mensyariatkan makmum untuk mengikuti takbir tambahan sholat ‘id. Alhamdulillah nambah ilmu lagi. Jadi jangan buru-buru bilang sesat ya kalau ada yang berbeda. Dicari dulu informasinya, siapa tahu memang ada mazhab yang menyebutkan demikian. Di Indonesia, kita banyak mengikuti pendapat Imam Syafii. Padahal, ada 3 mazhab lain yang juga diakui oleh kalangan ulama, dan menjadi rujukan juga bagi umat Islam di negara lain di dunia.

Selesai sholat ‘id, muslim Indonesia yang tinggal di Kaiserslautern sibuk berbelanja. Rencananya kami akan mengadakan acara makan-makan. Menunya memang tidak ada ketupat, opor, sambel goreng ati. Sangat repot untuk menyiapkan menu masakan itu. Sebagai gantinya, kami menyiapkan barbeque. Setiap pengunjung diharuskan membayar iuran 2 euro, kalau mau lebih ya diterima dengan senang hati 😀 Acara cukup rame, dihadiri sekitar lebih dari 25 orang, dan tidak semuanya muslim. Acara ini memang terbuka bagi siapa saja. Yang penting konfirmasi kehadiran dan bayar iuran, hahah… Beberapa foto sempat saya ambil dan saya posting di sini. Pulang acara, badan masuk angin dan kepala kliyengan. Mungkin karena cuaca dingin dan saya tidak memakai jaket. Penyakit bengek saya dari dulu, ya masuk angin. Bahkan di Jerman pun bisa masuk angin, hahah… Alhamdulillah setelah dibawa tidur, esok paginya badan segar kembali 😀

Sebagian besar dari kita sering keliru memahami hari raya ‘idul fitri sebagai momen penyucian diri, kembali kepada fitrah. Jika dilihat dari maknanya, ‘idul fitri terdiri dari dua kata. Kata pertama, ‘idul dalam bahasa Arab terdiri dari ‘ain, ya, dal. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Hari Raya”. Adapun, fitri dalam bahasa Arab terdiri dari fa, tha, dan ra. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Makan” atau “Makanan”. Jadi secara bahasa “Idul Fitri artinya adalah “Hari Raya Makan”. Tidaklah keliru jika salah satu sunnah Rasul sebelum sholat ‘id adalah makan besar, untuk membedakan dengan saat puasa selama Ramadhan yang baru saja berlalu. Karena itu, arti zakat fitr adalah dengan memberi makanan pokok kepada 8 golongan. Supaya pada “Hari Raya Makan” tersebut tidak ada lagi orang kelaparan dan bisa bersuka cita makan. Mungkin terdengar aneh bagi kita, tapi faktanya demikian. Inilah salah kaprah luar biasa dalam masyarakat kita.

Juga tentang kebiasaan berpuasa 6 hari di bulan Syawal, jangan kaget jika ada yang menyatakan bahwa puasa itu tidak ada dalilnya. Karena mazhab Imam Malik memang terang-terangan memakruhkan amalan tersebut. Jangan terburu-buru menyatakan Imam Malik sesat dan tidak tahu dalil. Kitab beliau Al Muwatho adalah karya terbesar dari ulama pada zamannya, karya terbaik sebelum munculnya Hadits Shahih Bukhori Muslim. Imam Malik menilai hadits ahad (tunggal) adanya puasa tersebut kalah kuat dibandingkan amalan penduduk Madinah saat itu. Mungkin bagi kita yang belum tahu, salah satu rujukan mazhab Maliki adalah amalan penduduk Madinah. Jika ada hadits tunggal shahih dan penduduk Madinah beramal berbeda dengan hadits tersebut, maka yang diambil pendapat terkuat adalah amalan ahli Madinah. Pada kasus puasa Syawal ini, penduduk Madinah tidak mengerjakannya. Namun, jika kita mengerjakannya pun tidaklah mengapa. Selain Imam Malik, semua ulama mazhab menghukumi sunnah puasa 6 hari di bulan Syawal. Hanya Imam Malik yang memakruhkannya.

Di akhir tulisan ini, saya mengucapkan selamat Hari Raya ‘Idul Fitri, selamat makan-makan. Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amal ibadahku dan kita semua. Semoga juga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan berikutnya. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin…

rujukan informasi:
1. Takbir Tambahan Sholat ‘Id
2. Makna Idul Fitri
3. Puasa Syawal Makruh?

Catatan dari Kaiserslautern: Memilih Presiden

Sepanjang sejarah pemilu Indonesia, baru pemilihan presiden tahun ini yang luar biasa ketatnya. Pertempuran di media sosial luar biasa hebohnya. Juga pertempuran darat di kantung-kantung suara yang tidak kalah serunya. Dengan adanya dua calon, membuat kita terpolarisasi. Kalau tidak pilih capres sini, ya pilih capres situ. Keramaian ini sayangnya tidak diikuti dengan sikap kedewasaan masing-masing pendukungnya. Perbedaan pilihan seolah menempatkan satu golongan berada di surga, dan golongan yang satunya berada di neraka. Yang mulanya berteman, karena berbeda pilihan akhirnya bermusuhan.

Padahal, guru-guru bangsa kita telah memberikan contoh. Aidit (PKI) adalah lawan politik Natsir (Masyumi) di parlemen. Saking emosinya, Natsir bilang rasanya ingin menghajar kepala Aidit dengan kursi. Tapi, hingga rapat selesai, tak ada kursi yang melayang ke kepala Aidit. Malah, begitu meninggalkan ruang sidang, Aidit membawakannya segelas kopi. Keduanya lalu ngobrol tentang keluarga masing-masing. Itu terjadi berkali-kali. Seusai rapat parlemen dan tidak ada tumpangan, Pak Natsir sering dibonceng sepeda oleh Aidit dari Pejambon.

Atau Buya Hamka yang dipenjara oleh Soekarno pada 1964-1966 atas tuduhan subversif. Sebelum Soekarno meninggal, beliau menyampaikan wasiat bahwa ia menginginkan sholat jenazahnya dipimpin oleh Buya Hamka. Dengan kebesaran jiwanya, Buya Hamka mengesampingkan apa yang telah diperbuat Soekarno kepada dirinya. Beliau menyanggupi dan memimpin sholat jenazahnya.

Besok adalah masa ketika negara memberikan ruang kepada setiap warganya untuk ikut menentukan siapa pemimpin negara ini 5 tahun ke depan. Betul bahwa memilih adalah hak warga negara, bukan kewajiban warga negara. Tapi, saya sangat menyarankan teman-teman menggunakan hak pilihnya. Satu suara kita adalah sumbangsih majunya Indonesia ke depan.

Di Jerman, saya sudah ikut memilih lewat pos. Surat suara dikirimkan oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri Frankfurt (PPLN) Frankfurt. Suratnya saya terima hari Rabu, 2 Juli 2014. Setelah mencoblos, surat suara saya kirimkan hari Minggu, 6 Juli 2014. Untuk pencoblosan langsungnya, sudah dilakukan serentak di seluruh TPS yang ada di Jerman pada Sabtu, 5 Juli 2014. Adapun penghitungan suara dilakukan dua kali, yaitu pada 9 Juli 2014 dan 13 Juli 2014. Pada 9 Juli untuk menghitung surat suara hasil coblosan di TPS. Yang tanggal 13 Juli untuk rekapitulasi surat suara lewat pos.

Dan setelah pemilu usai, mari kita sama-sama mendukung siapapun presiden dan wakil presiden yang terpilih. Bagaimanapun, begitulah kehendak rakyat Indonesia saat ini. Kita besarkan jiwa, menerima kekalahan, dan menyiapkan kemenangan. Yang kalah mengakui yang menang. Yang menang merangkul yang kalah. Kita adalah satu bangsa. Kita adalah satu saudara. Kita bersama bangun bangsa dan negeri ini, untuk Indonesia Raya.

surat suara 1 surat suara 2

Catatan dari Kaiserslautern: Menemani Kesendirian

Kegiatan yang dilakukan sehari-hari sebagai mahasiswa ya kuliah dan belajar, pastinya. Total ada 7 mata kuliah+4,5 jam seminggu kursus bahasa Jerman level A2.1. Lumayan mabok, khususnya buat mahasiswa pas-pasan kayak saya. Selalu saya ingat pesan saya ke diri sendiri lewat tulisan ini biar tetap semangat 😀 Selain itu, sampai saat ini saya masih istiqomah untuk masak sendiri. Alhamdulillah. Mudah-mudahan bisa awet. Hehehe…  Jangan bayangkan masak level berat. Yang saya lakukan adalah menggoreng ayam, nuget, tempe, telur dan divariasikan dengan indomie rebus atau goreng. Kalau sarapan, sediakan sereal atau roti dengan selai. Ya, pinter-pinter ngaturnya aja, biar nggak bosen dan muak dengan sajian sendiri. Hahahaha….

Nah, selain kegiatan rutin itu, ada beberapa hal yang saya lakukan untuk menemani kesendirian saya di sini setiap harinya. Maklum, jauh dari anak istri. Komunikasi sama anak istri, orang tua, adek alhamdulillah lancar. Meskipun beda waktu, bisa lah dicari jalan tengahnya. OK, balik lagi ke topik awal. Ada banyak sih sebetulnya yang saya lakukan di sini. Awal datang, rekomendasi teman yang kasih link untuk belajar hadits dari sini. Banyak juga ternyata. Lumayan buat nambah ilmu. Terus ada rekomendasi nonton film Umar bin Khattab, khalifah kedua yang luar biasa kualitasnya. Monggoh bisa ditonton di sini. Pake subtitle bahasa Inggris. Tapi saya lebih menikmati bahasa Arabnya malah. Itung-itung sambil belajar. Oh ya, ada baiknya sudah baca Shirah Nabawiyah dulu. Biar lebih paham tokoh dan jalan ceritanya. Kalau nggak, juga nggak papa sih 🙂

Nah, yang lainnya adalah menonton Indonesia Lawak Klub dan Stand Up Comedy Indonesia (SUCI 4). Saya menyukai komedi. Sejak dulu adanya Srimulat, saya selalu berjaga di depan TV setiap Kamis malam jam 1/2 10. Ketika Srimulat redup dan stand up comedy menemukan panggungnya di Metro TV, saya pun menyukainya. Nah, momen nonton humor yang lagi ngetren ya dua itu. ILK dengan Cak Lontong, Komeng, dan kang Deny yang saya suka. Di SUCI 4, jagoan kita mah bang David dengan Betawinya yang satir sama bang Dzawin alumni pesantren yang gokil. Materi lawakannya nggak selalu lucu. Ada yang garing dan nyrempet-nyrempet bahaya. Tapi ya saya menikmatinya sebagai hiburan. Nggak gampang buat naskah untuk melawak seperti itu. Selain bakat, harus banyak riset dan pengalaman juga. Nah, bang Pandji adalah salah salah satu komik yang bisa dibilang sukses. Parameternya apa? Dia sudah tiga kali membuat konser stand up comedy. Terakhir, dia bisa melawak lebih dari 1 jam. Top lah!

Yang terakhir, saya senang menikmati program Music Everywhere-nya NET TV dari Youtube. Penyanyi yang ditampilkan OK. Dari jaman baheula sampai masa kini dan full dari Indonesia. Aransemen musiknya dikemas apik. Juga kualitas gambar HD yang wow. Saya suka penampilan utuhnya Sheila on 7, legenda dah nih grup! Tinggal nunggu Padi nih yang belum tampil. Ada Pilihanku-nya Maliq and D’Essentials, istri juga suka grup ini. Juga Gerangan Cinta-nya Java Jive, Selamat Ulang Tahun-nya Jamrud, Sepatu-nya Tulus. Ada tembang apiknya Bis Sekolah dan Bujangan-nya Eyang Koes Plus, performa full Kahitna, sama suguhannya Project Pop. Asik menikmati sambil ngerjain tugas atau melepas penat seusai kuliah. Terima kasih sudah mau mengunggah dan membiarkan perantau seperti saya menikmati kegembiraan kecil, hahah…

Mungkin aneh ya, belajar hadits, ndengerin lagu sama lawakan bisa barengan. Hahaha. Ya begitulah saya. Adanya begitu. Nggak perlu lah pencitraan ini itu, haha… Selamat menikmati Jumat penuh berkah. Terima kasih sudah mau membaca tulisan ini 🙂

Catatan dari Kaiserslautern: Pemilu

Sabtu kemarin tanggal 5 April 2014, saya dan teman-teman dari Kaiserslautern dan Saarbucken berbondong-bondong menuju Frankfurt. Ada dua tujuan kunjungan kami. Pertama, untuk mengikuti pemilu yang diadakan KJRI Frankfurt. Kedua, untuk makan-makan dan jalan-jalan 🙂 Rombongan kumpul di stasiun Kaiserslautern. Kami berangkat pukul 08.58 menuju Mannheim. Kami tidak perlu membayar kereta ke Mannheim karena sudah tercover oleh biaya semester tiket kami sebagai mahasiswa. Perjalanan ke Mannheim sekitar 1 jam. Saat transit, baru kami membeli tiket perjalanan ke Frankfurt. Kami membeli tiket grup, yaitu satu tiket untuk 5 orang. Biayanya 32 Euro, lebih murah jika dibandingkan membeli tiket perorangan. Di Mannheim, kami bertemu teman-teman dari Offenburg yang mau ikut pemilu juga.

Kami tiba di stasiun Frankfurt sekitar pukul 12. Karena kebanyakan di antara kami belum terdaftar di DPT, maka baru bisa mencoblos setelah pukul 15.00. Sambil menunggu waktunya tiba, kami pun makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran Cina Melayu. Setelah makan, meskipun baru pukul 13.30-an, kami memutuskan ke KJRI terlebih dahulu. Ternyata KJRI Frankfurt sudah ramai oleh massa. Kegiatan pemilu ini juga diramaikan oleh bazaar yang menjual makanan khas Indonesia dan teh botol 🙂 Karena perut baru saja kenyang, saya tidak membeli apapun, meskipun sangat ingin.

Beberapa teman yang datang tidak diperbolehkan untuk memilih di lokasi karena sudah dikirimi kertas suaranya lewat pos. Kebijakan ini bagus supaya kertas suaranya lebih optimal digunakan oleh para pemilih. Pukul 14.45 petugas pemilu meminta massa untuk mulai membuat antrian. Saya memutuskan untuk sholat terlebih dulu. Ternyata setelah 30 menit ditinggal sholat, antriannya sudah panjang luar biasa. Persis antri BLT di depan kantor pos 🙂 Baru sekitar 1 jam kemudian tiba giliran saya masuk ke bilik suara.

Adapun proses pemberian suaranya adalah sebagai berikut. Kami diminta mengisi form dan menyerahkan passpor kepada petugas. Setelah diinputkan datanya, baru kami dipanggil masuk ke TPS. Kami diminta duduk sambil menunggu petugas memanggil. Setelah dipanggil, petugas menunjukkan kertas suaranya. Memastikan kepada kami bahwa kertas suaranya masih utuh, tidak ada bekas coblosan atau tanda tertentu. Setelah itu, kami dipersilakan masuk ke bilik suara. Petugas meminta handphone kami ditaruh di wadah yang sudah disiapkan. Baru kami boleh mencoblos di salah satu bilik.

Antusiasme pemilih di KJRI Frankfurt pada pemilu kali ini sangat luar biasa. Bahkan meningkat jauh dibandingkan pada pemilu sebelumynya. Kebanyakan dari para pemilih kali ini adalah pelajar. Bagi saya, antusiasme ini adalah gambaran dari sebuah harapan. Bahwa teman-teman peduli dengan nasib bangsa yang lebih baik pada masa yang akan datang. Tentang partai apa yang Anda pilih, itu tergantung dari keputusan Anda. Tentu sudah mempertimbangkan banyak hal. Saya tidak berada dalam posisi diperbolehkan untuk mengarahkan ke calon tertentu. Posisi saya sekarang adalah pegawai negara. Saya ingat dulu saat Orde Baru berkuasa, banyak dari kita, juga saya, tidak sepakat karena pegawai negara diarahkan untuk berkampanye dan mendukung salah satu partai. Karena itu, ketika saya berada di posisi tersebut, saya harus konsisten dengan apa yang telah saya nyatakan.

Lewat tulisan ini, saya mengajak rekan-rekan sekalian di manapun berada untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2014 ini. Satu suara kita adalah salah satu kontribusi terhadap Indonesia yang akan datang. Pastinya kontribusi ini tidak hanya lewat pemilu. Kita bayar pajak, kita bersihkan lingkungan, kita santuni anak yatim, kita bekerja secara profesional, dan masih banyak lainnya. Semoga gusti Allah memberkahi Indonesia, memilihkan pemimpin-pemimpin yang sholeh, bersih, dan bisa membawa kebaikan bagi negeri ini. Aamiin…

Pemilu Frankfurt

Catatan dari Kaiserslautern: Serba-Serbi

Di catatan ini, saya mau bercerita random 😀

Pertama, tentang acara kumpul dengan teman-teman dari Indonesia. Media pertemuannya ada dua. Sabtu pagi kami bertemu di acara pengajian. Jumlahnya banyak dan sebagian besar masih muda, baru pada lulus SMA. Saya jadi berasa muda lagi 🙂 Biasanya pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah anak Indonesia di Kaiserslautern tidak sebanyak itu. Tahun ini adalah tahun di mana jumlah anak Indonesia paling banyak. Yang hadir di pengajian saja hampir 30an. Belum ditambah teman-teman nonmuslim yang tidak datang. Pengajian kami bulan Maret bertempat di rumah salah seorang teman dari Malaysia. Kalau di Indonesia, kita sering gontok-gontokan dengan Malaysia, di sini kami bergabung. Sama seperti teman-teman dari Pakistan dan India. Secara politik mereka bermusuhan, tetapi di sini terlihat akur-akur aja.

Seusai pengajian, acara kumpul dilanjutkan dengan grillen. Bahasa Indonesianya, bakar-bakaran. Karena acaranya bergabung dengan teman-teman nonmuslim, kami berinisiatif membawa daging ayam dan sosis yang halal. Ini yang namanya toleransi dan tenggangrasa. Nggak masalah ngumpul dan ngobrol dengan teman-teman beda agama. Asalkan ya itu tadi, kita paham dengan menjaga diri dari apa yang halal dan haram. Acaranya berlangsung meriah. Karena ya itu tadi, yang datang banyak bener. Di acara ini, yang datang lebih beraneka ragam. Ada yang sudah 15 tahun di Jerman. Ada yang lama bekerja di sini. Obrolan diakhiri jam 7 malam dengan suasana riang. Saking banyaknya jumlah kami, ketika naik bus, supirnya tanpa memeriksa kartu semester kami. Bus pun langsung penuh dan berisik khas penumpang Indonesia 🙂

Nah yang kedua ini bener-bener nggak nyangka. Teman dari India menanyakan kepada saya, 1 Euro itu berapa nilainya kalau dihitung pakai mata uang saya. Saya jawab aja, sekitar 15.000-an Rupiah lah. Dia kaget bener. Kemudian dia ulangi pertanyaannya. Ya, saya jawab yang sama juga. Kok, banyak banget nol-nya. Dia semakin penasaran. Kemudian bertanya lagi: berapa gaji saya, berapa harga mobil BMW di Indonesia, berapa inflasi per tahun, berapa harga beras 10 tahun lalu dan saat ini. Yang membuat saya lebih kaget, ketika dia membandingkan Indonesia dengan Zimbabwe. What?? Saya bilang aja, kami tidak seburuk itu. Meskipun jumlah nol-nya banyak, kehidupan kami ya alhamdulillah masih normal. Dari obrolan dengan teman saya ini, saya sepakat usulan Bank Indonesia tentang redenominasi, hehe…

Terakhir, tentang salah seorang teman saya dari Pakistan. Suatu kali saat kami belajar bahasa Jerman bersama, tiba-tiba dia minta maaf ke saya. Lho, saya jadi bingung. Terus, dia ngelanjutin. Katanya, waktu pertama kali ketemu saya, dia mengira saya ini orang Cina. Haha, saya ketawa aja dengernya. Mana ada orang Cina item kayak saya, haha… Katanya, fisik saya mirip sama mereka. Bentuk wajah dan badannya gitu, kayak orang Jepang, atau bangsa-bangsa Asia Timur. Mirip dari Hongkong, batin saya 😀 Dia membandingkan dirinya yang orang Pakistan dengan orang India. Kalo pertama kali ngeliat, pasti nggak bisa mbedain. Untuk yang ini, saya sepakat dengannya, hehe…

 

Catatan dari Kaiserslautern: Heute lerne ich Deutsch

Hallo! Mein Name ist Akhda Afif Rasyidi. Ich komme aus Indonesien. Jetzt lebe ich in Deutschland. Ich bin 28 Jahre alt. Ich spreche natürlich Indonesisch, auch gut Englisch und ein bisschen Deutsch. Ich bin Student und arbeite als Informatiker in dem Regierungsbüro. Ich bin verheiratet. Ich habe eine Frau. Ihr Name ist Syifa Kifahi. Sie ist 27 Jahre alt. Sie arbeitet als Bänker. Wir haben eine Tochter. Sie ist ein Jahr alt. Ihr Name ist Carissa. Jetzt leben sie in Indonesien. Ich habe einen Bruder. Sein Name ist Zulhanief Matsani. Er arbeitet als Steuerberater. Er ist 27 Jahre alt und ledig. Jetzt lebt er in Indonesien. Meine Eltern leben auch in Indonesien.

Meine Hobbys sind Lesen, Blogschreiben, Fußball spielen und Badminton. Keinen Kaffee trinke ich, lieber trinke ich Tee. Ich kann nicht gut singen und tanzen. Meine Wohnung ist neben meiner Universität. Ich habe einen Tisch, zwei Stühle, einen Schrank, einen Computer, keinen Fernseher, kein Radio, und ein Bett in meiner Wohnung. Ich koche Reis, Huhn, Eier oder Rindfleisch. Am Morgen esse ich manchmal Müsli. Ich esse keinen frischen Fisch hier. Ich trinke Wasser, Tee, Milch und keinen Wein oder Bier.

Ich bin in Deutschland seit Februar. Ich bin nach Frankfurt geflogen. Ich habe die S-Bahn zu dem Bahnhof Kaiserslautern genommen. Am Bahnhof in Kaiserslautern hat Steven mich abgeholt. Jetzt ist in Kaiserslautern Frühling. Jetzt lerne ich Deutsch in meiner Universität. Der Unterricht fängt um 8.30 Uhr an. Meine Lehrerin lehrt sehr gut. Ich lese, höre, und spreche Deutsch in der Klasse. Am Montag, Dienstag, Donnerstag und Freitag lerne ich Deutsch. Ich lerne nicht am Mittwoch. Am Wochenende habe ich zu Heidelberg und Speyer besucht. Mit meiner Frau und meinen Eltern telefoniere ich am Samstag oder Sonntag vormittag. Letzten Samstag habe ich meine Freunde aus Indonesien getroffen. Wir haben gegrillt.