Catatan dari Kaiserslautern: Pemilu

Sabtu kemarin tanggal 5 April 2014, saya dan teman-teman dari Kaiserslautern dan Saarbucken berbondong-bondong menuju Frankfurt. Ada dua tujuan kunjungan kami. Pertama, untuk mengikuti pemilu yang diadakan KJRI Frankfurt. Kedua, untuk makan-makan dan jalan-jalan ­čÖé Rombongan kumpul di stasiun Kaiserslautern. Kami berangkat pukul 08.58 menuju Mannheim. Kami tidak perlu membayar kereta ke Mannheim karena sudah tercover oleh biaya semester tiket kami sebagai mahasiswa. Perjalanan ke Mannheim sekitar 1 jam. Saat transit, baru kami membeli tiket perjalanan ke Frankfurt. Kami membeli tiket grup, yaitu satu tiket untuk 5 orang. Biayanya 32 Euro, lebih murah jika dibandingkan membeli tiket perorangan. Di Mannheim, kami bertemu teman-teman dari Offenburg yang mau ikut pemilu juga.

Kami tiba di stasiun Frankfurt sekitar pukul 12. Karena kebanyakan di antara kami belum terdaftar di DPT, maka baru bisa mencoblos setelah pukul 15.00. Sambil menunggu waktunya tiba, kami pun makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran Cina Melayu. Setelah makan, meskipun baru pukul 13.30-an, kami memutuskan ke KJRI terlebih dahulu. Ternyata KJRI Frankfurt sudah ramai oleh massa. Kegiatan pemilu ini juga diramaikan oleh bazaar yang menjual makanan khas Indonesia dan teh botol ­čÖé Karena perut baru saja kenyang, saya tidak membeli apapun, meskipun sangat ingin.

Beberapa teman yang datang tidak diperbolehkan untuk memilih di lokasi karena sudah dikirimi kertas suaranya lewat pos. Kebijakan ini bagus supaya kertas suaranya lebih optimal digunakan oleh para pemilih. Pukul 14.45 petugas pemilu meminta massa untuk mulai membuat antrian. Saya memutuskan untuk sholat terlebih dulu. Ternyata setelah 30 menit ditinggal sholat, antriannya sudah panjang luar biasa. Persis antri BLT di depan kantor pos ­čÖé Baru sekitar 1 jam kemudian tiba giliran saya masuk ke bilik suara.

Adapun proses pemberian suaranya adalah sebagai berikut. Kami diminta mengisi form dan menyerahkan passpor kepada petugas. Setelah diinputkan datanya, baru kami dipanggil masuk ke TPS. Kami diminta duduk sambil menunggu petugas memanggil. Setelah dipanggil, petugas menunjukkan kertas suaranya. Memastikan kepada kami bahwa kertas suaranya masih utuh, tidak ada bekas coblosan atau tanda tertentu. Setelah itu, kami dipersilakan masuk ke bilik suara. Petugas meminta handphone kami ditaruh di wadah yang sudah disiapkan. Baru kami boleh mencoblos di salah satu bilik.

Antusiasme pemilih di KJRI Frankfurt pada pemilu kali ini sangat luar biasa. Bahkan meningkat jauh dibandingkan pada pemilu sebelumynya. Kebanyakan dari para pemilih kali ini adalah pelajar. Bagi saya, antusiasme ini adalah gambaran dari sebuah harapan. Bahwa teman-teman peduli dengan nasib bangsa yang lebih baik pada masa yang akan datang. Tentang partai apa yang Anda pilih, itu tergantung dari keputusan Anda. Tentu sudah mempertimbangkan banyak hal. Saya tidak berada dalam posisi diperbolehkan untuk mengarahkan ke calon tertentu. Posisi saya sekarang adalah pegawai negara. Saya ingat dulu saat Orde Baru berkuasa, banyak dari kita, juga saya, tidak sepakat karena pegawai negara diarahkan untuk berkampanye dan mendukung salah satu partai. Karena itu, ketika saya berada di posisi tersebut, saya harus konsisten dengan apa yang telah saya nyatakan.

Lewat tulisan ini, saya mengajak rekan-rekan sekalian di manapun berada untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2014 ini. Satu suara kita adalah salah satu kontribusi terhadap Indonesia yang akan datang. Pastinya kontribusi ini tidak hanya lewat pemilu. Kita bayar pajak, kita bersihkan lingkungan, kita santuni anak yatim, kita bekerja secara profesional, dan masih banyak lainnya. Semoga gusti Allah memberkahi Indonesia, memilihkan pemimpin-pemimpin yang sholeh, bersih, dan bisa membawa kebaikan bagi negeri ini. Aamiin…

Pemilu Frankfurt

Catatan dari Kaiserslautern: Heute lerne ich Deutsch

Hallo! Mein Name ist Akhda Afif Rasyidi. Ich komme aus Indonesien. Jetzt lebe ich in Deutschland. Ich bin 28 Jahre alt. Ich spreche nat├╝rlich Indonesisch, auch gut Englisch und ein bisschen Deutsch. Ich bin Student und arbeite als Informatiker in dem Regierungsb├╝ro. Ich bin verheiratet. Ich habe eine Frau. Ihr Name ist Syifa Kifahi. Sie ist 27 Jahre alt. Sie arbeitet als B├Ąnker. Wir haben eine Tochter. Sie ist ein Jahr alt. Ihr Name ist Carissa. Jetzt leben sie in Indonesien. Ich habe einen Bruder. Sein Name ist Zulhanief Matsani. Er arbeitet als Steuerberater. Er ist 27 Jahre alt und ledig. Jetzt lebt er in Indonesien. Meine Eltern leben auch in Indonesien.

Meine Hobbys sind Lesen, Blogschreiben, Fu├čball spielen und Badminton. Keinen Kaffee trinke ich, lieber trinke ich Tee. Ich kann nicht gut singen und tanzen.┬áMeine Wohnung ist neben meiner Universit├Ąt. Ich habe einen Tisch, zwei St├╝hle, einen Schrank, einen Computer, keinen Fernseher, kein Radio, und ein Bett in meiner Wohnung. Ich koche Reis, Huhn, Eier oder Rindfleisch. Am Morgen esse ich manchmal M├╝sli. Ich esse keinen frischen Fisch hier. Ich trinke Wasser, Tee, Milch und keinen Wein oder Bier.

Ich bin in Deutschland seit Februar. Ich bin nach Frankfurt geflogen. Ich habe die S-Bahn zu dem Bahnhof Kaiserslautern genommen. Am Bahnhof in Kaiserslautern hat Steven mich abgeholt. Jetzt ist in Kaiserslautern Fr├╝hling. Jetzt lerne ich Deutsch in meiner Universit├Ąt. Der Unterricht f├Ąngt um 8.30 Uhr an. Meine Lehrerin lehrt sehr gut. Ich lese, h├Âre, und spreche Deutsch in der Klasse. Am Montag, Dienstag, Donnerstag und Freitag lerne ich Deutsch. Ich lerne nicht am Mittwoch. Am Wochenende habe ich zu Heidelberg und Speyer besucht. Mit meiner Frau und meinen Eltern telefoniere ich am Samstag oder Sonntag vormittag. Letzten Samstag habe ich meine Freunde aus Indonesien getroffen. Wir haben gegrillt.

Catatan dari Kaiserslautern: Ke Heidelberg

Seperti yang saya janjikan di tulisan sebelumnya, di tulisan ini saya akan menceritakan jalan-jalan saya ke Heidelberg. Kegiatan ini masih satu rangkaian dengan program orientasi kami. Tiap tengah atau akhir pekan ada tempat tertentu yang akan kami kunjungi. Jalan-jalannya sendiri diadakan pada hari Minggu, 1 Maret 2014. Kami diminta berkumpul di stasiun kereta Kaiserslautern (Kaiserslautern Bahnhof) pukul 8 pagi. Karena hari Minggu, tidak ada bus dari apartemen ke stasiun sebelum jam 8. Di jadwal yang saya lihat, bus terawal datang hampir pukul 9. Setelah bertanya ke teman-teman dari Indonesia, saya disarankan berjalan kaki ke stasiun, kurang lebih 30 menit dari apartemen, paling nggak 7.15 harus sudah jalan.

Alhamdulillah, saya bisa bangun lebih awal dari biasanya. Sebagai perbekalan, malam sebelumnya sudah buat nasi lebih banyak buat pagi dan siang. Sebetulnya hari Jumat sudah masak opor ayam, diniatkan buat bekal ke Heidelberg. Tapi karena perut lapar, Sabtu malam sudah habis disikat ­čśÇ Akhirnya sebagai bekal, saya goreng nugget ayam. Jam 8 kurang saya sudah sampai di stasiun. Terlihat sudah banyak teman yang datang. Di salah satu ujung stasiun, ada beberapa anak muda yang sedang mabuk. Dari perspektif saya, mabuknya mereka ‘lebih sopan’ dari pemabuk di Indonesia. Hanya bercanda sendiri, naik turun tangga nggak jelas, tidak mengganggu orang lain. Malah ketika polisi datang, mereka malah bercanda dengan polisi. Dan polisinya ngladenin! ­čśÇ

Kami berangkat naik kereta sekitar pukul 08.40an. Keretanya hampir mirip KRL, nggak terlalu besar. Mungkin karena Minggu, penumpangnya tidak banyak. Perjalanannya sekitar 1,5 jam. Karena lama, saya sempat tertidur, hehe. Sekitar 10.15 kami tiba di stasiun Heidelberg. Stasiunnya lebih besar dibandingkan di Kaiserslautern. Dari stasiun kami berjalan sekitar 20 menit ke tempat wisatanya. Setiba di lokasi, kami harus menunggu pemandu wisatanya sampai pukul 11. Rencananya, wisata akan berlangsung selama 3 jam. Jadi, saya memutuskan makan siang dulu. Perut juga sudah lapar karena sedikit sarapan dan udara yang dingin. Setelah pukul 11, wisata pun dimulai. Grup dibagi dua yaitu grup dengan pemandu berbahasa Jerman dan berbahasa Inggris. Mayoritas dari kami memilih pemandu berbahasa Inggris pastinya ­čśÇ

Perjalanan wisata dimulai dari kampus tua Heidelberg. Gedungnya memang terlihat sudah lama, tetapi masih kokoh. Ada penjara mahasiswa di situ. Dulu digunakan untuk mahasiswa-mahasiswa nakal yang dihukum kampus. Sekarang sudah tidak diaktifkan lagi. Kami juga sempat mampir ke museum Friedrich Erbert. Beliau adalah presiden pertama Jerman dan dilahirkan di Heidelberg. Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke sungai Neckar. Ada jembatan cukup panjang di situ. Pemandangan sungai dan istana terlihat bagus dari jembatan. Setelah puas berfoto-foto, kami menuju kastil yang ada di bukit. Untuk menuju ke sana, kami naik semacam kereta. Tapi jalurnya sangat pendek, hanya 2 menit perjalanan. Tujuannya memang mempermudah mencapai kastil. Jika ditempuh lewat jalan kaki, juga bisa, hanya jalurnya lumayan menanjak.

Di atas, kami melihat sebagian kota Heidelberg yang indah. Kilau pantulan cahaya matahari di sungai menambah keindahannya. Istananya cukup luas. Kami tidak hanya berkeliling, tetapi juga mendengarkan penjelasan dari pemandu wisatanya. Karena cuaca dingin yang membuat otot kaki pegal-pegal, saya tidak bisa berkonsentrasi penuh pada apa yang disampaikan pemandu wisata. Paling tidak ada beberapa gambar yang sempat saya ambil dan dapat dilihat di sini. Pukul 2 siang, wisata selesai. Kami dibebaskan makan siang atau pulang. Kereta langsung ke Kaiserslautern baru tersedia pukul 15.35. Sebagian besar rombongan sepakat langsung pulang. Kami pun menuju ke stasiun. Sambil menunggu kereta, kami makan bekal yang tersisa di tas, dan ngobrol santai. Pukul 17.25 saya tiba di apartemen dengan badan kedinginan dan pegal-pegal, khususnya kaki. Wisata pertama di Jerman, lelah dan menyenangkan. Semoga teman-teman juga dapat berkesempatan berwisata di sini. Aamiin…

Catatan dari Kaiserslautern: Hari-hari Awal

OK, di tulisan ini saya akan melanjutkan cerita sebelumnya tentang awal-awal kehadiran saya di kota baru ini. Jadi, setelah masuk ke kamar dan beristirahat, pembongkaran barang bawaan hampir 35 kilo ini pun dimulai, hehe. Sesuai dengan pesan dari istri dan orang tua, lebih baik berberat-berat bawaan dibandingkan baru cari-cari barang di tempat tujuan. Selain belum bisa dipastikan gampang memperoleh dan tersedia barangnya, selisih harganya tentu lumayan dibandingkan harga di Indonesia. Sebagai suami, anak dan menantu yang baik, saya tentu mematuhi saran ini ­čśÇ

Di dalam koper tiga barang yang paling signifikan beratnya: rice cooker, pemanas air, dan panggangan “Happy Call”. Bener-bener berjuang bawa itu koper dari bandara sampai kamar asrama. Dan nggak sia-sia ternyata karena ketiga barang itu langsung dipakai pertama kali sampai di sini. Hari-hari pertama saya makan makanan instan yang dibawa. Ada bubur ayam instan. Rasanya aneh sih. Tapi daripada saya terkapar, mau nggak mau saya makan juga ­čśÇ Diselingi sama indomie juga. Cuma nggak sering-sering. Buat jaga-jaga juga jika kondisi darurat tidak ada makanan lagi. Intinya, saya cukup berhemat untuk makan ini.

Di belakang apartemen memang ada supermarket. Tapi saya belum ada referensi barang-barang apa saja yang halal dibeli. Saya harus tanya dulu ke temen-temen dari Indonesia yang sudah sampai di sini. Di sinilah masalahnya. Akses internet di apartemen sulit saya peroleh. Koneksi wireless yang ada diproteksi oleh masing-masing pemiliknya. Yang saya denger sih bisa sharing, kita ikut iuran untuk bayar koneksi internet per bulannya. Saya pun mencoba mengetok tetangga sebelah, dan hasilnya ternyata mereka menolak untuk berbagi. Alasannya koneksinya sudah penuh. Jadilah hari-hari awal tanpa koneksi internet. Alhamdulillah masih ada pulsa di hp jadi bisa kasih kabar ke keluarga. Mahal sih. Tapi kan karena penting, mau nggak mau harus dilakukan ­čÖé

Baru hari ketiga saya bisa ketemu dengan teman dari Indonesia, dan ternyata satu gedung! Yassalaam! Itupun saya menggunakan internet dari kampus untuk mengirimkan email kepada teman saya ini. Alhamdulillah, banyak dibantu sama teman untuk informasi, khususnya tentang beli beras. Maklum, perut saya perut warteg. Belum kenyang kalau belum ada nasi ­čśÇ Baru hari keempat saya bisa makan nasi lagi. Alhamdulillah ya Allah ­čśÇ Saya juga ditunjukkan apa yang bisa dibeli dan dimakan di supermarket terdekat. Kemudian, pada akhir pekan saya dibawa ke toko Asia dan Turki di tengah kota untuk membeli SIM Card, daging ayam dan sapi halal.

Hari-hari awal ada banyak kegiatan administrasi yang harus dilakukan. Setiap mahasiswa harus buka akun bank di sini. Karena semua transaksi hampir otomatis dari bank, misalnya bayar apartemen. Setiap bulannya didebit otomatis dari rekening kita. Selain itu juga mengurus penandatanganan kontrak sewa apartemen, pendaftaran ke pemerintah kota, pembayaran asuransi, perpanjang visa. Alhamdulillah semuanya dibantu oleh staf kampus karena semua dokumen berbahasa Jerman, dan saya nggak ngerti apa-apa ­čśÇ

Selain berhadapan dengan berbagai dokumen, kegiatan awal diisi dengan kursus bahasa Jerman. Saya tergabung di kelas pemula, A1.1. Pengalaman pertama belajar bahasa Jerman. Asik juga belajar hal baru. Meskipun melelahkan karena setiap hari, tapi cara pengajarannya interaktif. Relatif tidak membosankan. Nanti kita tunggu hasilnya tengah April. Mudah-mudahan tidak mengecewakan, hehe. Di sela-sela kuliah bahasa, ada jadwal tengah atau akhir pekan ke beberapa lokasi wisata. Hari minggu kemarin kami ke Heidelberg. Insya Allah saya tuliskan di catatan berikutnya ya ­čśÇ

Catatan dari Kaiserslautern

Yap, melalui tulisan ini saya akan berbagi tentang perjalanan yang saya tempuh dari┬áJakarta ke Kaiseslautern. Jadi, keberangkatan ini dalam rangka niat saya untuk┬ábelajar di Technische Universtat Kaiserslautern (TUK), jurusan Ilmu Komputer.┬áSebetulnya saya ingin menggunakan pesawat Garuda, cuma karena untuk jurusan ke┬áFrankfurt tidak tersedia dan duit pas-pasan, maka saya memilih terbang menggunakan┬áMalaysia Airlines. Dan berangkatlah saya pada tanggal 15 Februari 2014 dari bandara┬áSoekarno Hatta. Alhamdulillah keberangkatannya bisa diantarkan oleh keluarga. Oh┬áya, istri dan anak tidak saya bawa kali ini. Insya Allah, rencananya tahun 2015┬ábisa dibawa ke sana. Mohon didoakan biar berkumpul lagi. Aamiin ­čÖé

Di tiket pesawat yang saya beli tertulis berangkat pukul 19.50 WIB. Tapi ketika┬ácheck-in sekitar pukul 17.45, petugas Malaysia Airlines bilang jam berangkat saya┬ádimajukan, ikut pesawat yang berangkat 18.25. Alasannya pesawat 19.50 mengalami┬áketerlambatan dan waktunya tidak akan cukup untuk mengejar pesawat saya berikutnya┬ádari Kuala Lumpur-Frankfurt pukul 23.59 waktu Malaysia. Petugasnya juga bilang,┬ábahwa tinggal menunggu saya untuk berangkat. WOW! OK, maka saya terburu-buru┬ámengejar pesawat. Nggak mungkin keluar lagi untuk berpamitan. Maka lewat telepon┬ásaya meminta maaf ke istri dan orang tua, sambil berjalan tergesa-gesa menuju┬ápesawat. Dan tepat ketika saya tiba di gate, para penumpang sudah dipanggil untuk┬ámasuk ke pesawat. Ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan, sekaligus momen┬áperpisahan yang menyedihkan ­čśŽ

Pesawat sampai di Malaysia tepat waktu. Kemudian saya mencari gate berikutnya. Bandara KLIA ini kualitasnya memang di atas bandara Soekarno Hatta untuk saat ini. Untuk berpindah gate, disediakan kereta cepat. Fasilitas internet di bandara kenceng. Ruangan gate-nya juga modern. Pesawat ke Frankfurt berangkat tepat waktu. Kursi pesawat tidak terlalu penuh. Kursi saya terdiri dari 5 lajur. Hanya terisi oleh saya dan seorang lagi, dan kami duduk di tiap ujung. Perjalanan ke Bandara Frankfurt menempuh 12 jam. Karena lelah, saya memutuskan untuk tidur. Ada dua kali makan berat dan sekali makan ringan yang diberikan dalam perjalanan ini. Nggak perlu khawatir kelaparan.

Sekitar pukul 06.30 waktu Frankfurt, 6 jam lebih lambat dari WIB, pesawat mendarat. Sebelum keluar, jaket tebal yang disimpan di tas saya pakai. Dari informasi pilot, suhu luar sekitar 6 Celcius. Dingin bener dah! Setelah mengambil koper, saya mencari info bagaimana sampai ke stasiun Kaiserslautern. Pihak kampus menjanjikan akan menjemput di lokasi itu. Kata petugas informasi, saya harus keluar bandara dan naik shuttle bus menuju terminal 1. Baru selangkah keluar bandara, saya merasakan betul suhu 6 Celcius itu seperti apa. Buru-buru, sarung tangan saya kenakan juga. Oh ya, total barang bawaan saya ada tas punggung, koper kecil seberat 6,5 kilo, dan koper besar seberat 28 kilo! Repot juga sendirian dan membawa beban sebanyak dan seberat itu.

Bus datang dan bergegas masuklah saya dengan jinjingan seberat itu. Udara dingin ini bener-bener bikin nggak kuat, meskipun badan sudah ditutup berlapis. Maklum, saya anak pesisir. Terbiasa hidup di suhu 30an Celcius. Turun dari bus, saya bingung. Semua petunjuk dalam bahasa Jerman. Nggak ngerti. Terus, saya bertanya lagi ke seseorang yang menurut saya adalah petugas. Dia menunjuk saya harus naik ke atas tangga. Alhamdulillah, ada eskalator. Nggak perlu grudag-grudug bawa kopernya. Dengan berbekal nekat, saya baca aja petunjuk-petunjuk yang ada. Buat orang awam seperti saya, petunjuk-petunjuk yang ada sangat jelas. Itu kelebihan negara Eropa menurut saya. Wisatawan atau para pengunjung tidak perlu takut tersesat asalkan membaca petunjuk yang ada dengan tepat.

Sempat kebingungan selama kurang lebih 5 menit, saya memutuskan berhenti, beristirahat, dan melihat sekitar lebih teliti. Kemudian, saya bertanya kepada penjaga toko roti dan ditunjukkan kantor informasi stasiun yang ternyata tepat di depan tempat istirahat saya tadi! Mungkin karena mulai lelah dan efek kedinginan di luar, konsentrasi membuyar ­čśÇ Kemudian saya diberitahu petugas, untuk menuju stasiun Kaiserslautern, saya naik kereta yang berangkat 8.53 dan akan sampai 10.21. Tiketnya 38 Euro. Nama keretanya DB Bahn. Itu yang tertulis di tiketnya. Keretanya cepat dan nyaman. Pinggiran jalan kereta banyak tanah kosong dan lahan pertanian. Saya heran, suasana di luar kereta sepi betul. Baru saya diberitahu kemudian oleh staf kampus bahwa di Jerman, hari Minggu adalah “hari sepi nasional”. Hampir tidak ada pertokoan dan aktivitas.

Untuk menuju Kaiserslautern, kereta yang saya naiki dari bandara Frankfurt, transit di stasiun Mannheim. Di Mannheim, saya berpindah kereta di rel yang berbeda. Stasiun Mannheim ini tidak bersahabat bagi pendatang baru. Eskalatornya hanya ada┬ádi beberapa jalur. Dan jalur yang saya tuju, tidak ada eskalatornya! Ada lebih dari 20 anak tangga. Nggak usah dibayangkan betapa capek dan pegelnya ­čśÇ Saya tiba di stasiun Kaiserslautern tepat waktu. Segera saya mencari telepon umum untuk menghubungi pihak kampus yang menjanjikan akan menjemput saya. Sekitar 20 menit kemudian datang seorang bule muda yang ramah menyapa saya. Karena sudah laper dan pegel, saya biarkan dia membantu membawa koper 28 kilo *evil-smirk*

Namanya Steven. Umurnya masih muda, sekitar 30an tahun. Di stasiun saya sempat membeli air mineral. Sempat bingung ketika ditanya oleh penjualnya, mau yang bersoda atau biasa. Steven menjelaskan bahwa biasanya orang Jerman kalau beli air mineral di toko pasti yang bersoda. Saya pilih air biasa aja, cari aman. Dari stasiun saya dibawa ke kampus dulu. Steven mempersilakan saya untuk menelepon ke orang rumah, gratis lewat telpon kampus. Oke nih prosedurnya, memberikan kepastian bagi keluarga yang ditinggal. Saya laporan ke istri, sekitar pukul 11.30an waktu Jerman, jadi sekitar 17.30an di Jakarta. Dari kampus, diantarlah saya ke apartemen. Dari luar, gedungnya nampak tua, tapi kokoh. Kamar saya ada di lantai 3. Eits, ternyata hitungan lantainya dimulai dari 0. So, riilnya kamar saya ada di lantai 4, hahah.

Sementara sampai di sini dulu ceritanya. Nanti akan saya sambung di tulisan-tulisan berikutnya. Wilkommen in Deutschland! Danke schon, sudah mau membaca ­čśÇ