Kerupuk Gado-Gado

Bahkan saya tidak tahu namanya. Seorang pedagang gado-gado di dekat kosan saya. Umurnya setengah baya. Keberadaannya belum menjadi perhatian yang menarik bagi saya. Hingga pada suatu waktu, ketika saya sedang menikmati gado-gadonya saya tersipu malu.

Kerupuk yang ada di piring saya sudah habis saat itu. Saya pikir, oh ya sudah. Sudah habis kerupuknya. Selesai. Tapi, tiba-tiba beliau menawarkan kepada saya kerupuk tambahan. “Silakan Mas, ditambah kerupuknya”. Saya terkejut. Dalam hati bergumam, kalau menawarkan sekali seperti ini sih biasa. Namun, saya kembali terkejut ketika jatah kerupuk inipun habis, dia datang kembali. Menawarkan kerupuk tambahan lagi.

Continue reading