Mencari Keberkahan

Bagi banyak orang, bukti bahwa Allah menyayanginya diartikan dengan diberikan baginya kebahagiaan dan kelebihan. Biasanya parameternya materi. Tidak salah, sebetulnya. Namun, tak sepenuhnya tepat.

Harta, jika ia dimiliki jiwa yang bersih, maka akan bermanfaat keberadaannya. Kalau kata salah seorang guru saya, salah satu tanda keberkahan orang kaya adalah ia akan membeli kendaraan yang daya muatnya banyak. Karena dengan kapasitas itu, bisa ia mengajak tetangganya atau meminjamkan untuk acara masyarakat atau syiar Islam.

Anda bisa setuju atau tidak dengan pernyataan guru saya itu. Tapi, fakta membuktikan, keberkahan justru datang dari memberi. Rezeki tak disangka, datang tiba-tiba saat derma kita perbanyak.

Kunci utamanya adalah rasa syukur. Ada dan tidaknya materi bukan jadi masalah utama. Kata Ustadz Yusuf Mansur, apapun kondisinya, doanya cuma satu: alhamdulillah.

Bulan Ramadhan sekarang bisa menjadi media pengasah kesyukuran kita. Mumpung masih awal. Semoga tidak terlambat. Insya Allah.

Salah Kaprah Ber-Ramadhan

Mau menuliskan ulang, berbagi #ngaji kemarin dari twitter saya, @akhdaafif. Semoga bermanfaat 😀

malem-malem ketemu lagi dengan #ngaji nih 🙂 semoga Allah masih kasih kita keberkahan dalam kesehatan. aamiin…

bentar lagi insya Allah masuk ke bulan Ramadhan. sudah siap beramal di dalamnya? #ngaji

nggak cuman puasa aja lho. kalo Ramadhannya masih cuma mikir puasa dari Subuh sampe Maghrib, ya sayang banget #ngaji
Continue reading

Mengapa 30 Agustus?

Ada beberapa orang yang menanyakan kepada saya tentang pilihan mengapa saya memilih merayakan idul fitri pada 30 Agustus, berbeda dengan keputusan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Paling tidak ada 4 alasan berikut ini yang dapat saya ungkapkan.

1. Wujudul Hilal
Dari berbagai metode yang ada, saya cenderung sepakat dengan metode wujudul hilal. Artinya, berapapun tinggi hilal, sepanjang hilal sesuai dengan hisab sudah berada di atas ufuk (lebih dari 0 derajat), maka sudah masuk bulan baru pada malam itu.

Continue reading