Catatan dari Kaiserslautern: Jalan-Jalan di Jerman

Salah satu hal yang saya nikmati dari tinggal di Kaiserslautern atau Jerman adalah nyaman dan terjangkaunya transportasi umum. Di TU Kaiserslautern, tempat saya kuliah, ada fasilitas tiket semester yang terintegrasi dengan kartu mahasiswa. Hanya dengan menunjukkan kartu mahasiswa, saya bisa gratis naik semua bus lokal di Kaiserslautern. Bahkan tidak hanya di Kaiserslautern saja, kartu mahasiswa bisa membawa saya bertualang gratis hingga ke Heidelberg, Mannheim, Ludwigshafen, Zweibrucken, hingga Wurzburg di Bayern. Ya namanya juga paket mahasiswa, yang bisa gratis ya transportasi bus dan kereta lokal, tidak termasuk ICE (kereta super cepatnya Jerman).

Rahasianya ada di penyelenggara transportasi publik di Rheinland-Pfalz, salah satu negara bagian di Jerman tempat saya tinggal. Namanya VRN (Verkehrsverbund Rhein-Neckar). Daerah yang dikelolanya adalah Baden-Württemberg, Rhineland-Pfalz dan Hesse di barat daya Jerman. Saya sertakan petanya supaya ada gambaran area yang bisa dijangkau gratis oleh kartu mahasiswa yang saya miliki:

vrn area

Lumayan luas kan? Nah, yang saya tahu, area gratis ini tergantung dari kebijakan kerjasama masing-masing kampus. Detailnya saya kurang memahami. Intinya sih, mahasiswa yang kampusnya beda, bisa jadi beda area yang bisa gratis dikunjungi dengan bus dan kereta.

Selain fasilitas kartu mahasiswa untuk transportasi gratis, Jerman juga sangat ramah bagi mereka yang senang jalan-jalan. Ada fasilitas Schönes-Wochenende-Ticket (Happy Weekend Ticket), yaitu tiket akhir pekan di Sabtu atau Minggu untuk jalan-jalan di seluruh area Jerman. Tiket ini harganya 44 euro. Maksimal berlaku untuk 5 orang. Semua kereta dan bus lokal bisa kita gunakan. Kalau dihitung-hitung, setiap orang hanya bayar 8,8 euro. Terjangkau kan?

Tiket ini juga yang kami gunakan untuk jalan-jalan pengajian pekan lalu ke Aachen. Kami berangkat dari Kaiserslautern pukul 05.21 dan sampai kembali sekitar pukul 23.30. Untuk perjalanan di kereta saja bolak-balik perlu waktu 11-12 jam. Nikmat betul lah perjalanan sejauh itu ditempuh dalam satu hari. Belum lagi, medan jalannya ke Dreiländer Punkt (perbatasan tiga negara: Jerman, Belanda, Belgia) luar biasa, menanjak ketika berangkat, menurun ketika pulang, disertai hujan deras saat perjalanan.

Jalan-jalan di Jerman tidak selalu mahal. Dengan sering mencari informasi, kita bisa mendapatkan jalan-jalan murah, bahkan gratis. Kalau infrastruktur di Indonesia sudah baik, banyak kereta lokal, dan dibangun jalur-jalur yang menjangkau banyak daerah, akibatnya tiap akhir pekan banyak orang bisa jalan-jalan di sekitar daerah tinggalnya. Ekonomi daerah mungkin juga bisa lebih hidup dari sektor pariwisata. Mudah-mudahan harapan ini ke depan bisa diwujudkan.

Catatan dari Kaiserslautern: Lebaran

Menjalani puasa Ramadhan dan berhari raya ‘Idul Fitri tanpa keluarga, ditemani anak istri, memang terasa betul bedanya. Rasa kangen sedikit terobati ketika mengobrol dengan istri di Whatsapp, melihat foto Carissa yang semakin pintar tingkahnya. Kalau Carissa dan bundanya lagi senggang, tidak repot, happy, dan koneksi bagus, baru kami bertiga bisa ngobrol langsung lewat video call Line. Ya risiko LDR setelah menikah dan punya anak ya begini. Kami berdua tahu risikonya dan memahaminya bahkan sebelum kami menikah. Tapi kenyataan sering lebih pahit dari apa yang kita bayangkan, bukan? Hahahah…. Ya, mudah-mudahan Allah kuatkan keluarga kami yang berjauhan, memberikan keberkahan atas apa-apa yang sedang keluarga kami jalani. Aamiin…

Berlebaran pertama kali di Jerman pastinya berbeda dengan di tanah air. Malam takbiran terasa sepi. Saya sendiri takbiran di kamar, ditemani udara dingin malam dari jendela. Kalau capek, istirahat sebentar, minum atau nyemil. Kemudian, takbiran dilanjutkan sendiri. Malam itu, saya tidak bisa tidur. Soalnya tidur sorenya terlalu lama 😀 Juga cemas jika besok terlambat bangun untuk sholat ‘id. Maklum, 18 jam puasa telah mengacaukan sebagian jam tidur dan aktivitas saya.  Alhamdulillah, esok paginya saya tidak terlambat sholat ‘id. Saya memilih sholat ‘id di masjid Arab yang ada di Kaiserslautern. Jadwal sholat ‘id dimulai pukul 08.30. Tetapi saya sudah datang pukul 08.00. Suasana masjid masih cukup sepi. Sambutan ‘Ied Mubarak dari pengurus masjid menyapa hangat kami di pintu masuk.

Di dalam masjid, tidak ada takbiran seperti halnya di Indonesia. Masing-masing jamaah melantunkan takbir lirih. Saya pun mengikuti tradisi yang ada. Daripada risiko takbiran dengan lantang, malah berabe diliatin orang-orang semasjid 😀 Yang menarik perhatian saya adalah, sebelum dimulainya sholat ‘ied, panitia memberikan piagam penghargaan dan hadiah kepada pengurus yang telah berpartisipasi pada kegiatan Ramadhan di masjid. Hal seperti ini belum ada di Indonesia. Mungkin bisa diterapkan untuk memberikan motivasi kepada pemuda supaya lebih giat beraktivitas di masjid, khususnya pada bulan Ramadhan.

Pelaksanaan sholat ‘ied juga berbeda dengan di Indonesia. Makmum tidak mengikuti imam melakukan takbir tambahan pada rakaat pertama dan kedua. Jadi, ketika imam bertakbir, makmum ya diam saja. Karena di Indonesia terbiasa ikut takbir tambahan, ya saya lakukan saja. Baru setelah saya mencari informasinya, memang terdapat beberapa mazhab yang tidak mensyariatkan makmum untuk mengikuti takbir tambahan sholat ‘id. Alhamdulillah nambah ilmu lagi. Jadi jangan buru-buru bilang sesat ya kalau ada yang berbeda. Dicari dulu informasinya, siapa tahu memang ada mazhab yang menyebutkan demikian. Di Indonesia, kita banyak mengikuti pendapat Imam Syafii. Padahal, ada 3 mazhab lain yang juga diakui oleh kalangan ulama, dan menjadi rujukan juga bagi umat Islam di negara lain di dunia.

Selesai sholat ‘id, muslim Indonesia yang tinggal di Kaiserslautern sibuk berbelanja. Rencananya kami akan mengadakan acara makan-makan. Menunya memang tidak ada ketupat, opor, sambel goreng ati. Sangat repot untuk menyiapkan menu masakan itu. Sebagai gantinya, kami menyiapkan barbeque. Setiap pengunjung diharuskan membayar iuran 2 euro, kalau mau lebih ya diterima dengan senang hati 😀 Acara cukup rame, dihadiri sekitar lebih dari 25 orang, dan tidak semuanya muslim. Acara ini memang terbuka bagi siapa saja. Yang penting konfirmasi kehadiran dan bayar iuran, hahah… Beberapa foto sempat saya ambil dan saya posting di sini. Pulang acara, badan masuk angin dan kepala kliyengan. Mungkin karena cuaca dingin dan saya tidak memakai jaket. Penyakit bengek saya dari dulu, ya masuk angin. Bahkan di Jerman pun bisa masuk angin, hahah… Alhamdulillah setelah dibawa tidur, esok paginya badan segar kembali 😀

Sebagian besar dari kita sering keliru memahami hari raya ‘idul fitri sebagai momen penyucian diri, kembali kepada fitrah. Jika dilihat dari maknanya, ‘idul fitri terdiri dari dua kata. Kata pertama, ‘idul dalam bahasa Arab terdiri dari ‘ain, ya, dal. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Hari Raya”. Adapun, fitri dalam bahasa Arab terdiri dari fa, tha, dan ra. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Makan” atau “Makanan”. Jadi secara bahasa “Idul Fitri artinya adalah “Hari Raya Makan”. Tidaklah keliru jika salah satu sunnah Rasul sebelum sholat ‘id adalah makan besar, untuk membedakan dengan saat puasa selama Ramadhan yang baru saja berlalu. Karena itu, arti zakat fitr adalah dengan memberi makanan pokok kepada 8 golongan. Supaya pada “Hari Raya Makan” tersebut tidak ada lagi orang kelaparan dan bisa bersuka cita makan. Mungkin terdengar aneh bagi kita, tapi faktanya demikian. Inilah salah kaprah luar biasa dalam masyarakat kita.

Juga tentang kebiasaan berpuasa 6 hari di bulan Syawal, jangan kaget jika ada yang menyatakan bahwa puasa itu tidak ada dalilnya. Karena mazhab Imam Malik memang terang-terangan memakruhkan amalan tersebut. Jangan terburu-buru menyatakan Imam Malik sesat dan tidak tahu dalil. Kitab beliau Al Muwatho adalah karya terbesar dari ulama pada zamannya, karya terbaik sebelum munculnya Hadits Shahih Bukhori Muslim. Imam Malik menilai hadits ahad (tunggal) adanya puasa tersebut kalah kuat dibandingkan amalan penduduk Madinah saat itu. Mungkin bagi kita yang belum tahu, salah satu rujukan mazhab Maliki adalah amalan penduduk Madinah. Jika ada hadits tunggal shahih dan penduduk Madinah beramal berbeda dengan hadits tersebut, maka yang diambil pendapat terkuat adalah amalan ahli Madinah. Pada kasus puasa Syawal ini, penduduk Madinah tidak mengerjakannya. Namun, jika kita mengerjakannya pun tidaklah mengapa. Selain Imam Malik, semua ulama mazhab menghukumi sunnah puasa 6 hari di bulan Syawal. Hanya Imam Malik yang memakruhkannya.

Di akhir tulisan ini, saya mengucapkan selamat Hari Raya ‘Idul Fitri, selamat makan-makan. Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amal ibadahku dan kita semua. Semoga juga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan berikutnya. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin…

rujukan informasi:
1. Takbir Tambahan Sholat ‘Id
2. Makna Idul Fitri
3. Puasa Syawal Makruh?

Catatan dari Kaiserslautern: Pemilu

Sabtu kemarin tanggal 5 April 2014, saya dan teman-teman dari Kaiserslautern dan Saarbucken berbondong-bondong menuju Frankfurt. Ada dua tujuan kunjungan kami. Pertama, untuk mengikuti pemilu yang diadakan KJRI Frankfurt. Kedua, untuk makan-makan dan jalan-jalan 🙂 Rombongan kumpul di stasiun Kaiserslautern. Kami berangkat pukul 08.58 menuju Mannheim. Kami tidak perlu membayar kereta ke Mannheim karena sudah tercover oleh biaya semester tiket kami sebagai mahasiswa. Perjalanan ke Mannheim sekitar 1 jam. Saat transit, baru kami membeli tiket perjalanan ke Frankfurt. Kami membeli tiket grup, yaitu satu tiket untuk 5 orang. Biayanya 32 Euro, lebih murah jika dibandingkan membeli tiket perorangan. Di Mannheim, kami bertemu teman-teman dari Offenburg yang mau ikut pemilu juga.

Kami tiba di stasiun Frankfurt sekitar pukul 12. Karena kebanyakan di antara kami belum terdaftar di DPT, maka baru bisa mencoblos setelah pukul 15.00. Sambil menunggu waktunya tiba, kami pun makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran Cina Melayu. Setelah makan, meskipun baru pukul 13.30-an, kami memutuskan ke KJRI terlebih dahulu. Ternyata KJRI Frankfurt sudah ramai oleh massa. Kegiatan pemilu ini juga diramaikan oleh bazaar yang menjual makanan khas Indonesia dan teh botol 🙂 Karena perut baru saja kenyang, saya tidak membeli apapun, meskipun sangat ingin.

Beberapa teman yang datang tidak diperbolehkan untuk memilih di lokasi karena sudah dikirimi kertas suaranya lewat pos. Kebijakan ini bagus supaya kertas suaranya lebih optimal digunakan oleh para pemilih. Pukul 14.45 petugas pemilu meminta massa untuk mulai membuat antrian. Saya memutuskan untuk sholat terlebih dulu. Ternyata setelah 30 menit ditinggal sholat, antriannya sudah panjang luar biasa. Persis antri BLT di depan kantor pos 🙂 Baru sekitar 1 jam kemudian tiba giliran saya masuk ke bilik suara.

Adapun proses pemberian suaranya adalah sebagai berikut. Kami diminta mengisi form dan menyerahkan passpor kepada petugas. Setelah diinputkan datanya, baru kami dipanggil masuk ke TPS. Kami diminta duduk sambil menunggu petugas memanggil. Setelah dipanggil, petugas menunjukkan kertas suaranya. Memastikan kepada kami bahwa kertas suaranya masih utuh, tidak ada bekas coblosan atau tanda tertentu. Setelah itu, kami dipersilakan masuk ke bilik suara. Petugas meminta handphone kami ditaruh di wadah yang sudah disiapkan. Baru kami boleh mencoblos di salah satu bilik.

Antusiasme pemilih di KJRI Frankfurt pada pemilu kali ini sangat luar biasa. Bahkan meningkat jauh dibandingkan pada pemilu sebelumynya. Kebanyakan dari para pemilih kali ini adalah pelajar. Bagi saya, antusiasme ini adalah gambaran dari sebuah harapan. Bahwa teman-teman peduli dengan nasib bangsa yang lebih baik pada masa yang akan datang. Tentang partai apa yang Anda pilih, itu tergantung dari keputusan Anda. Tentu sudah mempertimbangkan banyak hal. Saya tidak berada dalam posisi diperbolehkan untuk mengarahkan ke calon tertentu. Posisi saya sekarang adalah pegawai negara. Saya ingat dulu saat Orde Baru berkuasa, banyak dari kita, juga saya, tidak sepakat karena pegawai negara diarahkan untuk berkampanye dan mendukung salah satu partai. Karena itu, ketika saya berada di posisi tersebut, saya harus konsisten dengan apa yang telah saya nyatakan.

Lewat tulisan ini, saya mengajak rekan-rekan sekalian di manapun berada untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2014 ini. Satu suara kita adalah salah satu kontribusi terhadap Indonesia yang akan datang. Pastinya kontribusi ini tidak hanya lewat pemilu. Kita bayar pajak, kita bersihkan lingkungan, kita santuni anak yatim, kita bekerja secara profesional, dan masih banyak lainnya. Semoga gusti Allah memberkahi Indonesia, memilihkan pemimpin-pemimpin yang sholeh, bersih, dan bisa membawa kebaikan bagi negeri ini. Aamiin…

Pemilu Frankfurt

Catatan dari Kaiserslautern: Serba-Serbi

Di catatan ini, saya mau bercerita random 😀

Pertama, tentang acara kumpul dengan teman-teman dari Indonesia. Media pertemuannya ada dua. Sabtu pagi kami bertemu di acara pengajian. Jumlahnya banyak dan sebagian besar masih muda, baru pada lulus SMA. Saya jadi berasa muda lagi 🙂 Biasanya pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah anak Indonesia di Kaiserslautern tidak sebanyak itu. Tahun ini adalah tahun di mana jumlah anak Indonesia paling banyak. Yang hadir di pengajian saja hampir 30an. Belum ditambah teman-teman nonmuslim yang tidak datang. Pengajian kami bulan Maret bertempat di rumah salah seorang teman dari Malaysia. Kalau di Indonesia, kita sering gontok-gontokan dengan Malaysia, di sini kami bergabung. Sama seperti teman-teman dari Pakistan dan India. Secara politik mereka bermusuhan, tetapi di sini terlihat akur-akur aja.

Seusai pengajian, acara kumpul dilanjutkan dengan grillen. Bahasa Indonesianya, bakar-bakaran. Karena acaranya bergabung dengan teman-teman nonmuslim, kami berinisiatif membawa daging ayam dan sosis yang halal. Ini yang namanya toleransi dan tenggangrasa. Nggak masalah ngumpul dan ngobrol dengan teman-teman beda agama. Asalkan ya itu tadi, kita paham dengan menjaga diri dari apa yang halal dan haram. Acaranya berlangsung meriah. Karena ya itu tadi, yang datang banyak bener. Di acara ini, yang datang lebih beraneka ragam. Ada yang sudah 15 tahun di Jerman. Ada yang lama bekerja di sini. Obrolan diakhiri jam 7 malam dengan suasana riang. Saking banyaknya jumlah kami, ketika naik bus, supirnya tanpa memeriksa kartu semester kami. Bus pun langsung penuh dan berisik khas penumpang Indonesia 🙂

Nah yang kedua ini bener-bener nggak nyangka. Teman dari India menanyakan kepada saya, 1 Euro itu berapa nilainya kalau dihitung pakai mata uang saya. Saya jawab aja, sekitar 15.000-an Rupiah lah. Dia kaget bener. Kemudian dia ulangi pertanyaannya. Ya, saya jawab yang sama juga. Kok, banyak banget nol-nya. Dia semakin penasaran. Kemudian bertanya lagi: berapa gaji saya, berapa harga mobil BMW di Indonesia, berapa inflasi per tahun, berapa harga beras 10 tahun lalu dan saat ini. Yang membuat saya lebih kaget, ketika dia membandingkan Indonesia dengan Zimbabwe. What?? Saya bilang aja, kami tidak seburuk itu. Meskipun jumlah nol-nya banyak, kehidupan kami ya alhamdulillah masih normal. Dari obrolan dengan teman saya ini, saya sepakat usulan Bank Indonesia tentang redenominasi, hehe…

Terakhir, tentang salah seorang teman saya dari Pakistan. Suatu kali saat kami belajar bahasa Jerman bersama, tiba-tiba dia minta maaf ke saya. Lho, saya jadi bingung. Terus, dia ngelanjutin. Katanya, waktu pertama kali ketemu saya, dia mengira saya ini orang Cina. Haha, saya ketawa aja dengernya. Mana ada orang Cina item kayak saya, haha… Katanya, fisik saya mirip sama mereka. Bentuk wajah dan badannya gitu, kayak orang Jepang, atau bangsa-bangsa Asia Timur. Mirip dari Hongkong, batin saya 😀 Dia membandingkan dirinya yang orang Pakistan dengan orang India. Kalo pertama kali ngeliat, pasti nggak bisa mbedain. Untuk yang ini, saya sepakat dengannya, hehe…

 

Catatan dari Kaiserslautern: Heute lerne ich Deutsch

Hallo! Mein Name ist Akhda Afif Rasyidi. Ich komme aus Indonesien. Jetzt lebe ich in Deutschland. Ich bin 28 Jahre alt. Ich spreche natürlich Indonesisch, auch gut Englisch und ein bisschen Deutsch. Ich bin Student und arbeite als Informatiker in dem Regierungsbüro. Ich bin verheiratet. Ich habe eine Frau. Ihr Name ist Syifa Kifahi. Sie ist 27 Jahre alt. Sie arbeitet als Bänker. Wir haben eine Tochter. Sie ist ein Jahr alt. Ihr Name ist Carissa. Jetzt leben sie in Indonesien. Ich habe einen Bruder. Sein Name ist Zulhanief Matsani. Er arbeitet als Steuerberater. Er ist 27 Jahre alt und ledig. Jetzt lebt er in Indonesien. Meine Eltern leben auch in Indonesien.

Meine Hobbys sind Lesen, Blogschreiben, Fußball spielen und Badminton. Keinen Kaffee trinke ich, lieber trinke ich Tee. Ich kann nicht gut singen und tanzen. Meine Wohnung ist neben meiner Universität. Ich habe einen Tisch, zwei Stühle, einen Schrank, einen Computer, keinen Fernseher, kein Radio, und ein Bett in meiner Wohnung. Ich koche Reis, Huhn, Eier oder Rindfleisch. Am Morgen esse ich manchmal Müsli. Ich esse keinen frischen Fisch hier. Ich trinke Wasser, Tee, Milch und keinen Wein oder Bier.

Ich bin in Deutschland seit Februar. Ich bin nach Frankfurt geflogen. Ich habe die S-Bahn zu dem Bahnhof Kaiserslautern genommen. Am Bahnhof in Kaiserslautern hat Steven mich abgeholt. Jetzt ist in Kaiserslautern Frühling. Jetzt lerne ich Deutsch in meiner Universität. Der Unterricht fängt um 8.30 Uhr an. Meine Lehrerin lehrt sehr gut. Ich lese, höre, und spreche Deutsch in der Klasse. Am Montag, Dienstag, Donnerstag und Freitag lerne ich Deutsch. Ich lerne nicht am Mittwoch. Am Wochenende habe ich zu Heidelberg und Speyer besucht. Mit meiner Frau und meinen Eltern telefoniere ich am Samstag oder Sonntag vormittag. Letzten Samstag habe ich meine Freunde aus Indonesien getroffen. Wir haben gegrillt.

Catatan dari Kaiserslautern: Ke Trier

Pada Sabtu, 8 Maret lalu kembali saya mengikuti kegiatan jalan-jalan yang diadakan kampus. Kali ini lokasi tujuannya adalah kota Trier. Kalau dilihat dari peta, lokasi kota ini ada di barat daya Jerman, dekat dengan Luxemburg dan Perancis. Seperti biasa, kami berkumpul di stasiun Kaiserslautern. Untuk menghemat biaya bus, saya berjalan kaki dari apartemen. Tiket bus lumayan mahal, 2 Euro sekali naik. Kalau pindah bus, ya harus bayar lagi. Tapi nanti kalau saya sudah memperoleh kartu mahasiswa, naik bus gratis di area Kaiserslautern sekitarnya. Kami naik kereta pukul 9. Dari papan informasi stasiun, waktu tempuh ke Trier adalah 2 jam. Aktivitas di kereta saya isi dengan tidur selama 1 jam. Baru duduk langsung pulas. Istilahnya pelor, nempel langsung molor 😀 Karena pagi tadi saya terbangun lebih awal dan tidak bisa tidur lagi. Akhirnya beberes kamar dan masak buat sarapan sekaligus bekal perjalanan.

Dari stasiun Trier, kami berjalan kaki ke lokasinya. Nggak lama, cuma 10 menit lah. Kami langsung disambut gerbang kuno buatan Romawi bernama Porta Nigra. Dulu sewaktu Romawi berkuasa, Trier pernah dijadikan sebagai ibukotanya. Ada 4 gerbang yang dibangun di sekeliling kota. Tiga lainnya sudah hancur, tinggal Porta Nigra yang utuh dan orisinal. Salah satu penyebabnya adalah warga yang hidup setelah Romawi tumbang yang mengambil puing-puing gerbang tersebut untuk dijadikan bahan rumah dan sebagainya. Mengapa Porta Nigra tidak ikut diambili puing-puing bangunannya oleh warga? Dulu Porta Nigra selain difungsikan sebagai gerbang, juga digunakan sebagai gereja. Karena itulah, masyarakat sekitar tidak berani membongkarnya. Selain itu, Trier pernah dibombardir tentara sekutu saat Perang Dunia. Kata pemandu wisatanya, semua bangunan hancur kecuali Porta Nigra. Sekelilingnya sudah roboh dan berkeping-keping. Akibat serangan itulah yang menyebabkan warna batu pada gerbang Porta Nigra saat ini menjadi hitam, yaitu bekas kepulan asap. Bisa dibayangkan sehancur apa Trier saat itu.

Setelah melewati Porta Nigra, pemandu wisatanya membawa kami menyusuri pusat keramaian. Dia menyebutnya pasar. Mungkin karena banyak toko dan keramaian orang di situ. Jadi pembeli kedai makanan di situ, disediakan kursi di jalanan terbuka. Mereka makan, minum bir atau anggur sambil menikmati kehangatan matahari. Trier tak sedingin Kaiserslautern. Saat kami ke situ, matahari cerah sekali. Wajarlah jalanan terlihat ramai oleh orang. Matahari memang menjadi barang langka di belahan bumi utara atau selatan. Menurut pemandu wisata, kota akan lebih ramai lagi kalau musim panas tiba. Wisatawan dari Luxemburg dan Perancis berbondong-bondong ke Trier.

Trier pernah melahirkan salah satu tokoh dunia yang masih dikagumi sampai saat ini. Namanya Karl Marx. Ada yang belum tahu? Googling aja 😀 Kemudian, kami diajak berkeliling. Ada beberapa peninggalan Romawi yang masih ada. Sebagian lainnya sudah direhabilitasi. Ada patung-patung dan gereja tua. Bagi yang tidak mau pegal berjalan, bisa menggunakan mobil seperti kereta-keretaan. Detail gambarnya dapat dilihat di album foto ini. Tidak lama kami diajak berkeliling, hanya 2 jam. Setelah itu, kami makan siang. Kami baru menuju ke stasiun pukul 3 sore. Ternyata tidak ada kereta langsung ke Kaiserslautern. Kami harus naik kereta ke Saarbrucken, transit di situ. Perjalanan kereta menempuh waktu 1 jam. Seperti biasa, saya langsung tertidur 😀 Kereta ke Kaiserslautern baru ada jam 6 sore. Kami pun menunggu 1 jam, dan dipersilakan pimpinan rombongan keluar stasiun. Ternyata kota ini lebih ramai dari Kaiserslautern. Di depan stasiun langsung ada mall. Baru kali ini saya melihat mall di Jerman 😀 Karena bingung mau apa, saya pun menemani teman dari India yang mau cari sepatu bola di mall itu. Ada kaos bola di toko itu. Saya pun melihat harganya. Wow, satu kaos bola orisinal bisa lebih dari 80 Euro ternyata. Alamak!

Jam 6 kami berkumpul lagi di stasiun Saarbrucken. Kereta pun tiba. Kami bergegas masuk. Kali ini saya tidak tidur di kereta 😀 Niatnya ingin menikmati perjalanan petang dari kereta. Senjanya indah. Sayang saya tidak sempat memotretnya. Jam 7 kami sampai di stasiun Kaiserslautern. Kami pun kembali ke apartemen masing-masing. Di tulisan berikutnya, akan saya ceritakan pengalaman Sabtu ini di acara kumpulnya orang Indonesia yang tinggal di Kaiserslautern. Terima kasih sudah menyimak 😀

Catatan dari Kaiserslautern: Ke Heidelberg

Seperti yang saya janjikan di tulisan sebelumnya, di tulisan ini saya akan menceritakan jalan-jalan saya ke Heidelberg. Kegiatan ini masih satu rangkaian dengan program orientasi kami. Tiap tengah atau akhir pekan ada tempat tertentu yang akan kami kunjungi. Jalan-jalannya sendiri diadakan pada hari Minggu, 1 Maret 2014. Kami diminta berkumpul di stasiun kereta Kaiserslautern (Kaiserslautern Bahnhof) pukul 8 pagi. Karena hari Minggu, tidak ada bus dari apartemen ke stasiun sebelum jam 8. Di jadwal yang saya lihat, bus terawal datang hampir pukul 9. Setelah bertanya ke teman-teman dari Indonesia, saya disarankan berjalan kaki ke stasiun, kurang lebih 30 menit dari apartemen, paling nggak 7.15 harus sudah jalan.

Alhamdulillah, saya bisa bangun lebih awal dari biasanya. Sebagai perbekalan, malam sebelumnya sudah buat nasi lebih banyak buat pagi dan siang. Sebetulnya hari Jumat sudah masak opor ayam, diniatkan buat bekal ke Heidelberg. Tapi karena perut lapar, Sabtu malam sudah habis disikat 😀 Akhirnya sebagai bekal, saya goreng nugget ayam. Jam 8 kurang saya sudah sampai di stasiun. Terlihat sudah banyak teman yang datang. Di salah satu ujung stasiun, ada beberapa anak muda yang sedang mabuk. Dari perspektif saya, mabuknya mereka ‘lebih sopan’ dari pemabuk di Indonesia. Hanya bercanda sendiri, naik turun tangga nggak jelas, tidak mengganggu orang lain. Malah ketika polisi datang, mereka malah bercanda dengan polisi. Dan polisinya ngladenin! 😀

Kami berangkat naik kereta sekitar pukul 08.40an. Keretanya hampir mirip KRL, nggak terlalu besar. Mungkin karena Minggu, penumpangnya tidak banyak. Perjalanannya sekitar 1,5 jam. Karena lama, saya sempat tertidur, hehe. Sekitar 10.15 kami tiba di stasiun Heidelberg. Stasiunnya lebih besar dibandingkan di Kaiserslautern. Dari stasiun kami berjalan sekitar 20 menit ke tempat wisatanya. Setiba di lokasi, kami harus menunggu pemandu wisatanya sampai pukul 11. Rencananya, wisata akan berlangsung selama 3 jam. Jadi, saya memutuskan makan siang dulu. Perut juga sudah lapar karena sedikit sarapan dan udara yang dingin. Setelah pukul 11, wisata pun dimulai. Grup dibagi dua yaitu grup dengan pemandu berbahasa Jerman dan berbahasa Inggris. Mayoritas dari kami memilih pemandu berbahasa Inggris pastinya 😀

Perjalanan wisata dimulai dari kampus tua Heidelberg. Gedungnya memang terlihat sudah lama, tetapi masih kokoh. Ada penjara mahasiswa di situ. Dulu digunakan untuk mahasiswa-mahasiswa nakal yang dihukum kampus. Sekarang sudah tidak diaktifkan lagi. Kami juga sempat mampir ke museum Friedrich Erbert. Beliau adalah presiden pertama Jerman dan dilahirkan di Heidelberg. Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke sungai Neckar. Ada jembatan cukup panjang di situ. Pemandangan sungai dan istana terlihat bagus dari jembatan. Setelah puas berfoto-foto, kami menuju kastil yang ada di bukit. Untuk menuju ke sana, kami naik semacam kereta. Tapi jalurnya sangat pendek, hanya 2 menit perjalanan. Tujuannya memang mempermudah mencapai kastil. Jika ditempuh lewat jalan kaki, juga bisa, hanya jalurnya lumayan menanjak.

Di atas, kami melihat sebagian kota Heidelberg yang indah. Kilau pantulan cahaya matahari di sungai menambah keindahannya. Istananya cukup luas. Kami tidak hanya berkeliling, tetapi juga mendengarkan penjelasan dari pemandu wisatanya. Karena cuaca dingin yang membuat otot kaki pegal-pegal, saya tidak bisa berkonsentrasi penuh pada apa yang disampaikan pemandu wisata. Paling tidak ada beberapa gambar yang sempat saya ambil dan dapat dilihat di sini. Pukul 2 siang, wisata selesai. Kami dibebaskan makan siang atau pulang. Kereta langsung ke Kaiserslautern baru tersedia pukul 15.35. Sebagian besar rombongan sepakat langsung pulang. Kami pun menuju ke stasiun. Sambil menunggu kereta, kami makan bekal yang tersisa di tas, dan ngobrol santai. Pukul 17.25 saya tiba di apartemen dengan badan kedinginan dan pegal-pegal, khususnya kaki. Wisata pertama di Jerman, lelah dan menyenangkan. Semoga teman-teman juga dapat berkesempatan berwisata di sini. Aamiin…