Haji Macam Apa?

Ritual haji sudah berlangsung bertahun-tahun. Ratusan ribu hingga jutaan orang telah berbondong-bondong menunaikan salah satu kelengkapan agama ini. Jika kita lebih cermat mengamati, dalam pandangan saya pribadi, telah terjadi degradasi kualitas ibadah haji saat ini dibandingkan generasi sebelumnya.

Mari kita tengok kembali beberapa bagian dalam galeri sejarah kita. Saat rombongan kaum Minang kembali dari berhaji, mereka melakukan revolusi sosial, dengan memurnikan kembali tauhid kaumnya. Bahkan menimbulkan pula perlawanan sengit terhadap penjajah Belanda. Sejarah mencatatnya sebagai perlawanan kaum Paderi.

Kemudian, prosesi perlawanan Ahmad Dahlan saat mendobrak tradisi takhayul, bid’ah, dan khurafat di lingkungannya setelah berhaji dan belajar di Makkah. Demikian pula dengan Hasyim Asyari. Beliau mendirikan pesantren Tebu Ireng, salah satu pesantren besar yang melahirkan banyak ulama dan pejuang untuk negeri ini.

Puluhan tahun yang lalu, jumlah jamaah haji tentu masih sangat sedikit. Transportasi menuju ke Saudi pun hanya bisa ditempuh lewat jalan laut dan memerlukan waktu yang lama. Saat ini, tiap tahun ratusan ribu jamaah haji berangkat. Tak perlu berminggu-minggu mencapai Saudi karena dapat ditempuh tak lebih dari 12 jam dengan pesawat terbang.

Namun, tampaknya kuantitas tak sebanding dengan kualitas. Banyaknya jamaah haji tak mampu menjadi katalisator amal untuk negeri ini. Bisa jadi karena saat berhaji, wisata dan oleh-oleh menjadi buruan utama dibandingkan memperhatikan prosesi ritual hajinya. Memburu cindera mata seolah jauh lebih penting dibandingkan memahami rukun, wajib, dan mabrurnya haji.

Mungkin juga karena gelaran haji lebih karena mencari embel-embel atau panggilan haji/hajjah. Seperti sebuah cerita yang saya dengar, bahwa seseorang yang sudah haji marah-marah karena ada orang yang memanggilnya dengan tidak menyertakan gelar hajinya! Kelatahan ini sepertinya menular saat kita pun ikut-ikutan menuliskan atau mengucapkan gelar akademis di lembar undangan, juga di seremoni-seremoni nonakademis.

Tentu saja saya tidak menganjurkan masyarakat Indonesia untuk tak pergi berhaji. Saya hanya merenung, sepertinya ada yang keliru dengan ritual haji kita. Dan mungkin pula dengan ritual sholat, zakat, dan ibadah kita lainnya.

Advertisements

2 thoughts on “Haji Macam Apa?

  1. Agus Salim kampanye kemerdekaan Indonesia saat pergi Haji. Tercatat di buku Muhammad Asad (Leopold Weiss), Road to Mecca. Makanya ketika Indonesia berdiri dan pemerintahan pertama terbentuk setelah Maklumat No. X, Sutan Sjahrir memilih dia karena jaringannya banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s