Catatan dari Kaiserslautern: Akhir yang Baik

Yang saya yakini, salah satu paramater untuk menilai seseorang itu baik atau tidak, lihat saja ketika yang bersangkutan meninggal dunia. Lihat jumlah dan kualitas orang-orang yang berta’ziah, ikut menyolatkan di masjid, juga yang mengantarkan jenazah menuju pemakaman.

Pada hari Sabtu dua pekan lalu, saya menyaksikan sebuah keluarga dan seorang perempuan yang akan meninggalkan Kaiserslautern, kembali ke tanah air. Pada sesi pamitan di grup pengajian, bergantian warga muslim di sini yang memberikan kesan. Seluruh kesan yang disampaikan adalah kesan-kesan kebaikan. Tampak raut sedih, kecewa, juga ada tangisan yang mengiringi.

Sosok keluarga ini menjadi pelopor pengajian Kaiserslautern. Tak hanya itu, mereka juga berperan sebagai kakak dan orangtua bagi anak-anak yang kuliah atau sekolah di Studienkolleg. Berkali-kali direpotkan dengan anak-anak yang datang ke rumah, sekedar minta makan karena malas masak atau nggak punya uang. Mereka juga menjadi tempat curhat, cerita, dan diskusi topik-topik pribadi, hidup di Jerman, hingga politik kenegaraan; dari hal-hal penting hingga remeh temeh. Adapun sosok perempuan ini dikenal sangat ramah. Dari kesan-kesan yang terlontar, tergambar bahwa beliau mau menolong adik-adiknya yang mempersiapkan kuliah di sini, punya referensi tempat makan yang oke punya. Buat saya, beliau luar biasa, sanggup tidak pulang ke Indonesia sejak pertama kali sampai di Jerman, dan sekitar lebih dari 4 tahun. Tidak bertemu fisik dengan keluarga selama itu bukan hal mudah. Hanya orang-orang yang kuat mentalnya yang bisa menjalaninya.

Saat ini, mereka sudah sampai di tanah air dan mungkin sedang melampiaskan rasa kangennya pada banyak hal, pada keluarga, tetangga, sahabat, makanan. Kami-kami yang masih berjuang di sini hanya bisa membantu kepulangannya seadanya, juga memberikan sedikit kenang-kenangan, sebagai bukti ikatan persaudaraan yang semoga tidak luntur meskipun terpisah oleh jarak.

Mereka telah menuai apa yang telah ditanam saat tinggal di sini. Kesan baik, perhatian, tangis tidak bisa diberikan jika tiada manfaat yang mereka berikan untuk orang lain selama ada di Kaiserslautern. Saya yakin begitu juga nanti bagi saya juga Anda. Apa yang kita tanam selama kita hidup, akan terungkap ketika kita meninggalkan dunia ini. Kita tidak tahu jatah umur kita di dunia akan sampai kapan. Kita pun tak tahu akan meninggal dalam kondisi apa kita nanti. Maka, berbekallah. Dan sebaik-baik bekal adalah taqwa (QS Al Baqarah ayat 197).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s