Renungan Syawal

Entah harus bersikap apa setelah Ramadhan tahun ini selesai. Haruskah sedih? Ataukah bergembira? Sedih karena berpisah dengan bulan yang begitu mulia. Bulan penuh barokah. Bulan yang menjadi latihan terbaik bagi jiwa-jiwa yang mengaku bahwa di dalam hatinya, meskipun cuma sebiji atom, percaya bahwa Allah itu ada beserta segala kekuasaan-Nya. Sedih karena ternyata ternyata ada tuntutan di bulan-bulan berikutnya untuk bisa membuktikan hasil pelatihan Ramadhan.

Apakah tilawah yang dulu berjuz-juz di Ramadhan akan terus berlanjut di Syawal ini? Akankah infaq ataupun shadaqoh itu masih tetap istiqomah? Yakinkah penjagaan diri dari berprasangka itu menjadi salah satu jalan hidup kita? Ataukah semuanya itu cuma sekedar numpang lewat? Cuma sebulan. Hanya ketika Tuhan menjanjikan begitu banyak balasan, sedangkan di bulan lain tidak?

Ah, begitu kapitalisnya kita seandainya demikian. Dengan Tuhan pun kita berhitung. Makhluk macam apa kita jadinya? Kalau begitu, tidak jauh bedalah kita dengan keledai di mana dia terperosok jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Bahkan mungkin kita lebih hina darinya karena ternyata Ramadhan ini bukanlah Ramadhan yang kedua dalam hidup kita. Sudah berkali-kali. Bahkan mungkin berpuluh kali.

Dan bisa jadi pascaRamadhan tahun ini bagi kita adalah kegembiraan. Karena toh, Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk melebur sekian banyaknya dosa yang telah kita lakukan. Karena Tuhan begitu welas asihnya dengan menjadikan kita sempat beramal, mudah-mudahan dengan sebaik-baik amal, di bulan itu. Dan Dia ingin supaya kita dapat membuktikan kepada-Nya bahwa kita akan menjadi hamba yang bisa menerapkan pelajaran Ramadhan di sebelas bulan lainnya.

Kalau kemudian di bulan Syawal ini, aktivitas sebelum Ramadhan kita ternyata tidak ada bedanya dengan sekarang, kemungkinan besar ada yang salah dengan pemahaman kita terhadap Ramadhan itu. Kalau faktanya keseharian kita lebih diisi dengan banyak aktivitas yang tidak bermanfaat, apalagi sia-sia, sepertinya perlu ada evaluasi besar, sebenernya sudah ngapain aja kita di Ramadhan kemaren. Seandainya kualitas kesalehan kita setelah Ramadhan ini masih sebatas pada kesalehan individu dan belum beranjak menuju kesalehan sosial, lupakan saja Ramadhan yang lalu.

Segera perbanyaklah istighfar karena bisa jadi hati kita sudah tertutup. Atau mungkin ditutup. Karena kesombongan di hati kita nampaknya sudah terlalu besar. Menyangka kebahagiaan yang kita terima adalah rahmat. Padahal, Tuhan sedang meng-istidraj-kan kita. Mengulur pelan-pelan. Semakin lalainya kita, semakin diulurlah benang istidraj itu. Dan suatu masa, ditariknyalah semua dalam sekejap. Dan kita hanya terpaku. Terlambat menyadari. Semuanya telah sirna. Astaghfirullah…

Advertisements

3 thoughts on “Renungan Syawal

  1. benar-benar sebuah renungan..
    bahwa Ramadhan bukanlah musim yang membuat kita “melebihkan waktu” untuk ibadah-ibadah kita..

    namun ia adalah suatu tiket karantina bagi kita untuk mendapatkan hadiah sebuah pakaian bernama “Taqwa” yang akan terus dipakai sampai kapanpun hendaknya..

    Terima kasih sudah mengingatkan.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s