Catatan dari Kaiserslautern: Serba-Serbi

Di catatan ini, saya mau bercerita random ūüėÄ

Pertama, tentang acara kumpul dengan teman-teman dari Indonesia. Media pertemuannya ada dua. Sabtu pagi kami bertemu di acara pengajian. Jumlahnya banyak dan sebagian besar masih muda, baru pada lulus SMA. Saya jadi berasa muda lagi ūüôā Biasanya pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah anak Indonesia di Kaiserslautern tidak sebanyak itu. Tahun ini adalah tahun di mana jumlah anak Indonesia paling banyak.¬†Yang hadir di pengajian saja hampir 30an. Belum ditambah teman-teman nonmuslim yang tidak datang.¬†Pengajian¬†kami bulan Maret bertempat di rumah salah seorang teman dari¬†Malaysia. Kalau di Indonesia, kita sering gontok-gontokan dengan Malaysia, di sini kami bergabung. Sama seperti teman-teman dari Pakistan dan India. Secara politik mereka bermusuhan, tetapi di sini terlihat akur-akur aja.

Seusai pengajian, acara kumpul dilanjutkan dengan¬†grillen.¬†Bahasa Indonesianya, bakar-bakaran. Karena acaranya bergabung dengan teman-teman nonmuslim, kami berinisiatif membawa daging ayam dan sosis yang halal. Ini yang namanya toleransi dan tenggangrasa. Nggak masalah ngumpul dan ngobrol¬†dengan teman-teman beda agama. Asalkan ya itu tadi, kita paham¬†dengan¬†menjaga diri dari apa yang halal dan haram. Acaranya berlangsung meriah. Karena ya itu tadi, yang datang banyak bener. Di acara ini, yang datang lebih beraneka ragam. Ada yang sudah 15 tahun di Jerman. Ada yang lama bekerja di sini. Obrolan diakhiri jam 7 malam dengan suasana riang. Saking banyaknya jumlah kami, ketika naik bus, supirnya tanpa memeriksa kartu semester kami. Bus pun langsung penuh dan berisik khas penumpang Indonesia ūüôā

Nah yang kedua ini bener-bener nggak nyangka. Teman dari India menanyakan kepada saya, 1 Euro itu berapa nilainya kalau dihitung pakai mata uang saya. Saya jawab aja, sekitar 15.000-an Rupiah lah. Dia kaget bener. Kemudian dia ulangi pertanyaannya. Ya, saya jawab yang sama juga. Kok, banyak banget nol-nya. Dia semakin penasaran. Kemudian bertanya lagi: berapa gaji saya, berapa harga mobil BMW di Indonesia, berapa inflasi per tahun, berapa harga beras 10 tahun lalu dan¬†saat ini. Yang membuat saya lebih¬†kaget,¬†ketika dia membandingkan Indonesia dengan Zimbabwe. What?? Saya bilang aja, kami tidak seburuk itu. Meskipun jumlah¬†nol-nya banyak, kehidupan kami ya alhamdulillah masih normal. Dari¬†obrolan dengan teman saya¬†ini, saya sepakat usulan Bank Indonesia tentang redenominasi, hehe…

Terakhir, tentang salah seorang teman saya dari Pakistan. Suatu kali saat kami belajar bahasa Jerman bersama, tiba-tiba dia minta maaf ke saya. Lho, saya jadi bingung. Terus, dia ngelanjutin. Katanya, waktu pertama kali ketemu saya, dia mengira saya ini orang Cina. Haha, saya ketawa aja dengernya. Mana ada orang Cina item kayak saya, haha… Katanya, fisik saya mirip sama mereka. Bentuk wajah dan badannya gitu, kayak orang Jepang, atau bangsa-bangsa Asia Timur. Mirip dari Hongkong, batin saya ūüėÄ Dia membandingkan dirinya yang orang Pakistan dengan orang India. Kalo pertama kali ngeliat, pasti nggak bisa mbedain. Untuk yang¬†ini, saya sepakat dengannya, hehe…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s